Monday, March 09, 2015

Insyaa Allah Selalu Ada Hikmahnya :)

Malam ini adalah malam Selasa, tanggal sembilan Maret, tahun dua ribu lima belas. Malam kesekian tanpa kehadiran seorang ayah. Malam kesekian bapak gue pindah rumah. Yaps! bapak gue udah pulang, beliau pindah rumah ke rumah selanjutnya setelah kehidupan di dunia ini.

Malam ini adalah malam ke-lima puluh satu bapak ngga ada di rumah ini. Ya, tanggal tujuh belas bulan Januari lalu, bapak menghembuskan napas beliau yang terakhir di pangkuan ibu.

***

Sabtu itu dengan berat hati, gue harus ninggalin bapak yang dalam keadaan payah, kesakitan, keringetan, kelelahan, napasnya ngos-ngosan. Gue ngga sadar kalau itu adalah pagi terakhir gue ngeliat bapak masih bernapas. Pagi terakhir dimana gue masih bisa kasih sedikit perhatian.

Awalnya gue ragu untuk pergi, tapi hari itu adalah hari yang gue nanti-nantikan, hari pertama kursus gue. Hari pertama gue ketemu orang--orang baru dan memulai kesibukan baru (meski hanya sekali seminggu) selama beberapa bulan terakhir. Dan dalam perjalanan pun, gue bener-bener gamang. Terkadang ada pikiran selintas yang bilang, "Gimana kalau bapak ngga sembuh dari sakitnya? Gimana kalau bapak pergi?" yang dengan cepat gue usir meski tetep dateng lagi.

Di dalam kereta yang melaju itu pun gue sempet berjanji gue bakal mengurus bapak lebih-lebih dari sebelumnya. Gue bener-bener berharap bapak lekas sembuh, dan kalaupun sakit, gue bakal-bakal mengurus bapak, ngga kayak sebelumnya.

Tapi nyatanya apa?

Gue terlambat. Gue ngga punya kesempatan itu. Tepatnya gue ngga punya kesempatan untuk merawat bapak dengan sebaik-baik perawatan. Selama ini gue terlalu abai. gue acuh. kalaupun peduli, itu cuma sampai seujung hati. Gue ngga bisa banyak membantu. Dan cuma di malam sebelum bapak pergi itu, gue semepet sedikit ngerawat dan nemenin bapak. Sekali seumur hidup gue memangku kepala bapak. Padahal dulu sewaktu kecil, bapak sering banget memangku gue.

Dan di hari minggu kemarin, tanggal delapan Maret, saat gue hendak pergi kerja dan dibonceng motor abang gue, gue kembali teringat kenangan bersama bapak. Dulu, sewaktu gue masih sekolah, bapak sering ngebonceng gue, nganter gue ke sekolah melalui rute yang sama. Dan di atas motor itu pun, gue bener-bener ngga kuasa membendung air mata gue. Gue bener-bener ingat saaat-saat itu. bahkan sewaktu itu, sewaktu bapak ngebonceng gue, gue ngerasa ngga tega dan sayang banget sama bapak seketika gue ngeliat uban-uban di rambut bapak yang kelihatan dibalik helmnya, gue liat juga kulit keriput beliau yang berwarna coklat terbakar matahari. 

Di saat itu gue bertanya, "Allah.. bagaimana kalau kesempatan seperti ini tidak akan lama terjadi? Bagaimana kalau nanti bapak pergi dan ngga bisa membonceng anak bungsunya ini? Bagaimana Allah..." di saat itu gue nangis, dan benarlah sudah, kesempatan seperti itu sudah tidak bisa gue temui lagi. bahkan cita-cita gue untuk bisa membonceng bapak pertama kali kalau gue bisa mengendarai sepedamotor pun keburu tandas, tiada bersisa.

gue juga sedih, gue bahkan belum sempet membelikan sesuatu buat bapak, hadiah, kado, dan sebagianya. gue belum sempet ngasih bapak ini-itu dengan hasil keringat gue. gue belum sempat ngebanggain bapak.

***

Keadaan ini sebenernya pengeen banget gue ceritain sejak awal, tapi gue belum cukup sanggup. Bahkan saat ini pun gue belum bisa menceritakan semua perasaan gue terkait hal itu. Ada banyak sekali pertanyaan, termasuk pertanyaan, "Kenapa harus sekarang Bapak pergi? Kenapa? Padahal usia bapak juga masih enam puluhan. Kenapa harus sekarang? Bahkan aku belum kuliah, belum bekerja, juga belum menikah dan punya anak. Kenapa harus sekarang? Yang ngga lama lagi Teh Rina bakal menikah. Kenapa harus sekarang? Bahkan disaat keadaan keluarga masih begini. Kenapa, Pak? Apa Bapak udah ngga sanggup sama semua tekanan ini?" terkadang gue amat egois dengan semua pertanyaan itu, dan tak jarang gue jadi menyalahkan keadaan, takdir, menyalahkan atas beberpa mimpi gue yang mungkin akan kandas.

