Friday, January 31, 2014

Ide gila memang, tapii...

Ehem, ehem cek cek 1 2 3 okeh


Malem ini malem-malem terakhir di bulan Ramadhan, selepas tarawih, saya langsing cau kemy sister’s notebook just to numpahin ide-ide yang entah kenapa bermunculan saat hendak sholat. Sebenernya ide lama sih, hehe..
Jadi gini, saya itu seneng banget sama segala jenis cerita-cerita, tulisan-tulisan yang asyik. Hm kendati demikian, saya juga seneng nulis. Tapi emang entah pasalnya apa, saya tuh orang nya moody, yaa kadang ngga juga sih.. tapi ngga tau kenapa, saya tuh banyak ide dan cerita, tapi malah bingung numpahin nya gimana, dan alhasil, nunggu ntu moodngedatengin saya. Dan hal itu tuh ya, bikin saya sempat berpikir, seandainya ada alat perekam pikiran. Hm, ngga muluk-muluk kaya yang di doraemon sih, yang bisa baca pikiran orang gitu. Bukan, bukan itu. Saya sih menerjemahkannya kaya alat buatan profesor Agasa yang di cerita Detective Conan getooh.. Hm, yap! Hanya sekedar perekam ide-ide yang bermunculan dalam kepala ini, pikiran ini, hati dan jiwa ini *alah lebeh. Yak, pokona mah kitu weh..

Saya juga nemuin ide gila lain, seandainya di tubuh kita nih (manusia. red) atau di kepala nya deh ada sebuah port gitu, port USB kadang keren juga yah hehe. Jadi, setiap momen yang kita ingat, segala pikiran-pikiran yang mencuat, flashback-an kita bisa di transfer gitu via kabel USB ke kompi hehe, atau yang lebih rasional nya boleh deh pake sistem infra merah atau gigi biru sekalian deh hehe.

Saya rasa nih ya, alat kaya gitu pasti bakalan keren banget tuh. Laku di pasaran dan berguna tentunya. Saya juga jadi inget salah satu cerpen karya Tere-Liye (saat itu nama penanya: Sendutu Meitulan) dalam buku Mimpi-Mimpi Si Patah Hati yang berjudul Cintanometer. Cintanometer ini suatu alat terobosan terbaru di suatu wilayah yang diciptakan atas dasar ingin meningkatkan angka pertumbuhan penduduk di wilayah tersebut. Para pemerintah disana beranggapan bahwa para remaja nya sangat malu-malu untuk mengungkapkan rasa suka mereka terhadap lawan jenisnya. Alhasil, angka pertumbuhan pun semakin minim dan kebingungan akan regenerasi wilayah tersebut. Nah, cara kerja si cintanometer ini simple, dibawa-bawa aja deket-deket ke salah seorang yang disuka, kalo orang tersebut ternyata juga suka sama si pemilik cintanometer itu, si cintanometer pun akan berkedip-kedip, tapi kalo ngga, ya si cintanometer nya diem aja lampu nya ngga nyala. Pemerintah cukup berhasil untuk itu, angka pertumbuhan cukup pesat. Namun sayangnya, dengan adanya teknologi tersebut, tak ada lagi perasaan-perasaan seperti dulu. Perasaan deg-degan saat bertemu si ‘dia’, perasaan cinta dalam diam yang tersimpan rapi bahkan hingga tua. Dan alhasil, perasaan yang bernama cinta itu pun berubah rasanya menjadi amat hambar. Saat seseorang tau bahwa si dia menyukai nya, maka selesai lah semua perkara. Tak ada yang menarik. Tak ada yang spesial. Hambar!

Nah begitulah teknologi. Kadang amat berguna, namun pastilah ada kelemahan nya pula.
Dan kembali pada ide-ide gila saya tadi. Dari cerita cintanometer itu, saya jadi berpikir, alangkah tidak bersyukurnya kita selaku makhluk yang diciptakan dengan kemuliaannya, dengan segudang akalnya. Masih saja terus merasa kekurangan.

Bisa saya bayangkan pula bila memang benar-benar ada alat pembaca pikiran atau yang lebih sederhana seperti yang saya bilang, pembaca suara hati yang bercerita *atau entahlah apa. Kemungkinan memang ada manfaatnya, namun perlu juga kita pertimbangkan resiko nya. Bisa jadi hal tersebut akan membuat kita menjadi lebih malas dan tidak mau berusaha. Sejatinya bila memang ada alat seperti itu, mungkin mulut ini, tangan ini, sudah tak mau tau akan pengaplikasian dari pikiran kita. Ah, maksud saya, bisa jadi saat kita ada ide, ada keluh kesah, ada ungkapan, ada komentar, ada tanggapan, pendapat atau lainnya, kita akan lebih memilih untuk merekam nya di alat tersebut, lalu biar saja urusan selanjutnya di urus oleh alat tersebut. Entah itu di convert menjadi audio, tulisan atau bahkan gambar, tentulah kita tidak akan terlalu peduli, dan mungkin bisa saja keahlian menulis kita, bercerita kita, berbicara, imajinasi, menggambar, dan keterampilan kita lainnya akan berkurang justru dengan adanya alat seperti ini.

