SCENE 1
Di dalam kereta yang sedang melaju, Jan tengah termenung
melihat bayangan di jendela kaca kereta, melihat masa lalu dirinya saat Ia
tengah asyik bermain bersama teman masa remaja nya, di kota tempat tujuannya
itu.
SCENE 2
Jan : “Ayoo kalau
berani kejar aku!” (berlari menghindari kejaran seorang gadis)
SCENE 3
Kereta berhenti di sebuah stasiun yang menjadi tujuan pemberhentian
Jan. Jan segera keluar dan melihat-lihat kesana kemari. Memperhatikan detail
kereta yang sudah berubah sejak terakhir Ia meninggalkan kota tersebut. Saat
hendak melangkahkan kaki, seseorang memanggil namanya, Jan menoleh, tampak
disampingnya ada seorang pria dengan wajah serius sedikit tersenyum yang
dipaksakan berdiri membawa papan nama berisi namanya. Alberto nama pria itu.
Alberto :
“Benar kau Jan Koeswanto dari Jepang putra dari Sir Koeswanto?”
Jan :
“Ya, dan kau?”
Alberto :
“Sebaiknya kau ikut aku Jan, kami sudah menunggumu”
Jan :
“Menungguku?”
Alberto : “Selama kau dalam perjalanan, kau
pasti bertanya-tanya maksud tujuanmu dipanggil ke kota mu ini kan?”
Jan :
“Ya. Tapi, bagaimana bisa aku mengiyakan ajakan orang yang belum ku kenal?”
Alberto : “Baiklah, namaku Alberto, kawan
almarhum ayahmu. Ayo! Waktu kita tidak banyak Jan”
SCENE 4
Alberto segera bergegas dan di ikuti oleh Jan yang masih
dipenuhi tanda tanya dalam dirinya. Tentang tujuannya dipanggil ke kota masa
kecilnya, dan tentang orang ini yang mengajaknya pergi. Jan semakin bingung,
saat Ia tiba disebuah tempat yang mirip dengan laboratorium computer dan
dikenalkan pada dua wanita yang sama asingnya dengan pria tadi. Dua wanita itu
pun mengenalkan diri mereka sebagai kawan almarhum ayahnya, dan mereka adalah
para programmer.
Putri : “Kau tentu bingung Jan, mengapa kau
bisa sampai disini. Baiklah, silahkan duduk, dan amati gambar yang terdapat
pada layar proyektor itu!” (menunjukkan gambar yang dimaksud pada Jan)
Seketika Jan amat terkejut, dan wajahnya menyiratkan tanda
Tanya besar terhadap gambar yang ada di layar proyektor yang menampilkan gambar
seorang gadis yang amat dikenal Jan sebagai gadis masa remajanya tengah
tertidur pulas dengan posisi yang terlihat sangat kaku seperti orang sakit,
atau.. orang yang sudah kehilangan nyawa.
Jan : “Tolonglah
jelaskan lebih rinci. Apa maksud semua ini? Apa yang terjadi pada gadis itu?”
Putri : “Beberapa
bulan yang lalu, tepatnya saat ayahmu masih hidup, dan tinggal di Jepang
bersamamu, kota ini diteror bom nuklir oleh sekelompok teroris besar entah
dengan motif apa, mungkin balas dendam atau misi mereka. Itu bukan sembarang
bom, mereka telah membuat detonator bom nya dalam bentuk kode-kode dan alat itu
pun ditanamkan pada tubuh seorang gadis yang berada dalam gambar itu. Bila si
gadis terbangun dari tidurnya, maka detonator bom akan bekerja, dan bila si
gadis tak bernyawa, kota ini pun akan hancur karena bom tersebut akan meledak”
Jan : “Lalu
ayahku?”
Sarah : “Perlu kau tau
Jan, ayahmu meninggal bukan karena tenggelam tanpa sebab atau sebab yang
dimanipulasi lainnya. Lebih tepatnya, ayahmu meninggal setelah dibunuh oleh
para teroris yang merasa rencananya akan gagal itu dan melemparkan tubuh ayahmu
ke dalam kolam renang di salah satu sport center ini”
Jan : “Apa karena
ayahku yang seorang ahli di bidang ini mampu menemukan cara menonaktihkan kode
pengaktifan detonator bom itu?”
