Friday, February 05, 2016

Spasi Harap

Hampir setiap hari, pagi dan sore, aku mengejarnya.
Yang lain pun sama menunggunya denganku.

Maka, berdirilah kami di sepanjang jalur menunggu.

Ia datang, kami masuk.
Tak ingin aku berharap muluk.
Tak perlu kudapati tempat untuk memangku diri, karena, aku bisa berdiri sendiri.

Cukup beri aku sebuah spasi.
Di bagian termudah aku bisa menjangkau sana-sini.
Aku merasa cukup. Hanya di depan saja. Muka pintu.

Terkadang, kamu memang begitu bersifat ke-aku-an.
Kau biarkan aku tak mendapat singgasana, hanya berdiri pegal saja.
Kau sering merasa tak apa, terhadap aku yang menghadap pintu.
Kau bahkan tak biarkan aku mengetuk, barang sekali.

Aku pun terdiam, sendiri.

Aku bahagia saat masuk, namun, ingin pula lekas keluar.
Bagaimana mungkin?
Aku tak kuasa menahan dinginmu, aku tak kuasa menatap yang menempatimu, aku tak kuasa hanya memandang keluar.

Tapi, lagi-lagi, entah setan darimana, aku tetap saja merasa cukup.
Berdiri di depan pintu, menjaga siapa yang akan masuk,


Ke dalam hatimu...



---
05 Februari 2016,
Oleh aku, yang belum mendapat singgasanamu.

No comments:

Post a Comment