I Tag You (OWOP 3): from Julia Puji to Kenti Lestari
Keyword: ✨ kambing ✨
Ini adalah hari dimana esok umumnya umat muslim akan melangsungkan Hari Raya Idhul Adha. Cuaca seperti biasanya, cerah ceria. Tak nampak setetes air mencoba turun dari langit. Entah langit mulai lelah, entah pula bumi yang mulai resah. Entahlah..
Dan pagi itu, adalah si Edmund dan Peter mengalami keresahan yang luar biasa. Sebenarnya mereka tahu pasti, yang hidup pastilah akan mati. Begitupun dengan mereka. Apalagi kematian yang sebentar lagi akan menjemput, datang dengan amat terhormat pada mereka.
Mereka sudah cukup tahu, banyak belajar. Mereka bahkan memang sudah menanti-nanti saat ini. Dimana para kambing akan disembelih dengan menyebut namaNya. Mereka sudah tahu sejarah akan hal itu.
Namun tetap saja, meski begitu, entah mengapa sedari tadi mereka resah gelisah.
"Allahku.. inilah waktuku, dimana aku bisa segera bertemu langsung denganMu disana. Tentu dengan izinMu." gumam Edmund
Peter yang mendengar pun menimpali, "Ed, sebentar lagi kematian akan menjemput kita. Kita akan berpisah, dan entah apakah kelak akan bertemu, kita tak tahu pasti."
"Setiap yang hidup pasti akan mati, Pe. Manusia, tumbuhan, termasuk kita sebagai hewan. Lagipula, memang apa tujuan kita hidup? Seperti manusia, hanya untuk beribadah kepadaNya kan? Jadi, mati dengan cara terhormat yang sebentar lagi akan menjemput pun termasuk bagian dari ibadah tersebut. Berdo'a saja kelak ada tempat yang lebih indah yang akan menampung kita" Ed menjawab dengan seulas senyum manis khas kambing.
"Kau benar. Tapi entah mengapa aku merasa kita sama-sama sedang resah, Ed. Apa yang membuatmu terlihat begitu? Kalau aku, aku takut, apa bekalku untuk menghadapNya sudah cukup? Kita bukanlah manusia yang bisa melakukan ini-itu dalam beribadah.." Pe mulai murung
"Hahahaa.. kau juga benar, Pe. Aku memang sedang resah. Sama seperti, kau. Aku juga merasa, kita ini hanyalah hewan biasa. Aku malu. Entahlah.. aku tak tahu pasti apa resahku. Aku berharap, semoga Tuhan kita menerima kita nanti. Setiap langkah kita, setiap embikan dzikir kita, setiap persaudaraan kita."
"Ya. Allah Maha Baik, semoga. Semoga pula kematian kita membawa keberkahan. Kelak dapat sebagai sarana pengantar nama-nama yang akan dikalungkan di leher kita. Mengantarkan padaNya. Dan, oh ayolah! Kita tak harus resah lagi, kawan!" Pe mencoba merangkul Ed, namun apalah daya, kaki depannya tak sampai.
"Hahahaa.. benar sekali. Baiklah, sambil menunggu esok, ayo kita habiskan saja detik-detik akhir ini dengan baik. Berdzikir dan barangkali berselfie? Hehehee.."
Setelah mengobati keresahan mereka dengan berdialog pendek, merekapun mencoba menghabiskan sisa hidup mereka dengan sebaik-baiknya. Dan berharap ada seseorang yang diam-diam mengabadikan momen mereka dalam kamera 13MP bahkan lebih. Karena mereka tau pasti, mereka tak memiliki smartphone, pun sulit kaki mereka memegangnya.
Rabu, 23 September 2015,
Masih ditempat yang sama, dimana ada banyak kambing berjejer menunggu esok hari.
No comments:
Post a Comment