Malam ini udara mendingin, salju masih asyik turun dengan deras. Jalan-jalan mulai sepi. Di daerah ini, rumah-rumah memang hanya sedikit, itu pun dengan jarak saling berjauhan yang biasa dipisahkan oleh kebun, tanah lapang, atau ada juga yang dipisahkan oleh rumah kosong tiada berpenghuni. Seperti di hadapanku, adalah rumah yang cukup besar dengan penampilan yang sudah tua masih berdiri kokoh setelah ditinggal sekitar sepuluh tahun oleh penghuninya--ini menurut desas-desus yang kudengar, karena aku di tempat ini memang baru tiga hari.
Tapi yang aneh adalah, meski rumah itu kosong tiada berpenghuni, aku sering sekali melihat lampu di salah satu ruangan menyala. Lampu yang sepertinya ada di sebuah kamar atau ruang kerja di lantai dua, menghadap sisi kananku. Aku tidak mengerti siapa yang menyalakan lampu itu, bukankah tidak ada penghuninya? Oh, dan yang lebih membuatku bingung, bagaimana mungkin lampu itu masih tetap menyala setelah sepuluh tahun? Mustahil! Karena, kabarnya memang tidak ada sesorang yang mencoba mendatangi rumah itu hanya untuk mengganti bahkan menyalakan lampunya. Oh, tapi tentu saja, beberapa pencuri pernah mencoba membobol pintu dan jendela rumah itu, meski berakhir dengan kecewa. Hey, rumah itu anti-maling!
Krek ... krek ... prak!
Aku melirik ke sisi kiri. Oh ya, akhirnya tiba gilirannya. Sebuah ranting melepas dari dahan tempat aelama ini ia bertengger. Angin memang semakin kencang bertiup. Dingin sekali, dan ranting itu sudah waktunya untuk tutup usia.
"Aaahh ...."
Aku terkejut, melirik kesana-kemari. Ada suara, seperti suara manusia.
"Aaahh ...."
Aku menajamkan pendengaranku. Sepertinya... dari sisi rumah kosong itu. Aku terus mencuri dengar, namun justru suara itu menghilang. Tapi ... digantikan oleh langkah kaki. Entah siapa, entah darimana, aku tidak tahu. Sosoknya tidak ada!
"Aaaauuuuuuu ...."
Entah mengapa, untuk pertama kalinya aku mendengar suara auman serigala.
"Aaaaauuuuuuuu ...."
Aku merinding. Apa-apaan ini? Kucoba melirik ke arah arah sekitar, namun semuanya tenang dalam diam.
"Aaauuuuuuu ...."
Untuk ketiga kalinya suara auman itu terdengar, dari balik semak-semak di dekat rumah itu.
"Aaaahhh ...."
Suara itu lagi!
Dan, sesosok wanita tiba-tiba sudah berada di depan pintu rumah kosong itu. Berpakaian hitam-merah bergaya Lolita Gothic, ia membawa ... nampan! Entah berisi apa, yang kutahu nampan itu ditutupi selembar kain berwarna emas.
Dan, ia menatapku! Deg!
Wanita itu melangkahkan kakinya. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Begitu terus, sembari menatapku dalam wajah dingin dengan poni panjang yang menutupi setengah wajahnya. Oh ya, bagaimana aku tahu ia menatapku? Entah, itu hanya firasarku sebenarnya.
Tidak begitu jauh dari tempatku berdiri, wanita itu tersenyum, langkahnya membelok ke arah semak-semak yang memiliki suara auman tadi. Aku penasaran, bisa dibilang napasku mungkin menderu. Tapi aku tidak bisa apa-apa selain menonton, bahkan tidak dengan bersembunyi.
Wanita itu terus menuju semak-semak itu. Ditaruhnya nampan yang ia bawa ke dalam semak-semak. Sejenak dirinya membeku.
"Sshhh ...."
