Saturday, January 09, 2016

Katanya Ia Malang

Kemarin ia menangis. Di bawah sebuah bantal empuk dalam naungan langit yang mulai hitam pekat. Seorang bocah yang mulai tumbuh itu menangis. Tanpa air, tanpa isak.

Kaki-kaki yang tak lagi mungil, telah dipaksanya untuk berjalan. Meniti tiap kerikil panas, tanpa alas. Si bocah itu hanya bisa menatap langit, ingin lama, namun nyatanya sebentar, berharap hujan datang, namun ada yang bilang itu belum waktunya.

Si bocah yang begitu polos, untuk kemudian dibodohi. Terlalu banyak kebohongan. Terlalu banyak duri yang dibungkus krim coklat. Bocah yang malang. Ingin rasanya berbalik arah saja, berlari menuju pintu rumah, dan menutup dari dalam. Menikmati segelas es limun dengan camilan renyahnya.

Atau menuju jurang, menjatuhkan diri ke lautan semak-semak berduri, mungkin juga sungai berbatu. Menghempaskan sebebas-bebasnya, tak peduli bagaimana nantinya.

Ide lain, berpikir tak pernah di titik ini sejak awal. Karena untuk apa? Meng-ada-kan diri yang sejatinya tak ada... lebih baik, tak pernah ada saja... selamanya...

Bocah malang...
Ingin itu ingin ini namun hanya ingin...
Ia bingung bagaimana memetik bulan. Ia bingung bagaimana menangkap mentari.
Bagaimana tidak? Bumi saja bukan dirinya...

Bocah malang...
Ia berharap dan rasanya hanya berharap ingin memperbaiki gelas yang pecah. Namun sayangnya, ada gelas lain yang ia pecahkan. Melukainya, dan semakin sulit diperbaiki.

Gelas yang pecah... bagaimana, hei?

Dan bocah yang...
Ma-lang?
Bagaimana bisa kau labeli ia begitu, ia bahkan belum menemukan ujung garis perjalanannya.
Kita tunggu saja. Semalang itukah?

---
28/12/2015, Kenti Lestari

No comments:

Post a Comment