SCENE 1
Seorang
gadis yang bernama Afifah tengah berlari-lari ketakutan di hutan. Gadis itu
tersandung dan jatuh terguling-guling dan pingsan. Beberapa saat kemudian, datang
seorang pria yang membawa pedang dan mengidentifikasi gadis yang pingsan itu.
Pria itu pun membawanya ke sebuah ruangan ditempat lain, dan gadis itu dibakar.
SCENE 2
Di
suatu siang yang terik di sebuah kedai penjual kebab, Fabian tengah asyik
menunggu pesanannya.
Fabian : “Bang, pesen 2 bungkus ya”
Tukang kebab : “Iya siap!”
Setelah
selesai, Ia segera meluncur kerumahnya dengan mobil silvernya. Dan betapa
terkejutnya Fabian, saat hendak menuju kamar orang tuanya, Fabian mendapati
orang tuanya tengah bertengkar dan ibunya ditampar oleh ayahnya. Dengan segala
perasaan kalut itu, Fabian tak sengaja menjatuhkan bungkusan kebab yang tadi
dipesannya dan segera menuju kamarnya.
Fabian
begitu kesal karena memang orang tuanya seringkali bertengkar. Fabian pun
melampiaskan emosinya itu dengan melemparkan semua buku-bukunya di atas meja
belajarnya. Tiba-tiba Fabian tersadar akan satu hal, Ia ingat temannya, Nafis
yang tinggal dan kuliah di Bogor. Fabian segera menelpon Nafis yang tengah
bersama teman-temannya di kampusnya, di Bogor.
Fabian : “Halo, Nafis?”
Nafis :
“Iya, Ian, ini gue,Tumben lu nelepon. Ada apa?”
Fabian : “Fis, gue bisa minta bantuan lu ga?”
Nafis :
“Bantuan apa Ian? Sok aja!”
Fabian :
“Gini Fis, gue pengen pindah kuliah ke Bogor, ke tempat lu deh. Yaa, sekalian
gue tinggal disana”
Nafis :
“Lu, mau pindah ke Bogor? Emang kenapa Ian?”
Fabian :
“Em.. nanti deh gue cerita. Bantuin gue ya Fis buat daftar kuliah”
Nafis :
“Oh oke aja, entar gue bantu kok. Rencana nya kapan kesini?”
Fabian :
“Insya Allah besok Fis”
Nafis :
“Oh gitu? Yaokelah gue tunggu yaa”
Fabian :
“Iyasip Fis. Thanks ya”
Nafis :
“Oke”
SCENE 3
Di suatu malam di rumah Fabian.
Fabian menemui ibunya yang tengah bersantai di ruang tamu.
Fabian :
“Ma, aku mau ngomong sesuatu”
Ibunya : “Ngomong apa?”
Fabian :
“Ma, ku mau pindah ke Bogor?”
Ibunya :
“Hah, pindah? Maksudnya?”
Fabian :
“Iya Ma, aku mau tinggal disana”
Ibunya :
“Emang kenapa? Terus kuliah kamu gimana?”
Fabian :
“Yaa.. aku juga pindah kuliah. Ya abis aku capek Ma, ngeliat Mama sama Papa
berantem terus”
Ibunya :
“Haah.. terus, nanti kamu mau tinggal dimana Iaan? Emang kamu bisa, ngurus diri
kamu sendiri?”
Fabian :
“Ma, aku udah gede mah. Aku bisa kok ngurus diri aku sendiri, kalau urusan
tinggal. Aku sih pengen beli rumah. Ya
Maa..”
Ibunya :
“Tapi Iaan.. kamu tega, mau ninggalin Mama?”
Fabian :
“Ya abis mau gimana lagi”
Ibunya :
(Menarik napas) “Yaudah deh, kalau emang itu udah jadi keputusan kamu. Mama
dukung aja. Tapi kamu harus sering hubungi Mama yaa”
Fabian :
“Iya Ma, makasih yaa”
Ibunya :
“Iya.. em.. kamu rencana nya mau pindah kapan?”
Fabian :
“Insya Allah besok sih Ma”
Ibunya :
“Hah? Kok cepet banget sih Iaan..”
