Saturday, January 18, 2014

Film Panjang "CALAMITY – HOUSE OF THE DEAD"


SCENE 1
            Seorang gadis yang bernama Afifah tengah berlari-lari ketakutan di hutan. Gadis itu tersandung dan jatuh terguling-guling dan pingsan. Beberapa saat kemudian, datang seorang pria yang membawa pedang dan mengidentifikasi gadis yang pingsan itu. Pria itu pun membawanya ke sebuah ruangan ditempat lain, dan gadis itu dibakar.

SCENE 2
            Di suatu siang yang terik di sebuah kedai penjual kebab, Fabian tengah asyik menunggu pesanannya.
Fabian             : “Bang, pesen 2 bungkus ya”
Tukang kebab  : “Iya siap!”
Setelah selesai, Ia segera meluncur kerumahnya dengan mobil silvernya. Dan betapa terkejutnya Fabian, saat hendak menuju kamar orang tuanya, Fabian mendapati orang tuanya tengah bertengkar dan ibunya ditampar oleh ayahnya. Dengan segala perasaan kalut itu, Fabian tak sengaja menjatuhkan bungkusan kebab yang tadi dipesannya dan segera menuju kamarnya.
            Fabian begitu kesal karena memang orang tuanya seringkali bertengkar. Fabian pun melampiaskan emosinya itu dengan melemparkan semua buku-bukunya di atas meja belajarnya. Tiba-tiba Fabian tersadar akan satu hal, Ia ingat temannya, Nafis yang tinggal dan kuliah di Bogor. Fabian segera menelpon Nafis yang tengah bersama teman-temannya di kampusnya, di Bogor.

Fabian             : “Halo, Nafis?”
Nafis                : “Iya, Ian, ini gue,Tumben lu nelepon. Ada apa?”
Fabian             : “Fis, gue bisa minta bantuan lu ga?”
Nafis                : “Bantuan apa Ian? Sok aja!”
Fabian             : “Gini Fis, gue pengen pindah kuliah ke Bogor, ke tempat lu deh. Yaa, sekalian gue tinggal disana”
Nafis                : “Lu, mau pindah ke Bogor? Emang kenapa Ian?”
Fabian             : “Em.. nanti deh gue cerita. Bantuin gue ya Fis buat daftar kuliah”
Nafis                : “Oh oke aja, entar gue bantu kok. Rencana nya kapan kesini?”
Fabian             : “Insya Allah besok Fis”
Nafis                : “Oh gitu? Yaokelah gue tunggu yaa”
Fabian             : “Iyasip Fis. Thanks ya”
Nafis                : “Oke”

SCENE 3
Di suatu malam di rumah Fabian. Fabian menemui ibunya yang tengah bersantai di ruang tamu.
Fabian             : “Ma, aku mau ngomong sesuatu”
Ibunya             :  “Ngomong apa?”
Fabian             : “Ma, ku mau pindah ke Bogor?”
Ibunya             : “Hah, pindah? Maksudnya?”
Fabian             : “Iya Ma, aku mau tinggal disana”
Ibunya             : “Emang kenapa? Terus kuliah kamu gimana?”
Fabian             : “Yaa.. aku juga pindah kuliah. Ya abis aku capek Ma, ngeliat Mama sama Papa berantem terus”
Ibunya             : “Haah.. terus, nanti kamu mau tinggal dimana Iaan? Emang kamu bisa, ngurus diri kamu sendiri?”
Fabian             : “Ma, aku udah gede mah. Aku bisa kok ngurus diri aku sendiri, kalau urusan tinggal. Aku sih pengen  beli rumah. Ya Maa..”
Ibunya             : “Tapi Iaan.. kamu tega, mau ninggalin Mama?”
Fabian             : “Ya abis mau gimana lagi”
Ibunya             : (Menarik napas) “Yaudah deh, kalau emang itu udah jadi keputusan kamu. Mama dukung aja. Tapi kamu harus sering hubungi Mama yaa”
Fabian             : “Iya Ma, makasih yaa”
Ibunya             : “Iya.. em.. kamu rencana nya mau pindah kapan?”
Fabian             : “Insya Allah besok sih Ma”
Ibunya             : “Hah? Kok cepet banget sih Iaan..”
Fabian             : “Iya Ma, lebih cepat lebih baik kaan..”
Ibunya             : “Haa.. yaudah deh.. kamu hati-hati yaa disana nanti”
Fabian             : “Iya Ma, siip..”
            Keesokkan harinya, di pagi hari dirumah Fabian. Fabian tengah memepersiapkan sisa-sisa perlengkapan yang harus Ia bawa. Ibunya hanya memperhatikannya dari balik pintu kamarnya. Setelah selesai, Fabian segera menuju mobilnya.
Ibunya             : “Ian, kamu hati-hati yaa. Jangan lupa makan. Hubungi Mama terus”
Fabian             : “Iya Ma. Mama juga yaa. Daah..”

