Haloo..
Selamat malaam...
Sebelum kembali lupa, izinkan gue melakukan ini semua, hahahaa..
Tahu rantai? Pernah denger pesan berantai? NAH! CAKEP!
Di bawah ini bakalan gue bagi cerita ajaib rekaan gue dan beberapa penghuni OWOP 3 lainnya dalam permainan #CANBERA alias, "Cerita Aneh Berantai" bhahahaa..
Gimana cara mainnya? Mengutip dari blog-nya Neng Tiara, "...dimulai dari absen lalu paragraf pertama ditentukan
oleh admin dan selanjutnya para peserta menyambung paragraf secara
berurutan dengan waktu yang ditentukan (5 menit)."
Ngerti gak? Yak pokoknya per-paragraf itu beda orang. Eh bahkan satu orang bisa lebih dari satu paragraf, karena keasikan berimajinasi *gaya Spongebob*. Jadi wajar aja kalau ada rasa yang berbeda di tiap paragrafnya, hohohoo Tujuannya ya biar terus semangat berkarya doong. Membentuk mental penulis.
Yak, baiklah! Tak usah berlama-lama, ini dia! (pssst. ini nyomot dari blognya Neng Tiara juga nih)
***
Hari semakin petang, derikan jangrik mengiringi kepergian
senja. Kali ini senja di Dukuh OWOPIsland terasa memekikan. Semenjak
kepergian Nyi Roro Misa dukuh ini menjadi sepi. Entah siapa yang membawa
pergi Nyi Roro Misa, semua masih misteri.
Raden Suhail, kepala dukuh terhormat warga kampung Dukuh
OWOPIsland mengumumkan operasi pencarian Nyi Roro Misa. Demi
menyukseskan rencana, ia mengumumkan sayembara kepada warganya. Isinya,
barangsiapa yang bisa membawa pulang Nyi Roro Misa kembali hidup-hidup,
dia akan mendapat imbalan satu unit Gojek beserta supirnya yang masih
bujang.
Warga kampung Dukuh OWOPIsland tampak begitu semangat
dengan adanya hadiah dari sayembara, hal ini terlihat dari mereka yang
sibuk membuat tumpengan walaupun tidak ada keterkaitan diantara
keduanya. Prajurit Uways salah satu orang yang sangat bersemangat untuk
membuat tumpeng, bukan menyelamatkan Nyi Roro Misa.
Sementara beberapa warga sibuk menyiapkan tumpeng, Panglima
Faishal segera menyiapkan pasukan untuk menyusuri OWOPIsland. Imbalan
Gojek tak jadi motivasi utamanya. Tetapi nama Misa yang menjadi
pelatuknya ke masa di mana mereka masih rajin bermain bersama di pinggir
sungai OWOPIsland. Ia membagi pasukannya menjadi beberapa regu. Sembari
duduk di atas kudanya, Panglima Faishal berdoa agar segera bertemu Nyi
Roro Misa. Teman bermain yang telah lama terpisah.
Nyatanya Panglima Faishal lupa hari ini harus ambil order
di Thamrin City. Target Gojek yang semestinya 10 orang terlewati. Apa
kira-kira yang akan Panglima lakukan? Segera bertemu Nyi Roro Misa teman
masa kecilnya dan terjebak nostalgia atau mengumpulkan uang dari
menjadi driver Gojek demi sebutir nasi dan sebongkah berlian?
Panglima Faishal memutuskan pergi menemui Mbok Kenti. Orang pintar sedukuh OWOPIsland untuk meminta wangsit.
"Tok. Tok.Tok." Panglima Faishal mengetuk pintu rumah Mbok
Kenti. Dari dalam Mbok Kenti sudah mengetahui akan ada tamu laki-laki
yang akan kerumahnya.
"Mlebu o cah bagus." Sahutnya dari dalam rumah.
Panglima Faishal melangkah menuju Mbok Kenti dengan muka getir karena khawatir terjadi yang tidak-tidak kepada Nyi Roro Misa.
"Ono opo to cah bagus?" Tanya Mbok Kenti.