Fabian :
“Iya Ma, lebih cepat lebih baik kaan..”
Ibunya :
“Haa.. yaudah deh.. kamu hati-hati yaa disana nanti”
Fabian :
“Iya Ma, siip..”
Keesokkan
harinya, di pagi hari dirumah Fabian. Fabian tengah memepersiapkan sisa-sisa
perlengkapan yang harus Ia bawa. Ibunya hanya memperhatikannya dari balik pintu
kamarnya. Setelah selesai, Fabian segera menuju mobilnya.
Ibunya : “Ian, kamu hati-hati yaa. Jangan lupa makan. Hubungi
Mama terus”
Fabian : “Iya Ma. Mama juga yaa. Daah..”
SCENE 4
Fabian tiba dirumah Nafis. Ia pun
berbincang-bincang disana tentang pencarian rumah yang akan Fabian tempati.
Mereka pun sepakat untuk mencari rumah di daerah dekat kampus Fabian dengan
motor Nafis. Dan tibalah mereka di sebuah rumah yang terdapat tanda dijual.
Nafis pun segera menelpon pemilik rumah tersebut. Dan mereka menunggu di depan
rumah itu.
Widi :
“Selamat siaang..”
Nafis :
“Eh iya Pak, selamat siang juga”
Widi :
“Perkenalkan saya Widi, pemilik rumah ini, Anda yang tadi menghubungi saya
kan?”
Nafis :
“Oh iya Pak. Saya Nafis, dan ini teman saya, Fabian. Dia yang mau cari rumah
yang dijual”
Widi :
“Oh gitu.. yaudah ayo silahkan masuk dulu”
Mereka pun memasuki rumah itu, dan
setelah selesai, mereka berbincang-bincang di teras rumah.
Nafis :
“Gimana Ian? Tertarik ga?”
Fabian : “Em, boleh sih. Yaudah deh Pak, nanti uangnya saya
transfer ya”
Widi :
“Oh oke kalau begitu. Terima kasih yaa”
Fabian : “Iya Pak, terima kasih juga. Kami pamit yaa”
Widi :
“Iya mas” melepas kepergian Nafis dan Fabian
Nafis :
“Ian, mala mini lu mau tidur dimana? Dirumah baru lu, di Bandung atau nginep
dirumah gue aja?”
Fabian :
“Em.. gue nginep dirumah lu dulu deh ya, sekalian besok kan mau ke kampus. Pulangnya
baru deh gue langsung tinggal disini”
Nafis :
“Oh oke. Ayo!”
Keesokkan
harinya. Fabian dan Nafis berangkat ke kampus mereka yang menjadi kampus baru
Fabian untuk mengurus administrasi kuliah. Mereka berangkat dengan mobil
Fabian.
Saat tiba di
kampus, disana ada Rintan dkk, dan terkagumlah Rintan dan Renisa saat melihat Fabian turun dari
mobilnya dengan gaya yang keren.
Renisa : “Waah.. ganteng banget tuh cowok”
Rintan : “Iyaa”
Qeis :
“Lu, ngga ngeliat yang di samping lu?” (Datang tiba-tiba)
Fajar :
“Gantengan gua kali”
Renisa : “Ih apaan sih!”
Qeis :
“Gantengan gua!”
Fajar :
“Gua!”
Qeis :
“Gua!”
Della :
“Eeeh.. bentar-bentar. Itu kan Nafiis..” Della memotong pertengkaran kecil
mereka
Rintan : “Ah masa sih?”
Della :
“Iya”
Qeis :
“Ah yang bener? Coba Jar liat, itu emang Nafis?”
Fajar :
“Ah bukan!”
Qeis :
“Bener Jar! Liat pake mata kaki lu makanyaa!”
Della :
“Yaudah deh bentar yaa”
Della pun mendekat kearah Nafis yang
langsung disambut senyuman oleh Nafis dan memberikan sebuat buku catatan. Namun
Della tidak sadar bahwa Nafis tengah bersama Fabian. Della segera pamit.
Della :
“Hai Tan, Ren..”
Renisa : “Hai Dell.. itu siapa sih Dell?”
Della :
“Siapa? Siapa apanya?”