SCENE 4
            Fabian tiba dirumah Nafis. Ia pun berbincang-bincang disana tentang pencarian rumah yang akan Fabian tempati. Mereka pun sepakat untuk mencari rumah di daerah dekat kampus Fabian dengan motor Nafis. Dan tibalah mereka di sebuah rumah yang terdapat tanda dijual. Nafis pun segera menelpon pemilik rumah tersebut. Dan mereka menunggu di depan rumah itu.
Widi                 : “Selamat siaang..”
Nafis                : “Eh iya Pak, selamat siang juga”
Widi                 : “Perkenalkan saya Widi, pemilik rumah ini, Anda yang tadi menghubungi saya kan?”
Nafis                : “Oh iya Pak. Saya Nafis, dan ini teman saya, Fabian. Dia yang mau cari rumah yang dijual”
Widi                 : “Oh gitu.. yaudah ayo silahkan masuk dulu”
Mereka pun memasuki rumah itu, dan setelah selesai, mereka berbincang-bincang di teras rumah.
Nafis                : “Gimana Ian? Tertarik ga?”
Fabian             : “Em, boleh sih. Yaudah deh Pak, nanti uangnya saya transfer ya”
Widi                 : “Oh oke kalau begitu. Terima kasih yaa”
Fabian             : “Iya Pak, terima kasih juga. Kami pamit yaa”
Widi                 : “Iya mas” melepas kepergian Nafis dan Fabian
Nafis                : “Ian, mala mini lu mau tidur dimana? Dirumah baru lu, di Bandung atau nginep dirumah gue aja?”
Fabian             : “Em.. gue nginep dirumah lu dulu deh ya, sekalian besok kan mau ke kampus. Pulangnya baru deh gue langsung tinggal disini”
Nafis                : “Oh oke. Ayo!”
Keesokkan harinya. Fabian dan Nafis berangkat ke kampus mereka yang menjadi kampus baru Fabian untuk mengurus administrasi kuliah. Mereka berangkat dengan mobil Fabian.
Saat tiba di kampus, disana ada Rintan dkk, dan terkagumlah Rintan  dan Renisa saat melihat Fabian turun dari mobilnya dengan gaya yang keren.
Renisa             : “Waah.. ganteng banget tuh cowok”
Rintan              : “Iyaa”
Qeis                 : “Lu, ngga ngeliat yang di samping lu?” (Datang tiba-tiba)
Fajar                : “Gantengan gua kali”
Renisa             : “Ih apaan sih!”
Qeis                 : “Gantengan gua!”
Fajar                : “Gua!”
Qeis                 : “Gua!”
Della                : “Eeeh.. bentar-bentar. Itu kan Nafiis..” Della memotong pertengkaran kecil mereka
Rintan              : “Ah masa sih?”
Della                : “Iya”
Qeis                 : “Ah yang bener? Coba Jar liat, itu emang Nafis?”
Fajar                : “Ah bukan!”
Qeis                 : “Bener Jar! Liat pake mata kaki lu makanyaa!”
Della                : “Yaudah deh bentar yaa”

Della pun mendekat kearah Nafis yang langsung disambut senyuman oleh Nafis dan memberikan sebuat buku catatan. Namun Della tidak sadar bahwa Nafis tengah bersama Fabian. Della segera pamit.

