Ini sudah malam. Setidaknya menurut gelapnya langit saat kulihat luar jendela. Bintang di malam ini begitu malu untuk muncul, membiarkan bulan yang sempurna bulat bersinar menyapa langit sendirian.
Aku masih di depan jendela bening dari lantai yang cukup tinggi dalam gedung ini. Di dalam ruangan yang bisa dibilang tak ramai, hanya ada satu dua orang, dan mereka sama asyiknya denganku. Asyik dengan pikiran masing-masing
Masih melihat keluar. Kuarahkan pandangan ke sisi kanan, ramai. Banyak orang di sisi itu, mereka yang masih sibuk dengan kegiatan dan alat bantu mobilitasnya meski malam kian kelam. Disana, lampu-lampu dinyalakan dimana-mana seakan-akan melawan gelapnya malam. Memaksa jiwa-jiwa yang hidup agar tak menghasilkan hormon pembangkit kantuk. Deru kendaraan terdengar jelas sekali. Sejelas para 'tangan kreatif' menjalankan aksi supranatural mereka dalam menghilangkan dompet -dompet di balik saku.
Aku malas dengan pandangan itu, lalu kuayun mata ini, tampaklah di sisi lain pemandangan yang kontras.
Sedikit sekali cahaya disana, namun temaram bulan, cukup untuk mata ini menangkap beberapa bagian.
Gelap. Sepi. Hanya ada pohon-pohon besar yang rindang disana. Ada beberapa tanaman kecil, ah juga bunga-bunga yang tak jarang dijumpai. Ada juga beberapa papan dengan nama perusahan dan seutas kalimat. Papan itu ditancapkan dibeberapa sisi tempat itu.
Aku bingung, dan kupejamkan mata.
Angin berhembus pelan ke arahku. Ia menarikku menjauhi jendela bening ini. Mengajak berlari, dan sampailah aku di antara gedung-gedung tinggi sekaligus di depan sebuah lubang seperti gua sebagai jalan masuk.
Meski agak ragu, namun kaki ini bergerak dan segera memasuki gua tersebut.
Aku berjalan dan terus berjalan ke dalam.
Di depan sana ada semburat cahaya senja. Kuikuti dan sampailah aku pada pintu yang dengan melewatinya, kudapati lukisan indah menanti.
Burung-burung menyambut dengan nyanyian riang mereka. Pepohonan rindang yang ramah. Bunga-bunga cantik yang memesona sekaligus menggoda. Obrolan riak air yang terjun bebas dari ketinggian sungai di atas sana, dengan keikhlasan bebatuan ditimpanya.
Ada juga beberapa kelinci putih saling menguji kelenturan kaki mereka dalam melompat.
Aku hanya mampu berdecak kagum. Kulihat langit, begitu menyenangkan. Dan, eh? Satu gedung dikejauhan seperti kukenal. Itu gedung tempatku bekerja. Sekaligus tempat dimana aku baru saja melihat dua sisi yang berbeda.
"Jangan-jangan tempat ini satu sisi yang itu?"
Kres. Kres.
Seperti ada seseorang. aku menoleh mencari tahu, dan mendapati sebuah sosok tengah berjalan-jalan.
Sosok itu terkejut, "Eh? Siapa Kau?!"
Lebih terkejut lagi adalah aku. Lihatlah sosok berkaki empat dengan tanduk di kepala itu. Badannya kurus. Dan ia bisa berbicara denganku!
"Bbbaagaimana kau? Bisa berbicara?" Entah ini hanya ilusi, atau.. rusa bisa berbicara denga manusia? Oh ini seperti dongeng.
"Bagaimana kau tahu tempat ini?" Ia balik bertanya.
"Aku tak tahu, aku dibawa angin"
Oh, aku tak sadar dengan ucapanku. Apa tadi? Dibawa angin? Ini seperti novel fantasi yang pernah kubaca!
"Ah ya ya.. mungkin, kaulah orangnya!"