RIntan : “Itu Dell, yang sama Nafis”
Nafis :
“Yang sama Nafis? Ooh.. eh gue ngga tau, ngga nanya hehe.. Kalian suka yaaa?”
Rintan : “Ah elu Dell.. entar tanyain Nafis doong.. suruh
kenalin ke kita gitu”
Della :
“Oke”
Di siang hari, saat Rintan dkk tengah
berbincang-bincang, datanglah Nafis dan Fabian.
Nafis :
“Haai..”
Rintan dkk : “Eh, haai” Rintan dan Renisa langsung terkagum melihat
Fabian
Nafis :
“Eh, kenalin nih temen gue, dia dari Bandung”
Fabian : “Hai, gue Fabian” Bersalaman dengan Della
Della :
“Della”
Fabian : “Fabian” bersalaman dengan Renisa
Renisa : “Renisa”
Fabian : “Fabian” bersalaman dengan Rintan
Rintan : “Rintan” menyambut tangan Fabian agak lama”
Renisa :
“Ih, apaan sih, kelamaan!” menyanggah tangan Fabian dan Rintan yang terlalu
lama bersalaman. Nafis pun langsung meledek Fabian. Fabian hanya tersenyum.
SCENE 5
Keesokkan harinya Fabian dbantu Nafis
mulai membersihkan rumah barunya, meski baru kamar Fabian yang benar-benar
dibersihkan. Setelah selesai, mereka pergi ke kampus. Dan di sore harinya, Fabian
dan Nafis baru selesai kuliah dan berada di tempat parkir.
Nafis
: “Bentar ya Ian, gue hubungi cewek gue dulu”
Fabian :
“Oke aja”
Nafis menelpon Della
Nafis :
“Yang, kamu dimana? Mau bareng kan?”
Della :
“Em.. aku dibara. Iya bareng”
Nafis :
“Sama siapa?”
Della :
“Sama anak-anak”
Nafis :
“Oh.. Yaudah kesini yaa. Aku tunggu”
Della :
“Iya. Eh, itu dimana?”
Nafis :
“Oh, aku di tempat parker motor. Yang biasaa”
Della :
“Oh iya deh aku kesana, lagi dijalan nih”
Beberapa menit kemudian.
Fabian :
“Mana Fis cewek lu?”
Nafis :
“Em.. ah, itu dia! Hey!”
Della :
“Hey Nafis.. heey Fabiaan”
Rintan&Renisa : “Hai Fabiaan..”
Qeis :
“Eh Nafis.. hai!” bersalaman dengan Nafis
Nafis :
“Hai juga. Makan mulu lu Jar” (Merebut makanan dari tangan Fajar)
Fajar :
“Biarin yee”
Qeis :
“Eh Fis, itu siapaa?”
Fajar :
“Iya, itu siapa?”
Nafis :
“Ya, lu kenalan aja sana sendiri”
Qeis :
“Eh, Hai, kenalin gue Rio. Nama asli gue sih Qeis”
Fabian : “Gue Fabian” menyambut jabatan tangan Qeis
Fajar :
“Kalo gue Fajar Vartan Malakian. Baisa dipanggil Sam!”
Nafis :
“Ah, gaya lu berdua!”
Qeis :
“Lu fakultas apa?
Fabian : “Oh, gue anak kehutanan”
Qeis :
“Ooh.. yang disitu ya? Kalo rumah lu?”
Fabian : “Iya. Kalo rumah gue di daerah Dramaga Cantik”
Qeis :
“Dramaga Cantik? Dimana nya?”
Fabian : “Dii.. blok D9”
Qeis :
“Ooh.. yang di pojok itu ya? Eh Jar, sut sut!” memanggil Fajar dengan ekspresi
setengah terkejut.
Fabian :
“Iya”
Fajar :
“Lu beneran tinggal di daerah itu?”
Fabian : “Iya. Emang kenapa?”
Qeis :
“Em.. denger-denger siih.. daerah sana itu angker. Kata guru guee.. ada satu rumah
yang serem gitu, gada penghuni nya.. gatau sih apaan”
Fabian : “Ah masa sih?”