Della                : “Hai Tan, Ren..”
Renisa             : “Hai Dell.. itu siapa sih Dell?”
Della                : “Siapa? Siapa apanya?”
RIntan              : “Itu Dell, yang sama Nafis”
Nafis                : “Yang sama Nafis? Ooh.. eh gue ngga tau, ngga nanya hehe.. Kalian suka yaaa?”
Rintan              : “Ah elu Dell.. entar tanyain Nafis doong.. suruh kenalin ke kita gitu”
Della                : “Oke”
Di siang hari, saat Rintan dkk tengah berbincang-bincang, datanglah Nafis dan Fabian.
Nafis                : “Haai..”
Rintan dkk       : “Eh, haai” Rintan dan Renisa langsung terkagum melihat Fabian
Nafis                : “Eh, kenalin nih temen gue, dia dari Bandung”
Fabian             : “Hai, gue Fabian” Bersalaman dengan Della
Della                : “Della”
Fabian             : “Fabian” bersalaman dengan Renisa
Renisa             : “Renisa”
Fabian             : “Fabian” bersalaman dengan Rintan
Rintan              : “Rintan” menyambut tangan Fabian agak lama”
Renisa             : “Ih, apaan sih, kelamaan!” menyanggah tangan Fabian dan Rintan yang terlalu lama bersalaman. Nafis pun langsung meledek Fabian. Fabian hanya tersenyum.
SCENE 5
           Keesokkan harinya Fabian dbantu Nafis mulai membersihkan rumah barunya, meski baru kamar Fabian yang benar-benar dibersihkan. Setelah selesai, mereka pergi ke kampus. Dan di sore harinya, Fabian dan Nafis baru selesai kuliah dan berada di tempat parkir.
Nafis                : “Bentar ya Ian, gue hubungi cewek gue dulu”
Fabian             : “Oke aja”
Nafis menelpon Della
Nafis                : “Yang, kamu dimana? Mau bareng kan?”
Della                : “Em.. aku dibara. Iya bareng”
Nafis                : “Sama siapa?”
Della                : “Sama anak-anak”
Nafis                : “Oh.. Yaudah kesini yaa. Aku tunggu”
Della                : “Iya. Eh, itu dimana?”
Nafis                : “Oh, aku di tempat parker motor. Yang biasaa”
Della                : “Oh iya deh aku kesana, lagi dijalan nih”
Beberapa menit kemudian.
Fabian             : “Mana Fis cewek lu?”
Nafis                : “Em.. ah, itu dia! Hey!”
Della                : “Hey Nafis.. heey Fabiaan”
Rintan&Renisa            : “Hai Fabiaan..”
Qeis                 : “Eh Nafis.. hai!” bersalaman dengan Nafis
Nafis                : “Hai juga. Makan mulu lu Jar” (Merebut makanan dari tangan Fajar)
Fajar                : “Biarin yee”
Qeis                 : “Eh Fis, itu siapaa?”
Fajar                : “Iya, itu siapa?”
Nafis                : “Ya, lu kenalan aja sana sendiri”
Qeis                 : “Eh, Hai, kenalin gue Rio. Nama asli gue sih Qeis”
Fabian             : “Gue Fabian” menyambut jabatan tangan Qeis
Fajar                : “Kalo gue Fajar Vartan Malakian. Baisa dipanggil Sam!”
Nafis                : “Ah, gaya lu berdua!”
Qeis                 : “Lu fakultas apa?
Fabian             : “Oh, gue anak kehutanan”
Qeis                 : “Ooh.. yang disitu ya? Kalo rumah lu?”
Fabian             : “Iya. Kalo rumah gue di daerah Dramaga Cantik”
Qeis                 : “Dramaga Cantik? Dimana nya?”
Fabian             : “Dii.. blok D9”
Qeis                 : “Ooh.. yang di pojok itu ya? Eh Jar, sut sut!” memanggil Fajar dengan ekspresi setengah terkejut.
Fabian             : “Iya”
Fajar                : “Lu beneran tinggal di daerah itu?”
