Wednesday, December 16, 2015

Warna Kita

Kamu merah, dia jingga, mereka kuning, yang di sana hijau, ada pula berwarna biru, nila dan ungu.

Aku? Entah aku warna apa, yang kurasa, aku masih sama dengan kamu sekalian. Memang, warnaku sedikit buram, hingga tak jelas terlihat.

Tapi tahukah?
Aku banyak mendapatkan 'harta' dari kamu.
Aku mendapat jawaban atas pertanyaan.
Aku menemukan yang hilang.

Tapi tahukah?
Aku pun sering tersenyum atas kamu.
Aku tertawa, bahkan terpingkal.
Itu karena aku sebal.

Terkadang, masing-masing dari kamu saling membanggakan.

Merasa,
Merahlah yang paling berani!
Jingga yang tak kenal lelah!
Kuning yang tercerah!
Hijau yang damai!
Biru menenangkan!
Dan sebagainya.

Lalu aku apa? Bagaimana?

Ada di antara kamu yang menganggapku bagian warnamu,
Ada pula yang dengan begitu, tak mengacuhkanku.

Saling berbangga, siapa bilang itu salah?
Namun kuharap, saat kita mencelupkan kain pada satu warna, semoga itu memang pilihan kita,
Tak perlu sambil mencoret warna lain,
Mengatakan hanya warna ini yang terbaik.
Dan warna lain lebih buruk.

Maka aku tersenyum. Aku tertawa.
Apalagi saat kamu-kamu saling meninju.
Melempar ini dan itu, saling beradu.

Maka aku tersenyum. Aku tertawa.
Bagaimana mungkin bisa selucu ini?
Tepatnya semiris ini? Bukankah Sebenarnya kita ini sama? Hanya warnanya saja yang berbeda.

Bukankah justru warna-warni kita akan membentuk sebuah lukisan yang indah? Tentu saat bersama.

Ya, hei! Bukankah itu namanya pelangi?

Tentu saat kita bersatu padu. Melawan tiap-tiap gemuruh langit dan warna suramnya.

Tapi,
Kalau aku saja yang katanya bagian lingkaran warnamu masih tertawa,

Lalu,
Bagaimana dengan mereka?
Mereka di luar formasi pelangi, yang justru ingin menghilangkan hujan agar tak tercipta kita.

Maka, tulisan ini pun mungkin tidak sempurna benar. Kau boleh membela, itu hakmu.

Namun, izinkan aku mengungkapkan, apa yang selama ini tersimpan.

Tanpa jelas kutahu pada siapa harus kusampaikan, ke sana mungkin aku akan dicela, ke situ mungkin aku akan dihina.

Sempat aku ke beberapa tempat, namun cukup begitu saja.

Maka, mungkin di sinilah tempatku. Di mana aku bisa berseru. Mengungkapkan, ini dan itu.

:)

---
16122015, Kenti Lestari.
Ingin kusampaikan pada dunia,
Namun ku tak cukup punya kuasa.
Entah ini menyindir siapa.
Aku rasa, tak hanya kutujukan pada satu bidang warna saja.

Memang tak mudah menyatukan,

Tapi, apa memang benar sudah kaucoba?

---
Kata editor (summon: Annisa Fitrianda Putri), rimaku masih berantakan, dan jangan jadi penulis malas! ☺☺

No comments:

Post a Comment