Thursday, October 05, 2017

Rumput Tetangga Lebih Hijau

"Lu, sih, enaak..!"

"Kok kamu bisa enjoy terus sih ngejalanin hidup, kayak enggak ada beban gitu, gimana sih caranya?"
"Biar pun susah tapi hidup lu tuh seru deh, enggak kayak gue, gini-gini aja. Flat! Kayak teori buminya orang-orang.."
Mungkin bukan cuma gue, tapi ada banyak dari kita yang mengalami hal serupa, dikomenin beginian. Kok bisa? *angkat bahu*

Sejujurnya gue pribadi, sih, rada kesel ya kalau ada orang yang ngomong kayak gitu, baik itu ke gue atau orang lain, baik itu tentang gue atau tentang orang lain. Ngapain, sih, mesti ngomong begitu? Ya, meski di sisi lain dengan adanya komentar seperti itu dari mereka, menjadikan gue lebih bersyukur juga, sih. Oh, Alhamdulillah kalau hidup gue terlihat menyenangkan, kalau gue bisa kelihatan enjoy ngejalaninnya, kelihatan tanpa beban.

Kelihatan..

Tapi masa, sih? Kayaknya gue tidak terlihat se-enjoy itu, deh.

Balik lagi. Jadi sebenarnya, sama seperti remaja pada umumnya, sama seperti manusia lainnya, meski gue enggak suka banget dibandingkan dengan orang lain, gue malah sering membandingkan diri gue dengan orang lain. Sebenarnya sama, sih, gue juga sering ngomong dan mikir kayak gitu tentang orang lain.
"Kok dia enak ya hidupnya.. enggak perlu susah-susah kayak gue.."

"Dia sih cantik, jadi banyak yang suka.."

"Seru banget, sih, bisa ke sana ke mari.. dia enjoy banget deh, apa enggak ada masalah ya di hidupnya?"
Satu-dua komentar gue lempar ke mereka, selebihnya gue simpan sendiri dan berujung pada kebetean dan melemahnya semangat atau rasa pede. Tapi makin ke sini gue makin mikir, sih, ngapain coba gue mesti mikirin hal kayak gitu? Urgent juga kagak, bikin stres doang. Sebenarnya, sih, masih wajar ya, namanya juga orang, namanya juga remaja, salut sih gue kalau ada remaja yang enggak sempat mikir begitu, tapi agaknya jarang ada, deh!

Gue masih sering mikir begitu sampai akhirnya gue kesel sendiri kalau digituin.
"Kok, nih orang nyebelin juga ya ngebanding-bandingin mulu, enggak bersyukur amat, sih.."
"Dia bilang hidup gue enak, waah.. dia enggak tahu aja gimana susahnya gue, mesti banget ya gue jelasin?"
"Emang gue kelihatan enjoy ya? Kayaknya gue malah sering ngeluh, deh, apa di depan dia gue kurang ngeluhnya? Tapi bagus, sih, kalau kelihatan enjoy.."
Sama kayak Kak Gita Savitri yang sempat nulis kekesalannya di blog karena ada banyak orang yang sering nuduh dia kaya, tajir dan sebagainya karena bisa kuliah di luar negeri dan atau dituduh bla bla bla lainnya. Yaa, lu lihatnya dari luar doang, sih.. Enggak semua orang yang bisa kuliah di LN tuh setajir itu meski tanpa beasiswa, enggak berarti mereka juga buang-buang uang atau enggak menghargai pendidikan Indonesia, berarti sombong, de es be. 

Atau misal lu lihat ada orang yang fisiknya lebih oke dari lu berarti hidupnya lebih asyik, banyak yang naksir, bisa endorse barang di IG, yhaa lagi-lagi lu cuma lihat dari luar doang, Ken.. bisa aja dia sebenarnya agak risih juga karena saking cakepnya.

Atau orang pintar, bisa masuk universitas mana aja karena otaknya encer, asyik bener kelihatannya. Lagi-lagi cuma kelihatannya aja, bro! Atau juga anak pejabat atas, udah pasti bisa beli apa aja, nih, bisa setiap bulan ke luar negeri, nih, wuaah!

Terus ngelihat ke dalam diri, "Kok gue gini-gini doang, ya.. Kok gue enggak sehebat mereka, ya.. Kok hidup gue enggak seseru mereka, ya.. Kok gue belom lulus lulus kuliah, ya.. Kok gue belum nikah-nikah, ya.. belum kerja ya.. belum bisa ke luar negeri, ya.."

Sekali lagi gue denger pikiran gue ngomong begini, atau denger orang lain ngomong hal yang sama, rasanya pengen gue jitak dah!

Hello! Ada banyak orang-orang di luaran sana yang memimpikan hidup yang sama seperti yang lu alami, Ken! Bahkan meski lu merasa hidup lu biasa-biasa aja, enggak bisa dijadiin bahan buat nulis novel, cuma sekolah/kuliah/kerja gitu-gitu aja pulang-pergi, hang out sama temen, main sama kucing, mainstream, rutinitas, tapi ya..