Putri : “Ya itu
benar. Sayangnya kami tak sehebat ayahmu dalam mengoperasikan prototype itu
yang alhasil menjadi ancaman baru bagi kota ini, kekacauan system
telekomunikasi. Dan itu sebabnya kami memanggil mu kembali ke tanah air mu ini,
karena sebelum ayahmu meninggal, Ia memberi tau kami pernah menyalin kode
rahasia itu pada micro SD yang senantiasa kau bawa kemana pun kau pergi itu,
karena itu pemberian ayahmu”
Jan :
“Dan, apa kembalinya aku kesini, hanya untuk merelakan micro SD ku di otak-atik
oleh kalian?”
Alberto: “Kau pun akan terlibat dalam misi ini Jan!” (Seru
Alberto dari arah lain)
Semua mata mengarah pada Alberto, Jan hanya mengerutkan
kening.
Sarah : “Kami akan
mencoba misi ini lagi, dan kami meminta kau untuk terjun langsung dalam input
kode tersebut langsung ke dalam tubuh si virus yang berkembang biak itu. Yang
telah mengacaukan system komunikasi di kota kita dan telah membuat kota
virtualnya sendiri menyerupai kota kita.”
Jan : “Aku masih
belum paham. Apa penonaktifan bom dan pembersihan virus itu bisa ditangani oleh
misi ini? Dengan cara apa? Pemrograman? Atau..?”
Sarah&Putri: “GAME!”
Jan mengerutkan kening
Sarah : “Tak ada
banyak waktu Jan, ayo lekas pakai alat itu!” (menunjuk suatu alat penuh dengan
kabel)
Putri : “Alberto,
siapkan semuanya!”
Mereka segera bergegas, Jan yang masih diliputi kebingungan,
menurut saja. Selama mereka memasangkan sebuah alat kepada Jan, mereka pun
terus menjelaskan apa yang harus Jan lakukan setelah sampai di kota virtual
tersebut. Jan harus menemui virus yang menyebabkan kekacauan komunikasi di kota
itu, mengalahkannya (didunia nyata berarti pembersihan virus dengan system
pemrograman dikolaborasi dengan video game) dan menanamkan langsung kode
pembatalan system kerja detonator bom yang mengancam kota itu.
Semua sudah siap, Jan sudah mengerti apa yang harus Ia
lakukan, dengan mantap Ia yakini apa yang harus Ia lakukan itu demi ayahnya,
kotanya, dan.. gadis itu.
Tombol ENTER ditekan, Jan memejamkan matanya, sesaat jiwanya
seakan masuk ke dalam lorong waktu dan tiba-tiba sampailah Ia di sebuah tempat
yang sebenarnya tidak asing untuk dirinya, namun terasa aneh, Ia merasa ada di
dalam sebuah.. GAME!
SCENE 5
Lencana Jan pemberian dari para programmer itu berbunyi, ada
yang menghubungi.
Biiip.. Kresek kresek.
Putri :
“Jan, apa kau sudah tiba? Layar monitor kami menunjukkan kau sudah berada
disana. Apa kau baik-baik saja?”
Jan :
“Ya, akan ku bereskan semua virus itu!”
Sarah :
“Baiklah, hubungi kami lewat lencana itu bila terjadi sesuatu, kami akan
senantiasa memonitor mu disini”
Jan : “Baik”
Bip. Hubungan diputuskan. Jan segera
melangkah. Ia merasa tidak asing, namun aneh. Di tengah perjalanan, Ia merasa
ada yang mengikutinya, dan benar, orang itu dengan wajah dingin dan kaku
menyerangnya begitu saja. Jan lekas menghindar, tiba-tiba ada sinar putih dan
muncul seorang lagi. Jan sedikit takut, namun ternyata orang yang baru tiba itu
menyerang orang yang sebelumnya. Biip.
Lencana berbunyi.
Sarah :
“Jan, itu kiriman dari kami, seorang Top Ranked Sniper Gamer yang akan melawan
virus yang akan menghalau jalanmu itu. Mungkin nanti akan ada lagi, bersiaplah
Jan, dan jangan takut!”
Bip. Hubungan
terputus.
Jan hanya menghela napas dan berlalu pergi meninggalkan dua
orang yang sedang baku tembak itu. Jan terus berjalan entah kemana, tujuannya
hanya satu, mencari virus yang menyerupai manusia, Ia sudah tau ciri-cirinya
seperti apa, namun belum juga Ia berhasil menemukannya. Tiba-tiba dari arah
belakang ada suara desingan peluru, Jan menoleh, dan berhasil menghindar dari kejaran
peluru itu, Jan mencoba mencari tempat persembunyian, dan sebelum Jan berhasil
menemukan tempat persembunyian, ada lagi suara desingan peluru, kali ini dari
arah yang lain, Jan mencari-cari seseorang yang menembakkan peluru lain itu dan
seketika lencananya berbunyi lagi. Biip.