Fabian             : “Iya. Emang kenapa?”
Qeis                 : “Em.. denger-denger siih.. daerah sana itu angker. Kata guru guee.. ada satu rumah yang serem gitu, gada penghuni nya.. gatau sih apaan”
Fabian             : “Ah masa sih?”
Qeis                 : “Bener deh. Serem banget katanya tuh rumah”
Nafis                : “Ah, jangan percaya. Udah yuk pulang”
Qeis                 : “Yaa saran gue sih hati-hati aja di daerah sana”
Fabian             : “Oke”
Nafis                : “Dell, bareng kan?”
Della                : “Eh iya” Della menghentikan obrolannya dengan dua teman gadisnya itu.
Nafis                : “Ian, mobil lu diparki dimana?”
Fabian             : “Em.. dii.. sana!” menunjuk parkiran mobil
Nafis                : “Oke deh, gue duluan yaa.. nganter ini nih! Woy duluan yaa”
Nafis pergi bersama Della dengan motornya meninggalkan teman-temannya. Qeis dan Fajar pun segera pergi. Saat Fabian beranjak menuju parkiran mobil, Rintan dan Renisa memanggilnya.
Rintan              : “Fabian!”
Fabian             : “Eh, iya Tan?” Fabian menoleh
Rintan              : “Em.. gue boleh ngga minta nomer lu?” Renisa hanya memperhatikan
Fabian             : “Ooh.. boleh aja. Nih, nomer lu, lu save aja di hape gue. Entar gue missed call
Fabian menyerahkan hapenya, Rintan langsung menjentikkan jarinya di layar hape Fabian. Setelah selesaoi, Fabian me-mised call nomor Rintan.
Fabian             : “Gimana? Udah nyampe kan”
Rintan              : “Ah iya, ini udah ada getar nya. Oke deh, thanks ya Iaan.. hati-hati”
Fabian             : “Iyasip Tan. Ren, duluan yaa.. bye!” Fabian berlalu meninggalkan Rintan dan Renisa
Renisa             : “Eeeh.. udah yuk pulang!” menarik tangan Rintan yang masih asyik memperhatikan punggung Fabian yang berjalan.
Fabian tiba dirumah barunya itu dan mendapati pintu rumahnya yang agak macet saat dibuka.
Fabian             : “Yaelah nih pintu. Segala rusak”
Setelah menaruh tasnya di sofa, Fabian segera mencari alat untuk memperbaiki pintu rumahnya di gudang. Dan saat di gudang, Fabian menemukan sebuah lukisan yang Ia pikir bagus. Fabian pun membawa lukisan itu keluar dan memajangnya di dinding rumahnya, namun saat Ia memegang lukisan itu, jarinya tergores dan mengenai lukisan itu. Fabian berdarah dan mengobati luka sayat nya itu dikamarnya. Namun aneh, kunci kamar yang tergantung di pintu kamarnya itu tiba-tiba jatuh.
Fabian             : “Kok jatuh sih?”
Fabian memungut kunci itu dan menaruhnya di tempat semula. Namun tiba-tiba lampu mati. Fabian terkejut dan bersikap masa bodoh.
SCENE  6
            Fabian melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ia bersama teman-teman barunya sudah semakin akrab, terlebih terhadap Rintan.
            Fabian pulang kerumahnya. Segera menuju kamarnya dan memainkan laptop nya. Ditengah asyiknya bermain game, Rintan menelpon Fabian.
Fabian             : “Halo, iya Tan, ada apa?”
Rintan              : “Eh ngga Ian. Lu lagi apa?”
Fabian             : “Em.. ini lagi ngerjain tugas di laptop
Rintan              : “Oh gituu.. em.. Ian…” tiba-tiba sambungan terputus
Fabian             : “Halo Tan? Tan? Eh kok putus sih? Sinyalkan masih penuh.. hm.. (melihat jam dinding) eh, udah jam segini, udah ah tidur aja”