Qeis :
“Bener deh. Serem banget katanya tuh rumah”
Nafis :
“Ah, jangan percaya. Udah yuk pulang”
Qeis :
“Yaa saran gue sih hati-hati aja di daerah sana”
Fabian : “Oke”
Nafis :
“Dell, bareng kan?”
Della :
“Eh iya” Della menghentikan obrolannya dengan dua teman gadisnya itu.
Nafis :
“Ian, mobil lu diparki dimana?”
Fabian : “Em.. dii.. sana!” menunjuk parkiran mobil
Nafis :
“Oke deh, gue duluan yaa.. nganter ini nih! Woy duluan yaa”
Nafis pergi bersama Della dengan
motornya meninggalkan teman-temannya. Qeis dan Fajar pun segera pergi. Saat
Fabian beranjak menuju parkiran mobil, Rintan dan Renisa memanggilnya.
Rintan : “Fabian!”
Fabian : “Eh, iya Tan?” Fabian menoleh
Rintan : “Em.. gue boleh ngga minta nomer lu?” Renisa hanya
memperhatikan
Fabian :
“Ooh.. boleh aja. Nih, nomer lu, lu save aja di hape gue. Entar gue missed call”
Fabian menyerahkan hapenya, Rintan
langsung menjentikkan jarinya di layar hape Fabian. Setelah selesaoi, Fabian
me-mised call nomor Rintan.
Fabian : “Gimana? Udah nyampe kan”
Rintan : “Ah iya, ini udah ada getar nya. Oke deh, thanks ya
Iaan.. hati-hati”
Fabian : “Iyasip Tan. Ren, duluan yaa.. bye!” Fabian berlalu
meninggalkan Rintan dan Renisa
Renisa :
“Eeeh.. udah yuk pulang!” menarik tangan Rintan yang masih asyik memperhatikan
punggung Fabian yang berjalan.
Fabian tiba dirumah barunya itu dan mendapati pintu
rumahnya yang agak macet saat dibuka.
Fabian
: “Yaelah nih pintu. Segala rusak”
Setelah
menaruh tasnya di sofa, Fabian segera mencari alat untuk memperbaiki pintu
rumahnya di gudang. Dan saat di gudang, Fabian menemukan sebuah lukisan yang Ia
pikir bagus. Fabian pun membawa lukisan itu keluar dan memajangnya di dinding
rumahnya, namun saat Ia memegang lukisan itu, jarinya tergores dan mengenai
lukisan itu. Fabian berdarah dan mengobati luka sayat nya itu dikamarnya. Namun
aneh, kunci kamar yang tergantung di pintu kamarnya itu tiba-tiba jatuh.
Fabian : “Kok jatuh sih?”
Fabian memungut kunci itu dan
menaruhnya di tempat semula. Namun tiba-tiba lampu mati. Fabian terkejut dan
bersikap masa bodoh.
SCENE 6
Fabian
melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ia bersama teman-teman barunya sudah
semakin akrab, terlebih terhadap Rintan.
Fabian
pulang kerumahnya. Segera menuju kamarnya dan memainkan laptop nya. Ditengah asyiknya bermain game, Rintan menelpon Fabian.
Fabian : “Halo, iya Tan, ada apa?”
Rintan : “Eh ngga Ian. Lu lagi apa?”
Fabian : “Em.. ini lagi ngerjain tugas di laptop”
Rintan : “Oh gituu.. em.. Ian…” tiba-tiba sambungan terputus
Fabian :
“Halo Tan? Tan? Eh kok putus sih? Sinyalkan masih penuh.. hm.. (melihat jam
dinding) eh, udah jam segini, udah ah tidur aja”
Fabian mematikan laptop nya dan menutupnya. Tiba-tiba saat hendak tidur, ada suara
ketukan di jendela kamarnya itu.
Tok tok tok
Fabian : “Eh, siapa ya?” Fabian mengintip jendela kamarnya
“Ngga ada siapa-siapa, udah ah tidur”
tok tok tok.
Kali ini suara ketukan di pintu
rumahnya
Fabian : “Idih siapa sih malem-malem gini ngetuk pintu rumah
orang?”
Fabian keluar kamarnya dan membuka
pintu rumahnya. Namun lagi-lagi tidak ada siapa-siapa.
