Saturday, March 25, 2017

Happy Birthday!

Ulang Tahun.

Oke, akhirnya gue dapet juga tema untuk menulis. Hahahaa.. sebenernya ada banyak, sih, tapi lagi-lagi gue bingung memulainya. Dan karena hari ini adalah hari ulang tahun kakak ketiga gue, let's have a seat and eat some snacks! Karena gue mau ngajak ngobrol.

Eh tapi, cakes aja, deng!

---

So, apa, sih "ulang tahun"?

Mm.. udah jelas, sih, ya kalau kita mengacu ke frasanya, artinya enggak lebih dari tahun yang diulang. Yaa.. panjangnya, sih, suatu tanggal dan bulan kelahiran yang ke depannya terus berulang saat seseorang masih hidup, hanya tahunnya saja yang berbeda--karena adanya perhitungan waktu.

Dan sambil menulis ini, gue iseng googling dan baca-baca sekilas. Cukup banyak juga, ya, yang bahas tema ini, terutama dari segi agama, termasuk di Wikipedia sendiri. Nah, terlepas dari apa yang mereka katakan, entah mungkin akan sama atau sama sekali tidak, gue mau coba beropini. Namanya opini, subyektif so pasti.

Terkadang gue mempertanyakan, darimana suatu hal itu bermula? Darimana sebuah kata itu terwujud? Sejak kapan, sih, orang-orang tuh mulai bertradisi? Termasuk soal ulang tahun. Siapa gitu yang iseng kasih nama, terus nambahin embel-embel, nyebarin. Dan jadilah, boom!

Jadi populer kalau ulang tahun tuh biasanya ada kue, lilin, ucapan selamat, nyanyian, bahkan balon dan topi kerucut. Dan semua benda itu biasanya ada di satu ruangan dimana sebuah pesta digelar.

Ha? Pesta?

Pas kecil, gue seperti beberapa anak lainnya sering banget diundang ke berbagai acara ultah (disingkat aja, ya!) temen-temen. Entah temen sekolah atau ngaji atau main. Entah lebih besar atau lebih kecil. Dan, ada undangan, ada kue ada snack, otomatis harus ada kado juga dong? Iya, gue dapet potongan kue dan snack tapi tiketnya ya gue mesti kasih kado. Hahahaa, entah kenapa jadi lucu. Kayaknya itu enggak lebih dari sebuah tradisi awal sebelum ada uang, deh. Coba tebak? Yak, barter.

Sebenernya, sih, gue seneng-seneng aja ke acara begituan, terus ikutan mecahin balon biar dapet doorprize, tapi di sisi lain jadi sedih juga, aduuh kok pengin ya dirayain juga, ya? Pengin dapet kue dan kadoooo! Alhasil gue berasa temen-temen gue tuh curang banget, gue ngadoin mereka tapi mereka zenzen! Enggak ada pesta, enggak ada kado!

Mungkin bukan cuma gue, beberapa anak lainnya pun seperti itu. Berpikir seperti apa yang gue rasakan. Kadang gue merengek ke orang tua dan keluarga, sambil ngingetin mereka soal foto kakak kelima gue yang ultahnya sempat dirayain pas usia lima tahun. Tapi lagi-lagi gue cuma dibilang, "Iya nanti pas tujuh belas tahun aja!"

Well, ada tradisi baru deh, perayaan ultah di tujuh belas tahun.

Sayangnya--atau mungkin untungnya--seiring bertumbuhnya gue dan bertambahnya usia, pesta ultah bukanlah lagi menjadi incaran. Yaiyalah, masih ada yang ingat aja gue bersyukur. Orang tua memang bukan yang terlalu peduli soal ulang tahun. Keluarga kami memang biasa aja menanggapi hal itu. Kakak ketiga gue aja yang biasanya paling rajin ngucapin dan lama-lama ngasih kado. Disusul ucapan dan doa-doa kakak yang lain. Gue, sih, cukup tersenyum aja. Lalu merembet juga ke temen-temen, meski tanpa kado, tanpa surprise yang memang jarang ada, yaa, setidaknya mereka ngasih gue sebuah tamparan di pipi khas kalau ada yang ultah. Yaa, setidaknya gue masih cukup diingat mereka. Gue bersyukur.

Dan semakin bertambah lagi usia, mencapai angka tujuh belas dan lebih, gue semakin tidak berminat soal perayaan ultah. Bahkan ucapan. Bahkan kaa..dd.. enggak deng, kalau kado gue masih ngarep, wkwkwkwk, dan ada beberapa yang kasih juga, sih.

Lalu ya, sejak ada jejaring sosial, gue sempat membuat perbandingan berapa banyak mereka yang mengucapkan "HBD" alias "Happy Birthday!" di tahun ini dan tahun lalu. Mencari tahu apa yang membuat mereka mau sekedar mengetik kalimat itu dan tidak mau melakukannya. Dan rasanya, itu berbanding lurus dengan sikap gue juga, sih. Kalau gue ngucapin ya mereka pun akan balik ngucapin.