Dan si rusa pun mulai bercerita. Tentang tempat ini, tentang manusia, tentang gedung-gedung itu, dan tentang hidup ini.
Sebuah hutan di seberang kota dengan beraneka ragam tanaman dan hewan-hewan. Namun kini beranjak punah saling susul-menyusul. Menyisakan rusa, kelinci dan beberapa yang lain.
"Manusia-manusia keparat! Mereka bahkan sudah menaruh papan nama itu. Tak berapa lama lagi segera membabat habis tempat ini." Rusa mengeluh.
Aku jadi ingat proyekku. Menggundulkan tanah-tanah berpohon, untuk kemudian menjadi lahan pemukiman kota. Aku bingung, apakah ini hutan yang menjadi proyekku? Tapi seharusnya tak ada air terjun disana. Dan, rusa? Aku belum pernah menemui satu ekorpun di dalamnya.
Rusa masih bercerita soal kenangannya, sesekali ekspresi wajahnya menyiratkan kesedihan, sesekali ia tertawa riang, dan tak jarang wajahnya merah padam bersungut-sungut.
Lagi-lagi aku bingung, "Wahai rusa, kau bilang kau tak suka manusia. Tapi mengapa kau sudi menceritakan kisah-kisah itu padaku? Apa aku bukan manusia?"
Rusa menoleh. Tertawa, "Akupun bingung, tapi mungkin, karena kaulah orangnya. Yang dipilih langit untuk menjejak tempat ini melalui angin. Kaulah. Yang akan menjadi penyelamat bagi tempat ini. Semoga memang kau, yang bahkan aku bisa bercerita sebebas ini"
Aku ternganga tak mengerti. Hey, bagaimana bisa aku? Justeru akulah si salah satu penghancur tempat indah seperti ini. Dimana ada banyak sisi hijau dan tingkah lugu para hewan. Bagaimana bisa aku?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku pun tahu apa yang sedang akan kau kerjakan. Justeru itulah."
"Tolonglah kami. Jangan lagi menebang habis pepohonan. Membakar dan menciptakan asap. Menangkap hewan tersisa dan dijadikan pajangan. Kami ingin selalu bebas. Dan biarkan tempat seperti ini sebagai jantung bagi kehidupan kalian, wahai manusia. Makhluk yang dipilih Tuhan untuk mengurus tempat-tempat ini."
Aku masih tercengang. Membisu. Kupandang langit, ia malu kemerahan. Angin berhembus pelan, lalu kencang. Aku memejamkan mata, seperti tahu angin akan berbuat apa. Dan benarlah, aku kembali ditarik angin.
"Re? Pulang yuk!" Seorang teman menepuk pelan bahuku. Ah, ternyata aku kembali ke hendela bening ini lagi.
"Iya. Emm.. Za?"
"Ya?"
"Gimana kalau kita cari lahan lain? Jangan hutan. Apalagi yang itu" aku menunjuk 'sisi' itu.
"Maksudnya? Eh jangan gila. Ini udah.."
"Iya gue tahu. Tapi kayaknya gue tahu deh lahan yang lebih oke. Tapi please, jangan yang itu. Gue kasihan dengan hewan-hewan di dalamnya. Lagi, itu hutan kan sumber oksigen juga"
Za diam, tercengang.
"Gue ngga ngerti sama jalan pikiran lo. Kemarin lo yang sama semangatnya ngurus itu lahan. Sekarang? Hhh.."
"Lo tau gue, Za. Gue yakin lo pasti dukung gue. Sekarang, yuk kita pulang dan biar besok gue yang menghadap." Sambil tersenyum bebas, aku berlalu meninggalkan Za yang semakin bingung.
Iya rusa, aku akan menyelamatkan kalian. Akulah salah satu dari para penyelamat dalam kisah Narnia itu.
#MalamNarasiOWOP
07 Oktober 2015,
Hey Pagi! Apa kabar? Masih di tempat yang sama, dimana sejak semalam cerita ini baru saja selesai diwaktu yang terlambat. Aku bahkan bingung dengan apa yang kutulis, hahahaa.