"Punten mbok. Nyi Roro Misa hilang dibawa orang misterius semenjak kemarin."
"Ela ela perawan ayu dukuh OWOPIsland. Koe ono ngendi cak ayu. Tenang le, mbok akan melacaknya..."
Mbok Kenti lalu memandang langit. Bukan. Bukan sedang
berbicara dengan penghuni langit. Tapi, ia tahu bahwa hujan akan segera
datang. Mau tak mau ia beranjak ke kebun segera. Mbok Kenti lalu
mengambil daun pace.
"Oalah Nduk Misa. Jane kowe nang ndi to nduuk nduk," gumam Mbok Kenti.
Mbok Kenti lantas mengambil boneka
dan menempelkan daun pace yang sudah dia bersihkan dan ia tumbuk.
dan menempelkan daun pace yang sudah dia bersihkan dan ia tumbuk.
Lalu menyemprotkannya ke wajah boneka itu, meraba-raba
sambil mengucap mantra-mantra, dan pada akhirnya dia menemukan petunjuk
melalui boneka tersebut, seperti ada bisikan-bisikan keberadaan Nyi Roro
Misa. Boneka itu membisikan "Carilah di Google Maps!" itu lah ilham yg
Mbok Kenti dapatkan, akhirnya Mbok Kenti membuka stupidphone-nya dan
mulai mencari keberadaan Nyi Roro Misa, akhirnya setelah 15 menit Mbok
Kenti mencari-cari Nyi Roro Misa, Mbok Kenti menemukan Nyi Roro Misa di
Tanah Abang yang sedang belanja-belanja ria.
Duar!
Tiba-tiba di luar rumah sesuatu berbunyi. Sekonyong-konyong
Mbok Kenti dan Panglima Faishal terkaget-kaget, beserta kekagetannya
akan keberadaan Nyi Roro Mitsa yang sebenernya.
"Aduh Gusti.. aya naon iyeu teh nya?" Tanya Mbok Kenti beralih bahasa, membuyarkan lamunan Panglima Faishal akan Nyi Roro Mitsa.
"Teu teurang da abdi mah, Mbok.. puguh Mbok nu dukun,
kunaon naros ka abdi?" Panglima Faishal kebingungan seraya menuju
jendela.
Alih-alih mendapat jawaban akan suara "duar" tadi, wajah
Nyi Roro Misa-lah yang terukir di langit yang setengah mendung. Ya,
wajah Nyi Roro Misa dengan berbagai merk pada paperbag dan kantong
kreseknya.
"Dasar wanita.."
---
Setelah mengetahui posisi koordinat keberadaan Nyi Roro
Misa yang dalam bahaya. Panglima Faishal kembali ke persembunyiannya
menuju ruang artileri, memanggul sepucuk senapan laras panjang dan
granat nanas serta rompi anti peluru. Dia yakin bahwa musuh di depan
mata.
Tepat di ujung danau sana, sesosok manusia yang tidak lain
dan tidak bukan berjenis kelamin pria sedang berdiri dengan gagah. Dia
adalah Kesatria Ari yang biasa menumpas makanan di kondangan. Huahahaha!
Tawanya menggema di seantero wc umum.
Dari seberang danau, Kesatria Ari mendengar percakapan Mbok
Kenti dengan Panglima Faishal. Panglima Faishal memilih untuk
melepaskan orderan Gojeknya,
"Toh jika Misa ketemu, aku dapat juga!" pikirnya.
Kesatria Ari pun segera merapikan peralatannya untuk
membuntuti ke mana Panglima Faishal akan mencari Nyi Roro Misa. Panglima
Faishal pamit pada Mbok Kenti, minta persetujuan. Berangkatlah Panglima
Faishal dipandu Google Maps.
"In 100 meters, turn right...." Kesatria Ari membanting peralatannya, lalu ia sedikit berteriak,
"BAH! Bahasa macam apa pula itu? Tak bisalah kusampai ke
sana lebih dulu. Sialan! Tak pahamlah aku!" Kesatria Ari pun berpikir
keras agar bisa mendahului Panglima Faishal yang dipandu dengan suara
indah Mbak Gugel.