Fabian : “Heuh, ngga ada siapa-siapa. Siapa sih!”
Fabian kesal dan menutup pintunya,
namun tiba-tiba lampu rumahnya mati.
Fabian : “Ini, apa lagi? Kok lampu mati? Lilin manaa ya?”
Fabian mencari-cari lilin di kolong
meja ruang tamunya. Saat Fabian sudah menyalakan lilin, terdengar samar-samar
suara dolbox, Fabian mencari sumber
suara itu kesana-kemari yang ternyata berasal dari arah gudang. Fabian mendekat
kea rah gudang, dan menemukan sebuah boneka yang berdarah. Fabian bingung apa
yang terjadi, tanpa pikir panjang, Fabian segera membuang boneka itu ke luar
rumahnya.
Keesokan harinya, Fabian merasa
dirinya kurang fit. Entah apa penyebabnya. Di kampus pun, Fabian lebih senang
menyendiri. Termasuk saat bertemu Nafis.
Nafis :
“Ian, mau kemana Ian? Eh Ian?”
Nafis
memanggil Fabian yang tidak ditanggapi. Nafis, Qeis dan Fajar yang saat itu ada
di TKP bingung apa yang terjadi. Dalam hati, Nafis ingin mencari tahu dan
berencana kerumah Fabian.
Nafis
tiba dirumah Fabian. Nafis mencoba memanggil-manggil Fabian, namun tak ada
jawaban. Nafis mengintip dari jendela rumah Fabian, darisana Nafis melihat
Fabian sedang melakukan hal aneh. Nafis terkejut dan segera mendobrak pintu
rumah Fabian.
Nafis :
“FABIAN!”
Kedatangan Nafis, segera menyadarkan
Fabian. Fabian masih berwajah lesu dan pucat saat itu, dan Nafis pun memutuskan
menginap dirumah Fabian. Mengingat hal tadi membuat Nafis bingung, seketika Ia
ingat Qeis yang pernah memberi isu tentang rumah ini dan gurunya, tanpa pikir
panjang, Nafis segera menelpon Qeis yang tengah tertidur di kamar kost-an nya.
Riing.. riing..
Fajar :
“Aduuh.. Is.. berisik, matiin napaa”
Qeis :
“Apaan sih Jaar.. ngga ah, kalo gua matiin ntar dosaa..”
Fajar :
“Yaudah, angkat atuuh..”
Qeis :
“Emangnya jemuran diangkat!”
Fajar :
“Udah napa Is, berisik tauu!”
Qeis :
“Haah..”
Qeis pun mengangkat telponnya itu.
Qeis :
“Halo, siapa ini?”
Nafis :
“Heh, ini gua Nafis!”
Qeis :
“Eh elu Fis, kenapa malem-malem gini nelpon?”
Nafis :
“Elu sama Fajar ke rumah Fabian ya sekarang! Penting!”
Nut.. nut.. nuuut.. sambungan terputus.
Fajar :
“Kenapa sih Nafis?”
Qeis :
“Tau tuh, kita disuruh kerumah Fabian sekarang”
Mereka pun segera meluncur ke rumah
Fabian.
Tiba dirumah Fabian.
Nafis :
“Tadi si Fabian aneh banget. Dia megangin boneka berdarah gitu, mukanya juga
pucat. Nah, elu kan berdua pernah ngomongin tentang isu rumah ini nih. Terus
punya guru gitu. Jadi, gue minta tolong, besok kalian bawa tuh guru yang tau
tentang rahasia rumah ini.”
Qesi :
“Oh gituu.. iyasip”
SCENE 7
Keesokkan harinya..
Tok.. tok.. tok.. pintu dibuka
Nafis :
“Eh kalian.. em.. mana guru nya?”
Qeis dan Fajar :
“Ini!” (membuka space antara mereka)
Teguh berdiri dengan sok keren.
Nafis :
“Ooh.. yaudah ayo masuk!”
Di ruang tamu.
Teguh :
“Fabian, bila kamu ingin mencari tahu tentang rumah ini,maka kamu harus
mencarinya sendiri, ayo ikut saya ke tempat itu”
Teguh dan Fabian menuju gudang.
