Wednesday, December 16, 2015

Ah Pujian!

"Wah, kamu cantik sekali!" Sebuah akun dengan nama pria mengomentari salah satu foto wanita cantik yang melayang di media sosial.

"Tulisanmu bagus, aku suka!" Ini kata seorang teman pada tulisan temannya.

"Suaramu merdu, boleh doong kapan-kapan dinyanyikan kamu!" Sambil mengerling, seorang lelaki berbaju belang menggoda gadis pemusik jalanan.

---

Ah Pujian!

Judul ini sudah aku siapkan sedari dulu, namun tak sempat aku maju. Baiklah, aku memang sok sibuk melulu.

Seorang penulis papan atas pernah mem-posting tulisan bernasehat,
"Saat kau memuji saudaramu, itu artinya kau tengah memenggal lehernya." Beliau mengutip itu dari seorang model yang bukan lagi bisa disebut papan atas.

Ada juga yang mengatakan, menurut ilmu kejiwaan-ini aku lupa sumbernya darimana dan malas mencarinya-intinya memuji itu bisa sebagai bentuk penghargaan terhadap seseorang.

Pujian bisa menaikkan rasa percaya diri, bersemangat lagi. Juga, membuat senyum-senyum sendiri ;)

Sebenarnya itu asumsi pribadi.

Dan...
Aku tak pernah sekalipun tak berharap pujian. Karena aku senang.
Bahkan bisa dibilang, aku sering ingin mendapat lebih, sebelum kutahu, sebelum niatku baru.

Pujian tak selamanya baik, memang.
Pun tak selamanya buruk.
Pada akhirnya aku kembali pada sebuah sifat bernama netral.

Eh? Kata sifatkah itu?

Pujian yang sewajarnya, itu cukup. Setidaknya untuk mengabsen, bahwa ternyata, "Aku ada!" di tengah mereka yang memang 'berada'.

Sekian.

---
16122015, Kenti Lestari.
Tulisan konyol tanpa landasan yang jelas, aku tahu.

No comments:

Post a Comment