Aku masih di depan jendela bening dari lantai yang cukup tinggi dalam gedung ini. Di dalam ruangan yang bisa dibilang tak ramai, hanya ada satu dua orang, dan mereka sama asyiknya denganku. Asyik dengan pikiran masing-masing
Masih melihat keluar. Kuarahkan pandangan ke sisi kanan, ramai. Banyak orang di sisi itu, mereka yang masih sibuk dengan kegiatan dan alat bantu mobilitasnya meski malam kian kelam. Disana, lampu-lampu dinyalakan dimana-mana seakan-akan melawan gelapnya malam. Memaksa jiwa-jiwa yang hidup agar tak menghasilkan hormon pembangkit kantuk. Deru kendaraan terdengar jelas sekali. Sejelas para 'tangan kreatif' menjalankan aksi supranatural mereka dalam menghilangkan dompet -dompet di balik saku.
Aku malas dengan pandangan itu, lalu kuayun mata ini, tampaklah di sisi lain pemandangan yang kontras.
Sedikit sekali cahaya disana, namun temaram bulan, cukup untuk mata ini menangkap beberapa bagian.
Gelap. Sepi. Hanya ada pohon-pohon besar yang rindang disana. Ada beberapa tanaman kecil, ah juga bunga-bunga yang tak jarang dijumpai. Ada juga beberapa papan dengan nama perusahan dan seutas kalimat. Papan itu ditancapkan dibeberapa sisi tempat itu.
Aku bingung, dan kupejamkan mata.
Angin berhembus pelan ke arahku. Ia menarikku menjauhi jendela bening ini. Mengajak berlari, dan sampailah aku di antara gedung-gedung tinggi sekaligus di depan sebuah lubang seperti gua sebagai jalan masuk.
Meski agak ragu, namun kaki ini bergerak dan segera memasuki gua tersebut.
Aku berjalan dan terus berjalan ke dalam.
Di depan sana ada semburat cahaya senja. Kuikuti dan sampailah aku pada pintu yang dengan melewatinya, kudapati lukisan indah menanti.
Burung-burung menyambut dengan nyanyian riang mereka. Pepohonan rindang yang ramah. Bunga-bunga cantik yang memesona sekaligus menggoda. Obrolan riak air yang terjun bebas dari ketinggian sungai di atas sana, dengan keikhlasan bebatuan ditimpanya.
Ada juga beberapa kelinci putih saling menguji kelenturan kaki mereka dalam melompat.
Aku hanya mampu berdecak kagum. Kulihat langit, begitu menyenangkan. Dan, eh? Satu gedung dikejauhan seperti kukenal. Itu gedung tempatku bekerja. Sekaligus tempat dimana aku baru saja melihat dua sisi yang berbeda.
"Jangan-jangan tempat ini satu sisi yang itu?"
Kres. Kres.
Seperti ada seseorang. aku menoleh mencari tahu, dan mendapati sebuah sosok tengah berjalan-jalan.
Sosok itu terkejut, "Eh? Siapa Kau?!"
Lebih terkejut lagi adalah aku. Lihatlah sosok berkaki empat dengan tanduk di kepala itu. Badannya kurus. Dan ia bisa berbicara denganku!
"Bbbaagaimana kau? Bisa berbicara?" Entah ini hanya ilusi, atau.. rusa bisa berbicara denga manusia? Oh ini seperti dongeng.
"Bagaimana kau tahu tempat ini?" Ia balik bertanya.
"Aku tak tahu, aku dibawa angin"
Oh, aku tak sadar dengan ucapanku. Apa tadi? Dibawa angin? Ini seperti novel fantasi yang pernah kubaca!
"Ah ya ya.. mungkin, kaulah orangnya!"
Dan si rusa pun mulai bercerita. Tentang tempat ini, tentang manusia, tentang gedung-gedung itu, dan tentang hidup ini.