Fabian mematikan laptop nya dan menutupnya. Tiba-tiba saat hendak tidur, ada suara ketukan di jendela kamarnya itu.
Tok tok tok
Fabian             : “Eh, siapa ya?” Fabian mengintip jendela kamarnya
                          “Ngga ada siapa-siapa, udah ah tidur”
tok tok tok.
Kali ini suara ketukan di pintu rumahnya
Fabian             : “Idih siapa sih malem-malem gini ngetuk pintu rumah orang?”
Fabian keluar kamarnya dan membuka pintu rumahnya. Namun lagi-lagi tidak ada siapa-siapa.
Fabian             : “Heuh, ngga ada siapa-siapa. Siapa sih!”
Fabian kesal dan menutup pintunya, namun tiba-tiba lampu rumahnya mati.
Fabian             : “Ini, apa lagi? Kok lampu mati? Lilin manaa ya?”
Fabian mencari-cari lilin di kolong meja ruang tamunya. Saat Fabian sudah menyalakan lilin, terdengar samar-samar suara dolbox, Fabian mencari sumber suara itu kesana-kemari yang ternyata berasal dari arah gudang. Fabian mendekat kea rah gudang, dan menemukan sebuah boneka yang berdarah. Fabian bingung apa yang terjadi, tanpa pikir panjang, Fabian segera membuang boneka itu ke luar rumahnya.
Keesokan harinya, Fabian merasa dirinya kurang fit. Entah apa penyebabnya. Di kampus pun, Fabian lebih senang menyendiri. Termasuk saat bertemu Nafis.
Nafis                : “Ian, mau kemana Ian? Eh Ian?”
Nafis memanggil Fabian yang tidak ditanggapi. Nafis, Qeis dan Fajar yang saat itu ada di TKP bingung apa yang terjadi. Dalam hati, Nafis ingin mencari tahu dan berencana kerumah Fabian.
            Nafis tiba dirumah Fabian. Nafis mencoba memanggil-manggil Fabian, namun tak ada jawaban. Nafis mengintip dari jendela rumah Fabian, darisana Nafis melihat Fabian sedang melakukan hal aneh. Nafis terkejut dan segera mendobrak pintu rumah Fabian.
Nafis                : “FABIAN!”
Kedatangan Nafis, segera menyadarkan Fabian. Fabian masih berwajah lesu dan pucat saat itu, dan Nafis pun memutuskan menginap dirumah Fabian. Mengingat hal tadi membuat Nafis bingung, seketika Ia ingat Qeis yang pernah memberi isu tentang rumah ini dan gurunya, tanpa pikir panjang, Nafis segera menelpon Qeis yang tengah tertidur di kamar kost-an nya.
Riing.. riing..
Fajar                : “Aduuh.. Is.. berisik, matiin napaa”
Qeis                 : “Apaan sih Jaar.. ngga ah, kalo gua matiin ntar dosaa..”
Fajar                : “Yaudah, angkat atuuh..”
Qeis                 : “Emangnya jemuran diangkat!”
Fajar                : “Udah napa Is, berisik tauu!”
Qeis                 : “Haah..”
Qeis pun mengangkat telponnya itu.
Qeis                 : “Halo, siapa ini?”
Nafis                : “Heh, ini gua Nafis!”
Qeis                 : “Eh elu Fis, kenapa malem-malem gini nelpon?”
Nafis                : “Elu sama Fajar ke rumah Fabian ya sekarang! Penting!”
Nut.. nut.. nuuut.. sambungan terputus.
Fajar                : “Kenapa sih Nafis?”
Qeis                 : “Tau tuh, kita disuruh kerumah Fabian sekarang”
Mereka pun segera meluncur ke rumah Fabian.
Tiba dirumah Fabian.
Nafis                : “Tadi si Fabian aneh banget. Dia megangin boneka berdarah gitu, mukanya juga pucat. Nah, elu kan berdua pernah ngomongin tentang isu rumah ini nih. Terus punya guru gitu. Jadi, gue minta tolong, besok kalian bawa tuh guru yang tau tentang rahasia rumah ini.”
Qesi                 : “Oh gituu.. iyasip”