Kali ini Alberto.
Alberto: “Kami mengirimkan satu lagi Jan. kau semakin dekat
dengan virus besar itu. Kami melihatnya dari layar system lacak kami”
Jan menghela napas lagi. Pikirnya, apa yang harus Ia lakukan
terlebih dahulu bila Ia bertemu dengan virus itu? Jan melangkah lagi, di arah
yang lain, Ia melihat seorang gadis yang sepertinya sangat Ia kenal. Gadis itu
memunggunginya, seketika gadis itu menoleh dan tersenyum. Namun seperti ada
pembatas antara Ia dan gadis itu, seperti penjara cahaya.
Gadis : “Jan” (berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri
Jan)
Tiba-tiba datang seorang pria berbadan besar dengan wajah
dingin dan kaku. Pria itu membawa sebuah laras panjang, tanpa ba bi bu, pria
itu segera mengambil posisi dan menembak ke arah Jan. Jan yang sudah terbiasa
dengan dua serangan sebelum dating pria itu, berusaha untuk menghindar lagi,
namun sayangnya, dengan gerakan slow
motion Jan terserempet peluru itu. Percikan darah menyeruak. Gadis di
seberang Jan berteriak. Jan bingung harus berbuat apa, sementara ditempat lain,
para programmer pun agak kebingungan, akhirnya mereka menemukan satu cara.
Bruk. Sebuah laras panjang jatuh dari
langit didepan Jan.
Biip. Lencana berbunyi.
Sarah :
“Kami mengirimkan itu Jan, pakailah untuk melawan musuhmu, lekas tanamkan kode
itu dan bawa gadis itu keluar, ke tempat awalmu!”
Tanpa pikir panjang, Jan segera mengambil laras panjang itu,
melupakan sejenak rasa sakit di tangannya akibat peluru yang menyerempetnya,
Jan segera ambil posisi, dan memulai aksi baku tembaknya dengan musuh yang
menyerupai ayahnya itu. Meski Jan
bukanlah seorang gamer handal, tapi Ia tau sedikit banyak cara menembak.
Baku tembak itu terus terjadi, akhirnya Jan mampu melumpuhkan
virus itu, virus itu seketika menghilang dan berubah wujud menjadi sebuah alat
yang terdapat tombol-tombol di badannya. Penjara cahaya yang merupakan pembatas
antara Jan dan gadis itu pun berangsur menghilang. Jan pun segera memasukkan
kode pembatalan bom ke alat tersebut. Perlahan, setiap karakter Ia masukkan
kedaam alat itu, dan munculah layar bertuliskan, KODE PEMBATALAN TELAH DI AKTIFKAN. Jan tersenyum, Ia menoleh pada
gadis itu, namun tiba-tiba ada suara sirine, Jan terkejut dan menoleh ke alat
yang di pegangnya, di layar monitor itu tertulis,
You have two choices:
1. You can log out of this game, if
you restart this game, and you will lose your memories about you and anyone at
this game.
2. If you will stay at this game
forever, your memories won't lost
Jan : “Putri, Sarah, Alberto, apa maksud dari
layar ini? Apa aku tidak bias keluar bersama gadis itu? Kau lihat isi
tulisannya bukan?”
Putri : “Jan, kau hanya punya dua pilihan. Keluar
atau menetap, bila kau ingin bersama dengan gadis itu selamanya, kau harus
tinggal dalam kota virtual itu selamanya, di dalam game Jan! namun, bila kau
berpikir lebih cerdas, kau tentu akan keluar dan sana meski kau akan kehilangan
ingatanmu bersama gadis itu bukan? Pilihan ada di tanganmu Jan”
Sesaat hening, Jan bingung
harus berbuat apa, waktu yang tertera di layar itu untuk memastikan pilihan
tinggal beberapa detik lagi. Jan amat menyayangi gadis itu dan ingin
bersamanya, namun bila itu pilihannya, Ia tidak akan pernah ada lagi di dunia
nyata.
Waktunya tinggal 10 detik
lagi, bila Ia tak menentukan pilihannya, maka Ia akan berada di dalam game itu
selamanya bersama gadis itu dan mungkin aka nada musuh yang lain.
Jan berpikir lagi, di
detik terakhir, Ia pasrahkan semuanya.
THE END

No comments:
Post a Comment