"Aku merindukan mereka.. tapi, apa mereka pun merindukan aku? Apa hanya aku yang selalu terjebak dalam kerinduan? Apa hanya aku?!"
"Aku merindukanmu.. tapi sepertinya kamu tidak.."
Itu adalah dua quotes pribadi yang sempat gue jadikan status akun Line gue, dan selalu mendapat tanggapan pembaca, hahahaa..
Iya, gue rindu. Gue kangen. Tapi gue ngga tau, apa orang-orang gue rindukan itu sama merindunya dengan gue? Huah, gue bener-bener ngga punya ide soal itu.
Terkadang, saat gue merindukan mereka, merindukan orang-orang itu,
Gue jadi berpikir,
"Apa gue berhak dengan seluruh rasa kerinduan ini? Apa gue berhak merindukan mereka? Apa mereka merindu balik? Atau justeru, orang-orang yang gue rindukan itu sudah punya orang lain yang lebih asyik? Yang lebih bisa diajak jalan, diajak diskusi, diajak berjuang?"
Terkadang, saat gue merindukan momen-momen di masa lalu itu,
Gue jadi bertanya-tanya,
"Apa gue berhak, lagi-lagi untuk merindu? Merindukan masa lalu? Merindukan momen-momen itu? Atau justeru, orang-orang di dalam momen-momen itu pun telah memiliki momen yang baru? Yang lebih asyik lebih seru, yang lebih unforgotable?"
Dan kalau sudah begitu, rasanya gue ingin menarik seluruh rasa rindu yang terlanjur mencuat itu. Gue tarik sekuat-kuatnya. Gue kubur sedalam-dalamnya, gue kunci pintu itu serapat-rapatnya.
Mungkin gue ngga berhak..
Dan, tinggalah gue dengan hati yang seperti tersangkut, namun harus memaksa berlari. Tinggalah gue, yang sebenarnya ingin mengobati rasa rindu itu dengan pertemuan atau sapaan, tapi hanya bisa berdo'a dalam diam.
Rasa-rasanya, ingin menyapa pun seakan ragu, seakan takut mengganggu.
Rasa-rasanya, memandang dari jauh pun sudah cukup.
Rasa-rasanya, ingin bercerita soal kejadian baru pun terasa akan mengganggu.
Rasa-rasanya, ingin kembali bergabung dan berbincang tidak penting seeprti dulu pun benar-benar terasa canggung.
Kalau sudah begitu, lambat laun hati terasa menjadi biasa saja. Rindu menjadi biasa saja. Pertemuan, sapaan pun bisa jadi menjadi biasa saja.
Terkadang rasanya, sudah 'keburu' malas diri ini untuk menyurutkan rasa rindu itu dengan obat yang lazimnya (baca: komunikasi, interaksi).
Terkadang pula, saat berpikir tak ingin mengganggu yang lain, saat merasa yang lain telah memiliki yang baru,
"Ooh.. biar aku hidup dengan hidupku yang baru"
Dan aku benar-benar seperti hidup di dunia baru. Mengabaikan yang lalu. Dan justeru akulah si makhluk dengan kesibukan nomor satu.
Justeru akulah si kacang yang lupa dengan kulitnya.
Justeru akulah pemeran utama dalam tulisanku ini, dalam angan-anganku tentang teman-temanku.
Justeru akulah, si pelepas rantai hubungan itu..
No comments:
Post a Comment