Sebuah hutan di seberang kota dengan beraneka ragam tanaman dan hewan-hewan. Namun kini beranjak punah saling susul-menyusul. Menyisakan rusa, kelinci dan beberapa yang lain.
"Manusia-manusia keparat! Mereka bahkan sudah menaruh papan nama itu. Tak berapa lama lagi segera membabat habis tempat ini." Rusa mengeluh.
Aku jadi ingat proyekku. Menggundulkan tanah-tanah berpohon, untuk kemudian menjadi lahan pemukiman kota. Aku bingung, apakah ini hutan yang menjadi proyekku? Tapi seharusnya tak ada air terjun disana. Dan, rusa? Aku belum pernah menemui satu ekorpun di dalamnya.
Rusa masih bercerita soal kenangannya, sesekali ekspresi wajahnya menyiratkan kesedihan, sesekali ia tertawa riang, dan tak jarang wajahnya merah padam bersungut-sungut.
Lagi-lagi aku bingung, "Wahai rusa, kau bilang kau tak suka manusia. Tapi mengapa kau sudi menceritakan kisah-kisah itu padaku? Apa aku bukan manusia?"
Rusa menoleh. Tertawa, "Akupun bingung, tapi mungkin, karena kaulah orangnya. Yang dipilih langit untuk menjejak tempat ini melalui angin. Kaulah. Yang akan menjadi penyelamat bagi tempat ini. Semoga memang kau, yang bahkan aku bisa bercerita sebebas ini"
Aku ternganga tak mengerti. Hey, bagaimana bisa aku? Justeru akulah si salah satu penghancur tempat indah seperti ini. Dimana ada banyak sisi hijau dan tingkah lugu para hewan. Bagaimana bisa aku?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku pun tahu apa yang sedang akan kau kerjakan. Justeru itulah."
"Tolonglah kami. Jangan lagi menebang habis pepohonan. Membakar dan menciptakan asap. Menangkap hewan tersisa dan dijadikan pajangan. Kami ingin selalu bebas. Dan biarkan tempat seperti ini sebagai jantung bagi kehidupan kalian, wahai manusia. Makhluk yang dipilih Tuhan untuk mengurus tempat-tempat ini."
Aku masih tercengang. Membisu. Kupandang langit, ia malu kemerahan. Angin berhembus pelan, lalu kencang. Aku memejamkan mata, seperti tahu angin akan berbuat apa. Dan benarlah, aku kembali ditarik angin.
"Re? Pulang yuk!" Seorang teman menepuk pelan bahuku. Ah, ternyata aku kembali ke hendela bening ini lagi.
"Iya. Emm.. Za?"
"Ya?"
"Gimana kalau kita cari lahan lain? Jangan hutan. Apalagi yang itu" aku menunjuk 'sisi' itu.
"Maksudnya? Eh jangan gila. Ini udah.."
"Iya gue tahu. Tapi kayaknya gue tahu deh lahan yang lebih oke. Tapi please, jangan yang itu. Gue kasihan dengan hewan-hewan di dalamnya. Lagi, itu hutan kan sumber oksigen juga"
Za diam, tercengang.
"Gue ngga ngerti sama jalan pikiran lo. Kemarin lo yang sama semangatnya ngurus itu lahan. Sekarang? Hhh.."
"Lo tau gue, Za. Gue yakin lo pasti dukung gue. Sekarang, yuk kita pulang dan biar besok gue yang menghadap." Sambil tersenyum bebas, aku berlalu meninggalkan Za yang semakin bingung.
Iya rusa, aku akan menyelamatkan kalian. Akulah salah satu dari para penyelamat dalam kisah Narnia itu.
#MalamNarasiOWOP
07 Oktober 2015,
Hey Pagi! Apa kabar? Masih di tempat yang sama, dimana sejak semalam cerita ini baru saja selesai diwaktu yang terlambat. Aku bahkan bingung dengan apa yang kutulis, hahahaa.
No comments:
Post a Comment