Waktu berjalan begitu cepat..
Aku bahkan belum melakukan apa-apa. Waktu seperti pisau yang perlahan menguliti. Sakit. Perih.
Aku selalu mencari tahu, "Tanggal berapakah hari ini?" di setiap harinya. Dan aku mulai bergetar, aku belum melakukan apa-apa.
Aku selalu mencari tahu, "Tanggal berapakah hari ini?" di setiap harinya. Dan aku mulai bergetar, aku belum melakukan apa-apa.
Semua harapan ini, semua targetan ini, rencana, cita-cita. Aku begitu khawatir kelak hanya menjadi angan-angan. Berakhir hanya menjadi coretan-coretan di kertas yang lalu terbuang.
Entahlah, rasa-rasanya masa depan seperti gua gelap yang akan aku masuki. Aku bingung, aku takut. Akankah kelak ada pintu? Akankah ada cahaya yang menuntunku?
Waktu berjalan begitu cepat..
Terkadang memang begitu, terkadang pula ia begitu lambat.
Aku begitu takut, setiap hari aku hanya menghabiskannya tanpa banyak berbuat. Dan aku seperti kekurangan untuk perihal yang lain.
Entahlah.. aku seperti dikejar-kejar, entah oleh apa dan siapa. Apakah oleh semua keinginan ini? Tapi.. haruskah impian layaknya anjing menggonggong yang mengejar-ngejarku? Aku lelah..
Tapi lelahku, aku tahu pasti, tetap belum banyak yang kuhasilkan.
Allahku..
Mungkin memang aku masihlah bayi. Aku masih belum bisa berdiri. Merangkak pun begitu sulit rasanya. Ingin meraih sesuatu didepan sana namun gerak kaki begitu lamban.
Allahku..
Ternyata aku pun masihlah begitu polos. Aku begitu naif akan dunia ini. Dangkal sekali pengetahuanku atasnya. Dan terkadang aku lelah memelajarinya.
Allahku..
Mungkinkah setiap orang pernah merasakan hal yang sama? Ya, mungkin ini wajar, mungkin hanya aku saja yang terlalu awam.
Allahku..
Lagi-lagi aku merasa memang seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Gerbang itu akhirnya terbuka! Seperti bebas namun nyatanya lebih banyak ikatan tak terlihat. Aku harus lebih pintar, aku harus cerdas!
Allahku..
Ya.. ternyata memang hanya Engkaulah tempatku kembali. Tempatku mengeluhkan semua ini. Ternyata benarlah tangis bayi-bayi itu, dalam pikir tangisnya.. dunia ini mungkin tak akan seaman tak senyaman rahim ibu. Dan boleh jadi memang benar begitu.
Namun, biar bagaimanapun, singgah di dunia adalah salah satu karuniaMu. Tempat yang fana ini banyak memberikan pelajaran. Tempat dimana aku merasakan cinta terhadapMu, juga makhlukMu. Tempat dimana impian terbangun. Tempat dimana aku menuliskan ini.
Aku harus bersyukur.
Aku harus selalu bersyukur.
Allahku..
Dan seharusnya aku tak perlu merisaukan apa yang ada dan akan ada di depan sana. Selalu ada Engkau sebagai penuntun dan pelindungku. Selalu ada Engkau sebagai cahaya di gelapnya gua. Selalu ada Engkau sebagai pintu keluar.
Aku harus bersyukur..
Aku harus selalu bersyukur..
Melakukan yang terbaik, sabar dan ikhlas..
Dan seharusnya aku tak perlu merisaukan apa yang ada dan akan ada di depan sana. Selalu ada Engkau sebagai penuntun dan pelindungku. Selalu ada Engkau sebagai cahaya di gelapnya gua. Selalu ada Engkau sebagai pintu keluar.
Aku harus bersyukur..
Aku harus selalu bersyukur..
Melakukan yang terbaik, sabar dan ikhlas..
~ 17 September 2015 ~
masih ditempat yang sama, dimana yang kuingat, sudah genap delapan bulan beliau pergi
No comments:
Post a Comment