Hujan adalah salah satu hal menyenangkan untuknya. Saat orang-orang mendapati hujan turun, entah mengapa mereka begitu terburu-buru untuk membuka payung atau memakai mantel hujan. Menjauhkan sebisa mungkin diri dari tangisan langit itu.
Padahal baginya, hujan itu menyenangkan.
Ketimbang membuka payung lebar-lebar, ia lebih memilih melenggang bebas di bawah tetes demi tetes kehidupan itu. Bersikap seperti katak, melompat ke satu tempat untuk menuju tempat lain. Tak peduli dirinya basah oleh air langit. Tak peduli banyak pasang mata menatap heran. Ia terlanjur asyik mendongak dan menjulurkan kedua telapak tangannya agar dapat menyentuh tiap tetes hujan.
Hujan itu menyenangkan. Apalagi hujan gerimis. Begitu pikirnya.
Hujan, seperti sebuah kunci, hujan mampu membuka laci lama. Membiarkan bercecer kertas-kertas berjubel yang berisikan memori masa silam.
Hujan itu menyenangkan. Atasnya, terciptalah satuan perasaan. Terkadang rasa yang tercipta itu adalah kesedihan, terkadang pula segenap kebahagiaan. Hujan begitu apik dalam memunculkan mereka.
Pernah melihat seseorang memandang ke luar jendela entah jendela rumah atau kendaraan saat hujan?
Saat itulah, seluruh perasaan itu kembali terpanggil. Seperti ada alunan lagu klasik di sana
Dan hari ini,
Ini bukan lagi hujan di bulan Juni. Tapi ini hujan di bulan November. Hujan deras yang begitu dinantikan. Akhirnya kota ini kembali pada jati dirinya, Kota Hujan. Meski masih sangat awal.
Semoga bukan hanya di tempat ini, melainkan di sana. Hujan sebagai obat. Hujan sebagai manfaat.
---
011115,
dalam naungan Kota Hujan,
tempat di mana Si Penjulur Tangan ini dilahirkan dan dibesarkan.
Kelak bukan hanya hujan, namun serutan putih itu pun akan menyentuh kedua telapak tangannya. Dingin, itu pasti. Tapi itulah hidup.
Dan ini bukan tulisan apa-apa, hanya sebagai ucapan, "selamat kembali, Hujan!".
No comments:
Post a Comment