"Mana pelentik bulu mataku? Ah ini dia."
Sementara Sang Panglima dengan gagahnya melacak keberadaan Nyi Roro Misa, Kesatria Ari merasa perlu untuk merapikan sedikit bulu matanya agar bisa jadi senjata saat berpapasan dengan Panglima nanti.
Sementara Sang Panglima dengan gagahnya melacak keberadaan Nyi Roro Misa, Kesatria Ari merasa perlu untuk merapikan sedikit bulu matanya agar bisa jadi senjata saat berpapasan dengan Panglima nanti.
"Tunggu saja kan kukedipkan kau. Hahahaha."
"Rancak bana. Apa pula Kesatria Ari. Dia kira aku tidak tau
rencana bulusnya. Dia tidak tahu pusaka bulu mata lentiknya tidak akan
mampu menandingi pusaka yang kupakai.Hahaha..." Panglima Faishal berucap
dalam hati.
Panglima terbahak sambil memegangi pusaka yang ada dikepalanya. Helm Gojek lapis tembaga dari negeri Angyoda.
Tanpa disadari Nyi Roro Misa tak disangka datang dari
tempat yang tak diduga-duga. Kesatria Ari dan Panglima Faishal kaget
mendengar suara Nyi Roro Misa.
"Welawela Kang Mas Fasihal lan Kang Mas Ari. Panjenengan
niku nembe napa, mriki kang Mas Faishal. Nyi Roro Misa saged nyuwun
dipun anter ke negeri Bakuan naik Gojek kan kang mas? " ucap Nyi Roro
Misa dengan lemah gemulai.
Glek. Kang Ari yg merasa kalah sekonyong-konyong berlari ke arah Panglima Faishal.
"Tak kandani Shal. Aku kok lali bahasa batak yaa. Aku tak
ngomong boso jowo yaa le," dengan sedikit malu, Ari berbisik ke Faishal.
Faishal pun tertawa terbahak-bahak. Di saat itulah Ari mengambil Motor Faishal.
"Yuk Cinn mau kemana jeng Misha. Denger-denger ada
diskonan lho di Solo Paragon. Yuk sana deh. Akika yang traktir dah,"
ajak Kang Ari
.
.
Dan apadaya akhirnya tidak ada yang terpilih sebagai
kesatria ataupun panglima hati Nyi Roro Misa, Panglima Faisha pun sakit
bukan main hati nya hancur berkeping keping.
"Rasakan kalian berdua!!!" teriak Mbah Kenti sambil tertawa terbahak bahak
"Wong yang di sukai Nyi Roro kan aku wkwk"
---
"Inilah akhirnyaa.. harus kuakhiriiii... sebelum cintamuu
semakin dalaam.." terdengar suara tak enak dari sebuah rumah di dusun
itu, rumah Kepala Dusun ternyata, Mbah Suhail.
"Ya! Sudah saatnya sayembara ini berakhir! Nyi Roro
diculik? Omong kosong! Aku salah selama ini.. Misa bukanlah diculik,
melainkan menculik dirinya. Kokas? FX? Kalibata City? ITC Pasar Pagi?
Apa itu? Dusun ini sudah tak menarik lagi rupanya untuknya!
"Lalu, kalau seluruh remaja lebih asyik ke tempat-tempat
itu, lalu siapa yang akan menghidupkan dusun ini? Aarrgghh, dunia sudah
gila!" Kepala Dusun Suhail mengamuk setelah mendengar seluruh kabar dari
Mbok Kenti.
"Sing sabar, Mbah.. hidup ini memang keras!" Mbok Ken menjawab seraya menyeruput cappucinno sirihnya.
Kabar sayembara berakhir pun sampai pada masyarakat.
"Yaah.. gagal punya motor buat jadi Gojekers deeh," disudut
rumah ada seorang gadis murung atas terhapusnya sayembara, Citra
namanya.