Fabian di dudukan di kursi yang ada disana. Teguh mulai menjampi-jampi dan
Fabian pun memasuki alam lain. Dunia flashback
tentang rumah itu. Disana Fabian melihat seorang gadis yang bernama Afifah
tengah di seret-seret oleh lelaki yang Fabian tau bernama Widi, sang penjual
rumah baru Fabian.
Afifah : “LEPASIN!”
Widi :
“DIAM!”
Afifah : “LEPASIN! SAKIT!”
Widi :
“DIAM KAMU!”
Afifah terus
meronta, memberontak. Akhirnya Ia bisa lepas dari cengkeraman Widi, dan kabur,
sedangkan Widi jatuh terjerembab ke semak-semak. Widi mencoba mengejar, namun
kakinya sakit akibat jatuh. Widi pun menemui dua orang di warung kopi di dekat
daerah itu. Widi menyuruh mereka (Sandy dan Januar) untuk menangkap Afifah hidup-hidup untuk Widi
bakar. Widi menunjukkan foto Afifah, Januar melihat, seketika Januar ingat bahwa
Afifah adalah teman semasa SMU nya, Januar mengingat masa-masa kebersamaan
mereka. Dan di dalam hati, Januar berjanji tidak akan menuruti apa yang
dikatakan Widi, Ia pun berencana menyingkirkan Sandy agar bisa menolong Afifah.
Di tengah
jalan di hutan, Sandy memutuskan untuk berpencar. Dan di saat mereka sudah
berpencar, Januar memulai aksi penyerangannya. Januar melemparkan kampak yang
dibawanya kearah Sandy. Sandy menghindar, Januar mengutarakan maksud yang
sebenarnya, akhirnya mereka berkelahi, dan Januar kalah, Ia dibunuh Sandy.
Sandy pun melanjutkan perjalanan. Di tempat lain, di hutan yang sama, Afifah
terus berlari dan berlari, namun sayangnya Afifah jatuh tersandung sesuatu dan
jatuh terguling-guling, membentur pohon
lalu pingsan. Sandy yang tengah mencari Afifah pun akhirnya menemkan
Afifah yang tengah pingsan itu di dekat pohon.
Sandy membawa
Afifah ke suatu tempat seperti gudang. Disana ada Widi. Afifah pun disadarkan.
Widi :
“Maafkan ayah, Nak. Ayah harus membunuh mu dan menjadikanmu tumbal agar ayah
tetap kaya.” Seraya berjalan mendekati Afifah yang terikat di kursi
Setelah
berkata demikian, Widi pun menyalakan korek api dan mulai membakar Afifah yang
sebelumnya telah disiram oleh minyak tanah. Afifah pun terbakar dan hangus.
Setelah itu ruh Afifah dimasukkan ke dalam sebuah lukisan di ruangan itu.
Lukisan yang berada di rumah baru Fabian, yang mengganggu Fabian selama ini.
Fabian pun
tersadar dari perjalanan masa lalu rumah itu dan Ia menceritakan semua pada
teman-temannya.
Fabian : “Iya. Jadi, penyebab semua gangguan ini sebenarnya ada
Karena lukisan ini yang mungkin ingin meminta darah lagi”
Nafis :
“Wah, ini gara-gara si tukang jual rumah itu. Kalau gitu, kita mesti cari dia”
Fajar :
“Iya Fis, bener tuh!”
Nafis :
“Oke, gue telpon dia”
Nafis menelpon Widi dan mengajak Ia
untuk bertemu, tanpa memberi tahu maksud tujuan yang sebenarnya dari pertemuan
mereka. Keesokkan harinya, mereka pun bertemu di daerah tanah lapang dekat
tower.
Nafis :
“Kita udah sampe nih. Mana ya orangnya?” (menoleh kesana-kemari)
Fabian : “Eh, tuh dia!” (sambil menunjuk ke arah samping dengan
wajahnya)
Widi :
“Selamat siaang.. ada apa ya, mengajak saya bertemu disini?” (Datang bersama
Sandi (ekspresi Sandi penuh tanda Tanya sambil melirik apa yang dibawa Fajar))
Fabian : “Jar, lukisannya!”
