Remaja dengan kegalauan hati.
Betapa masa remaja itu layaknya kapal di tengah samudera bergelombang tinggi. Itulah kata buku psikologi.
Apalagi dengan memasuki masa dewasa muda. Ada banyak sekali pertanyaan, yang bahkan terasa berlebihan. Entah pada siapa harus diajukan.
Tidak banyak orang yang tahu, tidak banyak orang yang mau, tidak banyak orang yang mampu. Untuk apa? Untuk memahami remaja.
Padahal di masa itu, besar sekali kebutuhan para remaja. Kebutuhan untuk dibimbing, diluruskan, didukung, diakui.
Bukankah setiap bangsa nasibnya kelak tergantung remaja?
Kalau saat ini saja sudah porak poranda, lalu bagaimana nanti?
Mengapa mereka yang di sana terus sibuk bersandiwara, tanpa mau berperan sebagaimana mestinya?
Bagaimana kalau remaja itu telah terpuruk?
Remaja tercemplung obat-obatan terlarang, remaja terjerat free sex, remaja yang aborsi, remaja yang depresi, bunuh diri, ooh dan baru-baru ini remaja si tukang begal.
Siapa yang harus disalahkan? Apa lagi-lagi itu hanya akan dianggap kasus kecil, ditutup dan selesai? Lalu besok-besok akan terjadi lagi. Berulang seperti itu, bahkan mungkin grafiknya terus menaik. Innalillah.
Dan tinggalah remaja seperti saya ini, yang dengan segala kekhawatirannya, dengan parnonya, bahkan untuk sekedar membuka pintu pun terasa takut. Bagaimana kalau saya termasuk salah satu si remaja itu? Entah sebagai pelaku atau korban. Bagaimana? Atau saya harus serba tidak peduli dan mulai memakai kacamata kuda? Terus menatap ke depan atas mimpi, obsesi dan ambisi?
Jadi, apa yang harus di lakukan? Siap yang mesti berperan? Bagaimana caranya?
Sejumlah pertanyaan besar itu, dan.. inilah suara hati saya, seorang remaja lanjut memasuki masa usia kedua, masa kuat, masa dewasa.
No comments:
Post a Comment