Satu lagi juga untuk port USB dalam tubuh atau lebih spesifikasi nya berada di kepala. Mungkin saya terkesan errorHuman error atau apalah itu. Dan untuk ide yang satu ini, saya jadi khawatir termasuk hambaNya yang kurang bersyukur, na’udzubillah summa na’udzubillah. Kembali ke persoalan port pada tubuh. Kalau di pikir-pikir memang keren juga. Tapi, kita ini kan adalah makhluk. Makhluk yang memiliki pencipta. Tentulah pencipta kita itu Maha Tau. Dia pasti tau apa yang tidak kita tau, seperti pada firmanNya dalam QS. Al Baqoroh:30 mengenai dialogNya dengan malaikat terhadap penciptaan manusia (disitu disebutkan kholifah), dan telah Dia katakan bahwa, “... sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” jadi sudah jelas bukan apa yang Ia ciptakan pastilah mengandung suatu hikmah, makna, arti atau apa pun yang pastinya berguna.

Dan kalau memang di tubuh ini ada suatu port sebagai media transfer data dari memori otak ke komputer, bisa dibayangkan bagaimana suatu komponen biotik harus bersinggungan dengan material yang berbahan kimia tersebut. Ah, memang saya tak terlalu paham untuk hal ini. namun intinya, terima saja apa yang Ia berikan untuk kita. Dia Maha Tau, bahkan apa yang tidak kita ketahui. Dan dalam hal port ini, entah dengan kabel atau net kabel sekalipun yang menjadi media transfer data otak kita. Toh otak ini sangatlah besar kapasitasnya, tidak akan terlalu banyak memori yang akan terkuras bila tak di transfer, meski terserang virusmalware atau worm sekalipun *emangnya komputer. Dan kalau memang ingin di transfer, seperti ide awal saya, tentulah proses tranfering itu harus secara manual. Maksudnya, harus dengan usaha kita sendiri. Kalau memang ingin menuangkan apa yang ada di dalam pikiran, ya cobalah sejenak untuk menuangkannya melalui lisan atau tulisan. Dan untuk memori lainnya, seperti apa yang pernah kita baca, dengar, lihat, rasakan atau apa pun itu yang tersimpan dalam memori otak, alangkah lebih baiknya bila kita back-up dalam suatu catatan, tulisan..


Dan kesimpulan dari tulisan ini,
Dengan adanya teknologi, janganlah menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk bermalas-malas ria, merubah ciptaanNya, atau segudang penyalahgunaan lainnya, karena teknologi itu diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia, bukan untuk pengambil alih apa yang selama ini atau apa yang telah ada dalam diri dan kehidupan kita. Apa kita mau, saat teknolgi benar-benar maju, seperti di teve-teve yang menayangkan kisah robot atau lainnya yang diciptakan manusia tapi justru mengambil alih kehidupan dunia ini? (untuk ini  mungkin imajinasi saya terlalu tinggi :D) apa mau terus di perbudak oleh robot, yang bahkan di dunia kini telah memasuki dunia kerja yang berimbas tak terpakainya sumber daya manusia? Sepintar-pintarnya robot atau teknologi lainnya, tentu lebih berakal lagi si manusia nya.

Dan dengan teknologi pula, tolonglah jangan menjadikan apa-apa yang telah Ia ciptakan malah dirusak atau diubah-ubah tak tentu.

Untuk ke sekian kalinya, marilah kita syukuri segala nikmat ini, segala ciptaanNya, jangan terus mengeluh dan mencoba mengubah apa yang telah Ia buat. Manusia itu diciptakan untuk menjadi kholifah bukan? Mengatur sumber daya yang ada di bumi dan bukan malah merusaknya, terlebih dengan adanya teknologi. Marilah kita bijak menggunakan teknologi.

Dan terakhir, inilah salah satu ayat favorit saya, “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakan yang hendak engkau dustakan?” (QS. Ar Rahmaan)

#justmyopinion

&repost dari akun facebook saya hehee ==> https://www.facebook.com/kentilestari/notes

No comments:

Post a Comment