Nafis :
“ini! Bapak menyimpan rahasia dibalik lukisan ini kan?” (Mengambil lukisan dari
Fajar dan melemparkannya ke Widi)
Widi :
“Eh, maksudnya apa ya? Saya ngga ngerti”
Fajar :
“Eh, Pak, jangan pura-pura ngga ngerti deeh.. Bapak ngejual rumah itu karena
mau cari tumbal kan?”
Widi :
“Eh itu urusan saya ya!” (Sambil merebut lukisan)
“Lu urus mereka! Ajak temen baru kita itu!”
Karena kesal, Fabian pun meninju
Widi, namun ditangkis oleh Qeis. Mereka semua bingung akan sikap Qeis.
Qeis :
“Sori sob. Tapi gue, gabung sama mereka”
Fabian : “Eh, maksud lu apa Is?”
Qeis :
“Sori, gua pengen kaya. Jadi, gua gabung sama mereka”
Nafis :
“Tapi kan ngga dengan begini caranya Is”
Fajar :
“Ah udahlah. Karena lu udah gabung sama mereka. Lu juga lawan kita. Sini lu
lawan gua. Aaaarrrgggghhhh…” (Fajar segera menyerang Qeis)
Perkelahian
satu lawan satu itu pun berlangsung dengan panas. Qeis dengan Fajar yang
sebenarnya bersahabat. Nafis dan Fabian dengan Sandi, namun Fabian kalah, Nafis
pun terus melawan Sandy. Di tengah perkelahian itu pun, Fajar kalah dan
kehilangan nyawanya, Qeis yang semula dipenuhi panasnya api, berubah menjadi
lesu saat mendapati sahabat sekaligus lawannya sendiri harus mati ditangannya.
Qeis terduduk lemas, sambil meratapi Fajar, Ia pun mengingat masa-masa bersama
Fajar dulu.
Qeis :
“FAJAAAAAAAARRRRRRRR!!!” (Qeis berteriak)
Nafis menoleh
kearah Qeis setelah melayangkan pukulan telaknya ke Sandi dan menyebabkan Sandi
tumbang. Nafis sadar, Fajar telah tiada. Dengan kekesalannya, Nafis segera
menarik baju Qeis, mengangkatnya dan memukulnya.
Nafis :
“Tega lu ya Is ngelawan temen-temen lu sendiri Cuma demi harta. Sini lu!”
Qeis, dengan sisa tenaga dan emosinya
hanya mampu melawan sekilas.
Qeis :
“Sori Fis, sori Jar, sori semuanya. Gua nye-sel..” dengan suara terbata-bata
dan Qeis pun tumbang.
Sementara
itu, Widi masih terus berjalan sambil membawa lukisannya yang tadi dibawa
Fabian. Widi terus berjalan seraya tersenyum dan tidak mempedulikan keadaan
dibelakangnya. Widi pergi dan sulit dihubungi lagi oleh Fabian dkk.
SCENE 8
Sore
itu, seorang gadis tengah asyik berjalan-jalan sambil melihat kesana-kemari.
Dan pandangannya tertuju pada penjual lukisan di pinggir jalan. Gadis itu
mendekati si penjual lukisan dan melihat-lihat jaulannya itu. Gadis itu
tersenyum, Ia tertarik akan sebuah lukisan dan segera membelinya.
Setelah
selesai jalan-jalan sore, gadis itu pulang kerumahnya dan segera memasang
lukisan itu di dinding rumahnya. Gadis itu menelpon seseorang.
Gadis :
“Yang, kamu dimana? Jadi kan kerumah aku?”
Nafis : “Iya kesana kok. Lagi dijalan”
Gadis :
“Oke, aku tunggu”
Beberapa saat kemudian.
Gadis :
“Aku mau nunjukkin sesuatu”
Nafis :
“Apaan?”
Gadis :
“Aku tadi beli lukisan di jalanan. Bagus deh”
Nafis :
“Mana?”
Gadis :
“Itu, aku gantung di dinding. Liat aja!” Gadis itu adalah Della
Nafis menoleh ke belakang, Nafis
sangat terkejut. Dan..
THE END

No comments:
Post a Comment