Pernah ngga sih lo merasa, saat lo kepengen ngebenerin gelas yang
pecah, tapi secara ngga sadar, justeru mecahin gelas berikutnya?
Gue pernah. Dan itulah yang saat ini sedang gue rasakan..
Mencoba untuk memerbaiki tapi justeru seperti membuat kesalahan baru.
Yap, saat gue merasa perlu banget memerbaiki banyak hal, tapi
dalam perjalanan itu gue malah 'mecahin
gelas yang lain'. Dan itu rasanyaa.. kayak cobaan banget gitu.
Seakan-akan lo lagi jalan, terus kesandung batu dan muncul
tulisan, "Percuma juga lo
nyoba bener, lo cuma akan bikin kesalahan baru." hingga akhirnya lo kepikiran,
frustasi, dan nyerah dalam perubahan lo itu.
Saat lo mencoba untuk lebih peduli, lebih berpikir benar, lebih
baik lagi, lebih ramah, lebih deket. Lo justeru bikin kesalahan, dan lo
tersayat oleh sikap lo sendiri yang cukup menyakitkan itu.
Pernah ngga? Dan gimana sikap yang mesti diambil?
Sejauh ini gue masih belum menemukan solusi yang jitu atas
permasalahan ini.
Ini mungkin pernah atau bahkan lumrah dialami setiap orang atau
khususnya remaja.
Berada di gelombang kelabilan. Yang memusingkan..
Tapi sekali lagi, mungkin ini memang bagian dari proses, cobaan,
dari perjalanan panjang 'ngebenrin
gelas yang pecah' itu sendiri.
Kita ngga bisa memaksakan keadaan selalu mulus sesuai harapan saat kita dalam
perjalanan. Dan dalam kasus perjalanan perbaikan, bukankah memang hal yang
wajar, ada banyak rintangan, batu, rambu-rambu, dan segalanya yang bisa jadi
menjadi menghadang?
Mengapa bisa begitu?
Entahlah, namun.. mungkin saja semua rintangan itu, gelas-gelas
yang pecah berikutnya itu adalah tembok tebal nan besar yang akan mengingatkan,
"Seberapa yakin kau atas perubahanmu
itu? Atas niat dan usahamu itu?". Dan bila kita bisa melewati dengan
baik kondisi peruntuh motivasi itu, bukan tidak mungkin, kita akan menjadi
manusia semanis harapan, harapan akan perubahan menuju perbaikan.
“Gelas-gelas yang pecah memang harus dibersihkan, dirapikan, bila perlu diperbaiki. Mungkin saja dalam prosesnya kita akan tersayat oleh serpihannya, dan bukan tidak mungkin bila gegabah, justeru akan memecahkan gelas yang lain. Tapi kita selalu bisa untuk kembali merapikannya, memerbaikinya. Dengan kesabaran, dengan sebaik-baik proses. Hingga tak ada lagi serpihan yang akan menyakitkan.”
No comments:
Post a Comment