Tapi lambat laun gue belajar,

"Ah, udahlah enggak udah ngarep diucapin meski tetep kepengin."

"Ah yaudahlah, mungkin yang enggak ngucapin tuh sebenarnya ingat, mereka mendoakan aja tapi enggak mau terlihat, biar mujarab."

Yap! Pola pikir baru! Di masa itu, saat gue bertanya sana-sini soal hakikat ulang tahun, gue memutuskan untuk sebisa mungkin tidak mengucapkan selamat pada mereka yang sedang ultah. Doa aja cukup. Dan enggak perlu diumumin. Karena agama ini rasanya tidak pernah mengajari soal ultah dan embel-embelnya. Role model kami tidak menjalankannya. Kitab kami tidak menuliskannya. Dan, yaa.. di masa itu, enggak asing deh soal perdebatan mengenai maulid Nabi.

Jadi, mesti gimana, sih, sebenarnya kita saat sedang berulang tahun? Ada kue boleh?

Gue sama sekali bukan pakarnya di bidang ini, bahkan di berbagai bidang. Cuma sedikit baca, ikutan diskusi dan mengamati. Pengin sekali membahas ini lebih dalam, tapi gue jadi takut, gue hapus lagi kalimat yang mau gue tuliskan, belum kapasitasnya. Nanti deh, ya.

Tapi maksud gue menulis ini, lagi-lagi cuma mau curhat. Bahwa, semoga saja saat kita memberi ucapan pada seseorang, memberi hadiah, baik itu di momen spesial hari kelahiran atau apa, semoga bukan dengan niat harap kembali. Ini dia yang gue pikirkan akhir-akhir ini. Semoga saja, saat gue sedang ingin berbuat baik, memperhatikan orang, semua itu bisa tulus tanpa berharap akan diperlakukan sama. Bukan tidak mungkin, sih, gue berharap, bukan tidak mungkin saat gue mendoakan orang agar didoakan balik. Tapi, semoga saja, atas seluruh sikap itu, kalau mau berharap ya ke Allah aja biar enggak kecewa. Saat kini ngasih hadiah ke orang, tapi orangnya enggak ngasih balik, semoga saja hati ini tidak kecewa, dan bisa ikhlas.

Yaa, hari ini gue kembali diingatkan, ikhlas itu emang perkara yang sulit banget, gue jadi kecewa sama diri gue sendiri. Ternyata saat melakukan suatu hal yang disebut kebaikan, gue masih berharap agar hal itu tidak sia-sia. Padahal, ngasih mah ngasih aja, ngelakuin mah lakuin aja, urusan hasilnya akan sesuai harapan atau tidak, ya belakangan.

Yaa, ikhlas itu sulit, ya?

Dan perlu sering latihan untuk melatihnya.

---

Lagi-lagi random, tapi gue pribadi, sekarang masih suka ngucapin selamat buat yang ultah, dilihat dulu, sih, siapa orangnya, seperti apa. Kadang gue kasih "Barakallahu fii umrik.", moga umurnya berkah. Kadang, "Selamat ulang tahun!", kadang keduanya. Atau mendoakan aja diem-diem. Sempat juga ngasih kado, bahkan kue dan surprise. Iya, sih, itu bukan budaya 'kita', sebisa mungkin ambil yang baiknya aja kalau mau, kalau dirasa ada yang useless ya jangan dipakai. Kue, sebisa mungkin pengin menghindari lilin dan ritual meniupnya, sih, menghindari topi, dan musik hura-hura. Berdoa di depan lilin juga agak gimanaa gitu. Karena buat gue (idem sih sama kata orang), ulang tahun itu lebih ke ngingetin kita soal sisa pasir di jam kehidupan kita. Reminder kalau udah tua dan udah ngapain aja. Momen untuk evaluasi, juga bertarget.

Saat gue sosoan care sama yang ultah, gue cuma mau ngingetin mereka aja kalau mereka masih punya seseorang, mereka spesial. Karena ini masuknya ke urusan psikis, sih. Karena gue rasa (pendapat pribadi banget), se-anti-nya seseorang soal ultah dan embel-embelnya, setidaknya ia tetap ingin diperhatikan, diakui, minimal ya diingat hari ultahnya, apalagi dikasih doa yang super duper, itu dia sebenarnya kado paling oke. Doa, enggak terlihat sekarang, sih, tapi nanti Allah yang nunjukkin :)

Anyway, kasih tau ya kalau ada yang salah :) daan gimana rasanya, ya saat enggak ada satu pun yang ucapin selamat ultah ke kita? 

No comments:

Post a Comment