Tapi terkadang yang lain gue bisa lebih dewasa dan berpikir, kalau semua ini, kalau keadaan itu pun pasti ada hikmahnya. Mau ngga mau gue harus terima. Ini takdir yang udah Allah gariskan, udah Allah rencanakan, dan pasti yang terbaik meski gue menolak. Pasti selalu ada hikmahnya, pelajarannya. Allah ngga akan kok menguji hambaNya di luar kemampuan si hamba tersebut. Gue harus sabaar, harus ikhlas, harus terima, dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan.

Daan ternyata, salah satu hikmah itu adalah terjawabnya beberapa pertanyaan yang sebelumnya pernah gue ajukan. Pertanyaan yang membuat gue sakit kepala dan uring-uringan. Pertanyaan-pertanyaan sekelas itu sedikit-banyak bisa terjawab dalam satu hari itu, Sabtu dimana bapak pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Kalu mau lebih gue kulik-kulik lagi, ternyata ada banyak hikmah lainnya yang sebelumnya ngga gue sadari. Hati gue yang sebelumnya agak kosong pun, bisa agak lebih berisini. Karena apa? Tentu karena keinginan untuk pedekate pada Allah terasa lebih besar. Dan jangan-jangan, cobaan itu pun memang sengaja Allah berikan untuk gue lebih mendekat lagi padaNya? Apa Allah rindu terhadapku? Tapii, pantaskah aku dirindukan olehMu, Yaa Rabb?

Entah apa jawaban yang sebenarnya atas beerbagai cobaan ini, tapi pastilah Allah memiliki jawaban terbaikNya.

Emang berasa masih kayak mimpi siih.. Masih ngerasa seakan-akan bapak masih ada. Tapii.. sudahlah, biar waktu yang akan mengobati, meski mungkin makin banyak pula kenangan yang kembali hadir yang bahkan sebelumnya terlupakan, tertumpuk ingatan yang lain. Dan setelah membaca novel Tere Liye yang baru, berjudul "Rindu", sedikit-banyak gue bisa tercerahkan atas pertanyaan-pertanyaan itu. Entah terhadap pertanyaan mengenai kematian bapak, atau pertanyaan gue yang lainnya.

Dan satu lagi, ternyata Allah itu menyelesaikan masalah dengan masalah. Ada banyak sekali maslaah orang-orang di luaran sana yang lebih-lebih. Contohnya semisal pesat Air Asia kemarin yang hilang dan ternyata terjun bebas ke laut (ya kan?) di saat itu seakan-akan Allah mengatakan, "Hey! Sana bersyukur! Lihatlah dari kacamata yang lain. Masih ada di luar sana orang-orang yang 'pergi' tanpa meninggalkan tanda. Yang pergi tanpa hadirnya keluarga. Yang pergi jauh dari tempat kelahirannya, bahkan justeru ada di dalam pesawat, tercebur ke laut, tanpa sempat dan bisa dikuburkan di tanah dengan lebih layak. Sana bersyukuur!" dan memang gue harus bersyukur, ternyata di luar sana masih ada keluarga yang merasakan kesedihan lebih-lebih dibanding gue.

Aaah~ gue emang bener-bener kudu bersyukur banget, terus mendo'akan untuk sesama, melangkah maju, dan biar waktu yang mengobati setiap luka dan perih yang ada.

Dan, satu do'a yang terpenting ternyata, "Allah.. tolong hidup dan matikan kami dalam beriman dan berislam.. aamiin.." rasa-rasanya itu sudah cukup dan melingkupi semuanya.
Semoga Allah meridhoi ayah kami, semoga Allah pun meridhoi kita semua.
Ayo sayangi orang tua kita, do'akan beliau, perlakukan dengan baik, semoga kita bisa menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah dan bisa menjadi pemberat amalan orang tua kita, aamiin..

***

Tulisan ini sebenernya masih pengin dilebih panjangkan, masih banyak cerita yang ingin dibagi, meski entah disukai atau tidak. Tapi yang terpenting, atas segala kerendahan hati, tanpa bermaksud menyombongkan diri, semoga tulisan ini dan tulisan-tulisanku yang lain bisa bermanfaat bagi semua, hingga nanti ;)


No comments:

Post a Comment