"Kamu kenapa, sih, kok diam aja?" Seorang Mbak asal Myanmar bertanya.
"Iya, nih, dari tadi kenapa diam terus? Sakit, ya?" Kali ini ditimpali Mbak asal Vietnam.
"Atau, ada masalah?"
Saat bel tanda istirahat berbunyi, teman-teman di sekitarku menghampiri, bertanya keadaanku. Bukan hanya teman-teman wanita, tapi yang pria pun sempat bertanya.
"Ri-san, kenapa, sih, diam terus? Biasanya berisik," itu kata seorang teman pria asal Nepal yang biasa berisik, dan dia bertanya di tengah-tengah pelajaran, membuat beberapa yang mendengar ikut melirikku, "Iya, nih, nande*?"
"Lah, emang gue kenapa?" Dan aku balas bertanya pada diri-sendiri.
Tidak hanya sekali sebenarnya, dan aku anggap ini biasa saja. Aku 'kan katak, bisa di air atau di darat, bisa sangat berisik bisa juga sangat diam. Dan bukan hanya aku, sepertinya lumrah untuk beberapa orang, termasuk temanku yang lain, kami pun sempat menanyakan hal serupa.
"Jadi, kenapa?"
"Eh, enggak kenapa-kenapa, kok! Dadaku cuma agak sakit aja, agak enggak enak aja rasanya," padahal sewaktu ditanya sakit atau tidak aku menjawab tidak, tapi sebenarnya aku memang tidak bohong, dadaku agak sesak, masuk angin mungkin, tapi aku tidak merasa sakit juga, karena buatku sakit itu saat benar-benar tidak bisa bangun dari tidur.
"Oh, aku tahu, perasaan kamu jadi enggak enak, ya?"
Aku bingung apa yang dimaksud perasaan tapi aku tetap mengangguk, karena memang rasanya tidak nyaman dan membuat aku malas aktif di kelas.
"Ah, itu pasti karena cowok. deh!"
Eh?
"Sudahlah, enggak usah dipikirkan! Cowok itu ada banyak, kok! Lagipula usia kamu berapa, sih? Baru juga dua puluh tahun, kan? Santai aja!" Ini menurut Mbak-mbak Vietnam tadi, yang memang paling sering berbincang denganku.
"Eeeh..." Aku menggeleng, kenapa jadi cowok?
"Iya, sih, sudah-sudah enggak usah dipikirkan, emang enggak enak, sih, tapi ya sudahlah!"
Aduh, kalian salah tangkap.
Aku menolak mentah-mentah gagasan mereka. Kenapa jadi ke arah sana? Mungkin karena keterbatasan bahasa membuat mereka salah tangkap, atau aku yang salah mengerti. Tapi biar bagaimana pun, mereka tidak seratus persen salah, sih.
---
"Menurut BKKBN, usia minimal menikah itu usia dua puluh satu tahun, lho!" Saat asyik memotong sayuran dan ayam untuk berjualan bakso, tiba-tiba perbincangan bersama Mbak-mbak dan Mas-mas berubah ke arah sana, itu karena sejak awal ada teman yang diledeki terus dengan seorang pria.
"Eh, umur kamu berapa, sih?"
Aku menjawab dua puluh.
"Ah, yaudah masih kecil, nanti aja."
"Iya, Mbak, aku masih polos," dan aku benar-benar sok polos.
---
"Jadi, wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, rupanya, keturunannya dan karena agamanya."
Aku mengangguk-angguk, sudah hapal materi itu. Dan alasan terbaik adalah karena agamanya.
"Nah, jadi laki-laki itu memang memilih, tapi wanita juga berhak menolak."
Diskusi soal ini selalu seru, kelompok kecil kami kebagian jatah untuk mengisi materi ini, padahal sebenarnya orang-orang kami adalah Mbak-mbak yang belum satu tahun menikah dan Mbak-mbak yang single, termasuk aku.