Aku mendengar suaranya. Lagi. Lalu, kakinya mundur dua langkah, ia tidak lagi membelakangiku, tapi bersisian. Dan aku bisa melihat matanya terpejam sembari ada gerakan komat-kamit di mulutnya. Lalu wajahnya diangkat ke atas, sebisa mungkin aku ikut mendongak, meski sulit, kutahu di sana bulan sempurna bersinar. Angin yang tadi menderu, salju yang menderas, kini semua tenang, dan malam sempurna hitam dengan bulan di tengah-tengahnya.
"Aauuuuu ...."
Lalu sosok itu seperti hendak muncul! Semak-semaknya bergoyang. Untuk kemudian ...
"CUT!"
"Okee ... semua break! Emma, penjiwaanmu bagus sekali! Caramu memandang lampu taman itu, aaah..." Seorang pria muncul sembari bertepuk tangan dan segera berbincang dengan orang lain.
Aku melirik ke arah lain. Astaga, ada banyak manusia. Mereka membawa beberapa alat untuk merekam. Ada apa ini? Apakah mereka tengah menjalani proses syuting? Lalu wanita itu? Ah ya, aku melihatnya sudah duduk di kursi yang segera disediakan seseorang. Poni panjangnya sudah tidak menutupi setengah wajahnya lagi, dan yang terpenting ... ternyata ia begitu cantik! Meski ya ... wajahnya tetap sedingin saat poninya masih menutupi.
Aku kembali memerhatikan sekeliling.
"Ini, kopimu, Bung!" Seorang pria lain menyerahkan satu gelas plastik kopi kepada orang bertopi yang dihampirinya, si pria pertama.
"Ya, terima kasih." Orang yang menerima kopi mengambil sekilas untuk kemudian kembali asyik berbincang dengan yang lain.
"Jadi, bisakah aku pulang sekarang?" Wanita itu ... ia mengatakan dengan wajah lelah sekaligus kesal kepada seseorang yang diberikan kopi tadi.
"Oh, tentu! Aku sudah menjanjikanmu bukan? Aktingmu sangat bagus! Aku yakin ini akan sangat menjual," senyum si pria itu terlihat puas sekali. Dan si wanita hanya mendengus.
"Baiklah, aku pamit!"
"Hey, bagaimana mungkin? Kau pulang sendiri? Oh yang benar saja, ini sudah tengah malam. Dan, seorang wanita? Pulang sendiri? Hey, Ru, cepat ambil kunci mobilku dan antar Nona kita pulang!" si pria itu merogoh kantung celananya dan melempar kunci. Seseorang bernama Ru yang tadi mengantar kopi, tangkas menangkap kunci itu.
"Ayo, Nona!"
"Ah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa sendiri. Aku hanya cukup berjalan sebentar untuk kemudian mencapai stasiun terdekat."
"Ah, mana mungkin kami membiarkanmu, Em?" Pria yang bernama Ru kembali mengajak.
"Ayo!"
"Tidak. Tidak. Oh baiklah, aku bisa memesan taksi. Terima kasih." Dan wanita yang bernama Emma itu segera berlalu meraih tas yang sudah diantarkan padanya.
"Hey, kau bahkan belum berganti baju!" Pria pertama meneriakinya kesal dan hanya dibalas lambayan tangan.
"Dasar wanita sok jual mahal!"
Pria bernama Ru melirik tajam ke arah pria di sampingnya itu. Segera ia alihkan menuju punggung Emma. Dan aku lihat secepat angin berembus, ia sudah melemparkan kunci si pria pertama dan berlari mengejar sang wanita.
Sedang pria bertopi itu hanya mennmggeleng-gelengkan kepalanya memungut kunci di atas salju. Kru yang lain asyik memberesi barang-barang.
Tapi ...
Semak-semak itu ...
Bukankah itu bagian dari pekerjaan mereka?
Mengapa ...
Mengapa semak-semak itu terus bergoyang-goyang, dan, sosok yang tadi sekilas aku lihat itu ...
Masih-ada-di-sana?
"Aaaauuuuuu ...."
---
1204-2016
Kenti Lestari-
#MalamNarasiOWOP
No comments:
Post a Comment