Wednesday, August 12, 2015

Pria dengan Ransel

Kemarin pagi aku melihatmu.
Masih dengan benda yang sama.
Ransel. Pada punggung kekarmu.

Kemarin pagi aku melihatmu lagi.
Masih dengan senyum yang sama. Manis. Pada wajah tegasmu.

Wahai kau pria dengan ransel..
Tahukah berapa banyak malam yang kuhabiskan?
Tahukah berapa pagi yang aku lewatkan?
Tahukan untuk apa jari-jemari ini aku gunakan?

Ah, seandainya saja kau tahu.
Seandainya saja kau mau untuk tahu.
Di sudut itu, di depan mesin itu.
Tak terhitung berapa kali jarum jam berputar.
Tak terhitung berapa kali deru angin terdengar.
Hanya untuk itu,
Merajut dengan tanpa benang.
Melukis dengan tanpa cat.

Kemarin pagi, sayangnya aku tak melihatmu.
Wahai pria dengan ransel, kemana kau?
Rindu pun mencuat dan menjalari seluruh ruang di hati.

Rajutan ini, lukisan kata-kata ini. Semakin menjadi-jadi.
Hanya dengan menjentikan jari pada mesin di sudut itu, rinduku tertumpah. Merembes pada lembaran kertas.
Kukira itu cukup menyurutkan, tapi aku salah.
Rinduku semakin menjadi.
Semakin berapi-api.
Tak terhitung berapa kertas kuhabisi.

Hanya untuk itu, menumpahkan segala rasa, yang tak pernah engkau tahu.

Wahai kau pria dengan ransel..

Aku melihatmu lagi.
Kini bukan pagi, tapi sore.
Rindu telah menemukan obat yang dirasa sesungguhnya.
Namun sayang,
Obat itu bukan miliknya.

Tanganmu telah tergenggam.
Jarimu telah bercincin.
Hatimu telah berlabuh.

Tapi bukan untuk si perindu ini.
Bukan untuk si perajut kata ini.
Bukan untuk si pelukis ketik ini.

Wahai kau pria dengan ransel..

~ Selasa, 11 Agustus 2015,
Masih di tempat yang sama. Dingin. ~

PS. Tulisan ini dibuat dalam kesempatan malam narasi OWOP dan bukan berdasarkan suasana hati yang sesungguhnya. Hanya fiktif belaka, dan semoga tidak ada yang merasa.
Hahahaa

Lalu disunting pada hari ini :)

No comments:

Post a Comment