Sebenarnya aku selalu merasa tabu untuk mengikuti pembahasan ini, serasa masih kecil dan polos. Tapi aku sadar bahwa urusan ini bukan dipersiapkan dalam beberapa bulan sebelumnya, urusan materi mungkin oke, tapi kalau pembelajaran itu harus sangat jauh-jauh sebelumnya. Saat kamu bertanya menikah di usia dua puluh lima, seharusnya bukan di usia dua puluh empat tahun kamu baru mempelajari soal pra-nikah, tapi minimal harus lima tahun sebelumnya. Minimal, lho!
"Berarti tinggal tiga orang lagi, ya, eh empat yang di kelompok kita."
"Eh, tiga aja dulu yang urgent! Yang ini sih masih kecil, berapa, sih? Dua puluh tahun, ya?"
Aku mengangguk lagi atas seluruh pertanyaan itu. Iya, iya, aku tidak keberatan kok!
AKu memang sangat tidak keberatan di-akhirkan untuk urusan ini, karena memang masih ada yang lebih darurat. Tapi bukan berarti aku tidak berharap diprioritaskan juga, sih. Bisa dibilang usia sepertiku memang lebih ingin berkarya dulu, belajar yang banyak, tapi karena keadaan sana-sini terus memberondong dengan urusan itu, mau tidak mau aku jadi seperti ini. Seperti Mbak-mbak galau yang menunggu pangerannya, hehehe peace.
Dan satu hal yang menambah risih adalah, jadi ikut-ikutan diledek, disandingkan dengan beberapa nama, yang kalau aku pikir ada beberapa yang rasanya kurang pas. Mungkin aku terlalu sombong saat coba disandingkan dengan satu nama lantas aku berpikir dalam hati, "Apa? Enggak ada yang lain apa? Gue enggak berhak disandingkan dengan yang lebih baik apa? Gue udah berusaha untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, lantas harus disandingkan dengan dia? Kalau dari segi fisik biasa aja tapi agamanya baik sih masih oke, tapi kalau shalat aja masih ditunda-tunda, apalagi bolong-bolong. Ya Allah, serendah itu kah kualitas diriku? Apa aku enggak berhak dapetin yang lebih baik?" Dan rasanya aku ingin menangis, satu karena diledek dengan seseorang yang seperti itu, dua karena ternyata aku sombong sekali menganggap diriku high quality. Dan mereka yang meledek seperti itu hanya tertawa, Ya Rabb. Dan memang bukan hanya aku sebenarnya yang diledek seperti ini, menjadikanku sadar bahwa aku pun tidak boleh ikut meledek ke orang lain seperti ini, rasanya tidak nyaman.
Tapi bukan berarti, saat disandingkan dengan yang super keren akan menjadi lebih baik. Tidak juga, mungkin aku akan senang-senang saja, tapi bagaimana dengan orang itu? Mungkin dia justru menganggap aku yang sangat low quality jadi dia pun berpikir yang sama denganku.
Ya, manusia. Memang bermacam-macam dengan segala pikiran yang keinginannya.
Dan untuk urusan ini, aku jadi ingat,
"Tapi belum tentu, kok, yang keliatannya terbaik banget untuk kita akan jadi yang terbaik. Selama dia masih shalat lima waktu, sekali pun enggak shalih-shalih amat, bisa jadi Allah jadikan dia yang terbaik dibanding yang shalih banget. Kita enggak tahu, bisa jadi nanti dia justru jadi pendorong yang lebih kuat untuk beribadah. Tenang aja, Allah tahu yang terbaik."
Akhirnya aku dapatkan jawabannya.
"Intinya diserahkan sama Allah aja, ya?"
Iya, intinya begitu. Jangan galau terus, ya, Mbak-mbak.
Jangan galau dan tiba-tiba jadi pendiam, ya, Ri-san. Meski sebenarnya bukan untuk urusan ini, sih, aku jadi diam di kelas.
Dan jangan asal menggoda seseorang dengan orang lain, ya. Kalau mau jadi mak comblang memang pahalanya besar, tapi dilakukan dengan adab yang baik, ya.
Udah gitu aja. Sangat tidak beraturan, karena ini memang hanya sebuah curhatan.
---
*kenapa?
---
*kenapa?
No comments:
Post a Comment