Thursday, September 17, 2015

Serutan Es Langit

Sudah lama sekali rasanya sejak mimpi itu kali pertama muncul. Seperti benang yang baru dipintal, perlahan ia pun menjelma menjadi rajutan awal.

Aku adalah seseorang yang tanpa sadar menerima tamu tak diundang itu, atau mungkin dalam alam bawah sadarku, aku memang menginginkannya hadir.

Entahlah.. namun, berada di tempat yang damai dengan sekeliling berwarna putih adalah salah satu bagiannya.

Berkeliling dengan sepeda atau berwudhu ditemani hawa dingin menusuk. Bermain di atas air yang membeku. Membuat boneka dari serutan es langit. Bahkan dengan hanya membayangkannya saja tubuhku bergetar, mata ini panas berair, "Allahku.. kalau memang boleh, izinkan aku merasakan sensasi itu.."

Sejatinya aku bukanlah si penggila dingin. Aku sulit berada di tempat-tempat dengan suhu ekstrim. Terlalu dingin adalah salah satunya. Tapi aku memimpikan berada disisinya. Aku memimpikan itu jika memang itulah yang membuatku kuat. Dan benarlah, aku kuat.

Dengan melihat kembali semua siluet masa depan itu, aku kembali kuat.
Hidup ini amat membosankan dan membuang-buang waktu tanpa adanya (yang kusebut) tamu alam bawah sadar itu. Tanpa adanya si proposal masa depan.
Ah, aku bingung mengatakannya, tapi begitulah sebutanku.

Serutan es langit itu salah satunya, entah alasannya apa.
"Allahku.. kalau memang boleh, izinkan aku terus merajut benang mimpi ini, termasuk merasakan sensasi itu. Putih, dingin, dan entahlah.. dan, cukuplah kelak Engkau yang menentukan, akankah benang-benang ini akan menjadi kain lalu potongan pakaian, atau bentuk yang lain.."

16 September 2015,
masih ditempat yang sama, dimana salju tak pernah singgah..

#MalamNarasiOWOP  

No comments:

Post a Comment