SCENE 7
Keesokkan harinya..
Tok.. tok.. tok.. pintu dibuka
Nafis                : “Eh kalian.. em.. mana guru nya?”
Qeis dan Fajar : “Ini!” (membuka space antara mereka)
Teguh berdiri dengan sok keren.
Nafis                : “Ooh.. yaudah ayo masuk!”
Di ruang tamu.
Teguh              : “Fabian, bila kamu ingin mencari tahu tentang rumah ini,maka kamu harus mencarinya sendiri, ayo ikut saya ke tempat itu”
Teguh dan Fabian menuju gudang. Fabian di dudukan di kursi yang ada disana. Teguh mulai menjampi-jampi dan Fabian pun memasuki alam lain. Dunia flashback tentang rumah itu. Disana Fabian melihat seorang gadis yang bernama Afifah tengah di seret-seret oleh lelaki yang Fabian tau bernama Widi, sang penjual rumah baru Fabian.
Afifah              : “LEPASIN!”
Widi                 : “DIAM!”
Afifah              : “LEPASIN! SAKIT!”
Widi                 : “DIAM KAMU!”
Afifah terus meronta, memberontak. Akhirnya Ia bisa lepas dari cengkeraman Widi, dan kabur, sedangkan Widi jatuh terjerembab ke semak-semak. Widi mencoba mengejar, namun kakinya sakit akibat jatuh. Widi pun menemui dua orang di warung kopi di dekat daerah itu. Widi menyuruh mereka (Sandy dan Januar)  untuk menangkap Afifah hidup-hidup untuk Widi bakar. Widi menunjukkan foto Afifah, Januar melihat, seketika Januar ingat bahwa Afifah adalah teman semasa SMU nya, Januar mengingat masa-masa kebersamaan mereka. Dan di dalam hati, Januar berjanji tidak akan menuruti apa yang dikatakan Widi, Ia pun berencana menyingkirkan Sandy agar bisa menolong Afifah.
Di tengah jalan di hutan, Sandy memutuskan untuk berpencar. Dan di saat mereka sudah berpencar, Januar memulai aksi penyerangannya. Januar melemparkan kampak yang dibawanya kearah Sandy. Sandy menghindar, Januar mengutarakan maksud yang sebenarnya, akhirnya mereka berkelahi, dan Januar kalah, Ia dibunuh Sandy. Sandy pun melanjutkan perjalanan. Di tempat lain, di hutan yang sama, Afifah terus berlari dan berlari, namun sayangnya Afifah jatuh tersandung sesuatu dan jatuh terguling-guling, membentur pohon  lalu pingsan. Sandy yang tengah mencari Afifah pun akhirnya menemkan Afifah yang tengah pingsan itu di dekat pohon.
Sandy membawa Afifah ke suatu tempat seperti gudang. Disana ada Widi. Afifah pun disadarkan.
Widi                 : “Maafkan ayah, Nak. Ayah harus membunuh mu dan menjadikanmu tumbal agar ayah tetap kaya.” Seraya berjalan mendekati Afifah yang terikat di kursi
Setelah berkata demikian, Widi pun menyalakan korek api dan mulai membakar Afifah yang sebelumnya telah disiram oleh minyak tanah. Afifah pun terbakar dan hangus. Setelah itu ruh Afifah dimasukkan ke dalam sebuah lukisan di ruangan itu. Lukisan yang berada di rumah baru Fabian, yang mengganggu Fabian selama ini.
Fabian pun tersadar dari perjalanan masa lalu rumah itu dan Ia menceritakan semua pada teman-temannya.
Fabian             : “Iya. Jadi, penyebab semua gangguan ini sebenarnya ada Karena lukisan ini yang mungkin ingin meminta darah lagi”
Nafis                : “Wah, ini gara-gara si tukang jual rumah itu. Kalau gitu, kita mesti cari dia”
Fajar                : “Iya Fis, bener tuh!”
Nafis                : “Oke, gue telpon dia”
Nafis menelpon Widi dan mengajak Ia untuk bertemu, tanpa memberi tahu maksud tujuan yang sebenarnya dari pertemuan mereka. Keesokkan harinya, mereka pun bertemu di daerah tanah lapang dekat tower.
Nafis                : “Kita udah sampe nih. Mana ya orangnya?” (menoleh kesana-kemari)
Fabian             : “Eh, tuh dia!” (sambil menunjuk ke arah samping dengan wajahnya)
