Kau tahu,
Kemarin-marin aku seperti pencuri dikejar massa.
Aku seperti anak kehilangan induknya.
Aku seperti si tukang berhutang yang harus segera mengembalikan hutangnya.
Ya, aku gelisah. Kemarin lalu aku benar-benar gelisah.
Aku seperti sedang menghitung hari-hari terakhirku.
Seperti seorang peminjam yang harus segera mengembalikan pinjamannya, se-tak ingin apapun itu.
Aku merasa, waktu semakin lama semakin menikam tajam. Menyayat. Menguliti.
Aku seperti seorang terdakwa menunggu vonis ajalnya.
Aku seperti seorang calon pengantin menunggu hari pernikahannya.
Aku seperti..
Aku merasa, seakan mentari tak sudi lagi bersinar untukku.
Rembulan semakin enggan menyapaku.
Bintang-gemintang bersembunyi.
Pelangi tak ditemukan lagi.
Angin berhembus malas.
Awan tak seelok biasanya.
Hujan begitu enggan bertemu tanah.
Mereka meinggalkanku dalam gelisah menanti kematian.
Dan tibalah saatnya..
Aku merasa, inilah hari akhirku.
Ah tidak, inilah hari awalku.
Aku merasa, bahwa mungkin inilah saatnya aku kembali.
Mungkin misiku telah tuntas, atau akan ada yang menuntaskan.
Aku merasa, mungkin sore ini adalah sore terakhir aku sempat melihat mentari.
Terakhir aku sempat bercanda dengan angin.
Terakhir aku bermain-main dengan dunia.
Dan dalam waktu dekat, sosok dengan jubah itu pasti akan datang.
Perlahan mencabut lembaran benang napas ini.
Entah dengan satu tarikan menyakitkan, atau lambat yang tetap pula menyakitkan..
~ Selamat bertambah usia untuk diriku. Selamat berkurangnya pasir dalam jam kehidupan. Selamat menantikan sosok itu. Selamat untuk terus menyiapkan bekal perjalanan selanjutnya. Hidupmu tak akan lama lagi. Se-tak ingin apapun itu, kau akan segera pulang menghadapNya.. ~
Cilebut, 11 Agustus 2015,
di tanah yang sama seperti sembilan belas tahun yang lalu, dimana mentari datang dari timur dan pulang ke arah barat,
No comments:
Post a Comment