"Sing sabar, Nduk! Hidup ini memang keras!" entah itu suara siapa.
Dan, tinggalah Panglima Faishal dengan seluruh kegundahan yang ada,
"Ya, hidup ini memang keras. Nyatanya Nyi Roro Misa tak lagi mengenalku. Ia lebih memilih si Ari itu. Apalah ini.. anginpun tak sanggup meniup rasa ini.."
"Ya, hidup ini memang keras. Nyatanya Nyi Roro Misa tak lagi mengenalku. Ia lebih memilih si Ari itu. Apalah ini.. anginpun tak sanggup meniup rasa ini.."
Pluk!
Satu per satu bebatuan dilemparnya ke dalam danau..
---
Keributan yang dilihatnya sesaat baru kembali dari kota
membuat Nyi Roro Misa bertanya-tanya sendiri. Teriakan Mbah Kepala Dusun
Suhail, Panglima Faishal yang membawa perlengkapan senjata lengkap, dan
Ari yang sibuk menawarinya salon yg sedang diskon semakin membuatnya
sakit kepala.
Untung saja cerita bahagia yang baru saja terjadi ketika
Nyi Roro sedang berada di kota memberinya kekuatan untuk tetap melangkah
menuju rumahnya. Sesegera mungkin ia ingin mengabarkan berita bahagia
tersebut pada orang tuanya.
Beberapa kantong belanja yang dia beli sebagai pelengkap
kisah bahagia itu seketika dia letakkan begitu saja saat baru sampai di
depan pintu rumahnya. Sambil berlari-lari kecil Nyi Roro Misa memanggil
ibu dan ayahnya.
Teriakan Nyi Roro Misa yang tiba-tiba tersebut lantas membuat ibu dan ayahnya terkejut dan berlari ke arah suara berasal.
"Ado a ko mamakiak? Ibu sangko kok manga-manga je tu!" Kata Ibu Nyi Roro Misa dipenuhi rasa cemas.
"Ga usah pake bhasa padang lah bu, ga ngerti orang sini
nanti." Pinta Nyi Roro Misa pada ibu nya. Sesaat kemudian dia
melanjutkan,
"Ibu, aku ada kabar gembira bu, dan aku harap bagi ibu ini juga kabar bahagia untuk ibu dan ayah."
"Ibu, aku ada kabar gembira bu, dan aku harap bagi ibu ini juga kabar bahagia untuk ibu dan ayah."
"Kabar bahagia apa, nak?" kata Ayah Nyi Roro Misa penasaran.
"Akhirnya dia datang yah, bu. Setelah sekian lama aku
menunggu nya akhirnya dia datang. Aku tak ingin menikah dengan pemuda
kampung sini, karena itu mohon restui kami."
Perasaan campur aduk seketika menyelimuti perasaan ibu dan ayah Nyi Roro Misa.
"Ibu, ayah. Izinkan juga kami untuk bertualang di Eropa
sana. Karena dia akan melanjutkan studinya di Eropa dan akan berangkat
segera setelah kami menikah."
Berat memang mengabulkan permintaan putrinya itu. Tapi
cinta yang luar biasa yang mereka lihat di pancaran mata putrinya
membuat mereka tak kuasa menolak permohonan putrinya yang kesekian kali
ini.
Akhirnya tiga hari kemudiab sang Pangeran pun datang
melamar Nyi Roro Misa pada kedua ibu bapaknya. Seminggu setelah acara
lamaran tersebut, akad nikah pun segera dilangsungkan karena permintaan
pangeran dengan alasan dia akan berangkat ke Eropa dua minggu lagi.
Akhirnya, Nyi Roro Misa pun menikah dengan pangeran yang
dicintainya dan mencintainya. Seminggu kemudian pun mereka terbang ke
Eropa. Berpetualang dengan penuh cinta dan haus akan ilmu. Mereka pun
hidup bahagia dan saling mencintai karena Allah swt.
Selesai..
***
PS. Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar, cerita, yaa itu mungkin hanyalah kebetulan, hohohoo
No comments:
Post a Comment