Kalau otak gue lagi waras, setiap kali gue ngeremehin hidup gue, kemampuan gue, keterlambatan gue, tiba-tiba ada bayangan orang-orang di luar sana. Seharusnya kalau gue mau membandingkan diri, sih, ya memang dengan orang-orang seperti mereka. Yang enggak lepas dari rasa takut kalau tiba-tiba ada tembakan, bom, atau di jalan malah diperkosa. Atau juga mereka yang mau makan aja harus nyari sisa makanan, beras yang bocor di jalan, mau belajar tapi cuma bisa pakai lilin, masih ada lho mereka yang begitu.. kok gue enggak tahu diri amat ya kalau enggak bersyukur, kalau selalu memandang hidup orang lain lebih asyik dibanding gue. 
Allah tuh enggak salah bikin skenario lagi! Allah enggak asal doang pas bikin cerita!
Ya, kalau lu mau belajar percaya sama Allah, sih, hidup se-flat apa pun bakalan seru-seru aja. Sesusah apa pun, senyebelin apa pun, lebih sering nangisnya ketimbang ketawa, lebih banyak ngutangnya dibanding bagi-bagi, ya.. slow aja.. ada Allah! *eaa

Dan, ada banyak banget kutipan-kutipan bijak di luar sana menyangkut ini, kalau mau coba dipahami sedikit, mungkin akan membantu.

Gue jadi ingat tadi pas jalan-jalan di Facebook ada orang yang post tentang zona waktu. Katanya, New York itu tiga jam lebih awal dibanding California, tapi itu enggak berarti California lambat dan New York cepat, mereka bekerja sesuai 'zona waktu'-nya masing-masing. Itu sama kayak orang yang lulus kuliah di tahun segini yang lain segitu, orang yang menikah di usia matang atau yang muda, orang yang udah dapat pekerjaan dan yang belum, semua ada waktunya, sih..

Gue juga jadi ingat soal ikan dan burung. Kayaknya enak jadi ikan bisa berenang, tapi seru juga jadi burung bisa terbang. Hmm.. rumput tetangga emang selalu lebih hijau, ya.. 

"Kita ngelihat orang lain hidupnya enak, orang lain ngelihat kita pun enak. Hmm. gitu aja terus.."

Tapi, ngebandingin diri enggak selalu buruk sih kalau mau ngebandinginnya untuk evaluasi, untuk perbaikan dan nambah kesyukuran.

Tapi juga, gue masih selalu kesel, sih, kalau ada orang yang memandang hidup gue selalu enak, keenakan, enggak banyak beban, kurang berjuang. Mungkin emang iya, dibanding mereka gue jauh lebih beruntung, gue syukuri itu. Mungkin emang iya gue enggak sesusah itu, enggak harus seberjuang mereka. Tapi apa mereka enggak tahu kalau gue pun memimpikan hidup seperti mereka? Apa mereka lupa latar belakang gue meski udah gue jelasin? Apa gue pun harus berjuang sesuai standar mereka supaya kelihatan sama dan enggak dibandingkan? Kita mesti selalu menjelaskan enggak sih?

Gue ngomong kayak gini karena over thinking, baperan atau ini fakta ya?

Yaa.. terserah apa pun itu, pada akhirnya tulisan ini bukan karena gue lebih paham, lebih baik, lebih ngerti, bukan karena pengin nyeramahin orang lain soal hidup tapi lagi-lagi supaya gue enggak lupa kalau gue mesti bersyukur, dan bersyukur. Enggak lagi membanding-bandingkan kalau enggak membangun. Enggak apa-apa, kok sebenarnya, wajar, tapi dikontrol yak. Kalau malah ada yang enggak pernah ngebandingin hidupnya, feel free buat share-lah, yaa.. dan jangan judging. Ini kok gue jadi sok ng-english gini -__-

Oya, mungkin bukan cuma orang kaya, orang cakep, orang pintar, atau orang-orangan lainnya aja yang dimimpikan hidupnya. Bisa jadi, orang-orang seperti warga Palestina, Suriah, gitu-gitu pun hidupnya di-iri-in orang-orang, ya.. bisa jihad.. whoaa.. 

Berarti emang udah polanya begitu, kita ngelihat orang, orang ngelihat kita. Yang perlu kita lakukan mungkin untuk lebih bersyukur dan mencoba melihat dari kacamata mereka, nyobain berdiri di atas sepatu mereka supaya bisa lebih mikir dan enggak langsung nge-judge melulu.

Udah, sih, gitu aja. Mungkin ini sangat curhat, dan ini terinspirasi dari omongan temen gue, sih.. Semoga hidup lu juga selalu berkah dan seru ya :) nikmatin aja, bro mau kayak gimana pun. Semoga gue pun bisa selalu nikmatin dengan baik, ya.. mungkin sesekali gue bakalan ngeluh ke orang atau medsos, tapi moga kebanyakan di depan Allah aja. Saling belajar percaya aja, deh, kalo everything's gonna be okay! Enggak ada yang terlambat dan disesali sebesar-besarnya, semua punya Everest dan zona waktunya masing-masing. Ganbareeeee!


--
0510-2017
Hakozaki, Jp.
Gue jadi bingung ini tentang apa.

No comments:

Post a Comment