Widi                 : “Selamat siaang.. ada apa ya, mengajak saya bertemu disini?” (Datang bersama Sandi (ekspresi Sandi penuh tanda Tanya sambil melirik apa yang dibawa Fajar))
Fabian             : “Jar, lukisannya!”
Nafis                : “ini! Bapak menyimpan rahasia dibalik lukisan ini kan?” (Mengambil lukisan dari Fajar dan melemparkannya ke Widi)
Widi                 : “Eh, maksudnya apa ya? Saya ngga ngerti”
Fajar                : “Eh, Pak, jangan pura-pura ngga ngerti deeh.. Bapak ngejual rumah itu karena mau cari tumbal kan?”
Widi                 : “Eh itu urusan saya ya!” (Sambil merebut lukisan)
                          “Lu urus mereka! Ajak temen baru kita itu!”
Karena kesal, Fabian pun meninju Widi, namun ditangkis oleh Qeis. Mereka semua bingung akan sikap Qeis.
Qeis                 : “Sori sob. Tapi gue, gabung sama mereka”
Fabian             : “Eh, maksud lu apa Is?”
Qeis                 : “Sori, gua pengen kaya. Jadi, gua gabung sama mereka”
Nafis                : “Tapi kan ngga dengan begini caranya Is”
Fajar                : “Ah udahlah. Karena lu udah gabung sama mereka. Lu juga lawan kita. Sini lu lawan gua. Aaaarrrgggghhhh…” (Fajar segera menyerang Qeis)
Perkelahian satu lawan satu itu pun berlangsung dengan panas. Qeis dengan Fajar yang sebenarnya bersahabat. Nafis dan Fabian dengan Sandi, namun Fabian kalah, Nafis pun terus melawan Sandy. Di tengah perkelahian itu pun, Fajar kalah dan kehilangan nyawanya, Qeis yang semula dipenuhi panasnya api, berubah menjadi lesu saat mendapati sahabat sekaligus lawannya sendiri harus mati ditangannya. Qeis terduduk lemas, sambil meratapi Fajar, Ia pun mengingat masa-masa bersama Fajar dulu.
Qeis                 : “FAJAAAAAAAARRRRRRRR!!!” (Qeis berteriak)
Nafis menoleh kearah Qeis setelah melayangkan pukulan telaknya ke Sandi dan menyebabkan Sandi tumbang. Nafis sadar, Fajar telah tiada. Dengan kekesalannya, Nafis segera menarik baju Qeis, mengangkatnya dan memukulnya.
Nafis                : “Tega lu ya Is ngelawan temen-temen lu sendiri Cuma demi harta. Sini lu!”
Qeis, dengan sisa tenaga dan emosinya hanya mampu melawan sekilas.
Qeis                 : “Sori Fis, sori Jar, sori semuanya. Gua nye-sel..” dengan suara terbata-bata dan Qeis pun tumbang.
Sementara itu, Widi masih terus berjalan sambil membawa lukisannya yang tadi dibawa Fabian. Widi terus berjalan seraya tersenyum dan tidak mempedulikan keadaan dibelakangnya. Widi pergi dan sulit dihubungi lagi oleh Fabian dkk.

 SCENE 8
            Sore itu, seorang gadis tengah asyik berjalan-jalan sambil melihat kesana-kemari. Dan pandangannya tertuju pada penjual lukisan di pinggir jalan. Gadis itu mendekati si penjual lukisan dan melihat-lihat jaulannya itu. Gadis itu tersenyum, Ia tertarik akan sebuah lukisan dan segera membelinya.
            Setelah selesai jalan-jalan sore, gadis itu pulang kerumahnya dan segera memasang lukisan itu di dinding rumahnya. Gadis itu menelpon seseorang.
Gadis               : “Yang, kamu dimana? Jadi kan kerumah aku?”
Nafis                : “Iya kesana kok. Lagi dijalan”
Gadis               : “Oke, aku tunggu”
Beberapa saat kemudian.
Gadis               : “Aku mau nunjukkin sesuatu”
Nafis                : “Apaan?”
Gadis               : “Aku tadi beli lukisan di jalanan. Bagus deh”
Nafis                : “Mana?”
Gadis               : “Itu, aku gantung di dinding. Liat aja!” Gadis itu adalah Della
Nafis menoleh ke belakang, Nafis sangat terkejut. Dan..


THE END

No comments:

Post a Comment