Pagi adalah kado terindah baginya. Ditemani kicauan burung, sahutan ayam, sinar mentari lembut, deru kendaraan yang baru dipanaskan, dan mungkin secangkir teh atau kopi yang dilengkapi kudapan.
Pagi adalah kado termanis baginya. Setidaknya dengan bersama pagi, ia bisa melarikan kepahitan malam.
Masih kentara sekali ekspresi wajahnya kala melihat jepret dua manusia itu, yang terpampang pada sebuah media sosial. Tubuhnya bergetar, wajahnya pias, hatinya cukup remuk.
Detik pertama ia terkejut, bingung.
Detik ketiga ia tertawa, bingung.
Detik kelima wajah sendunya muncul.
Dan entah di detik keberapa, air matanya menetes.
Ia bingung, "Hei hati, ada apa? Hei mata, mengapa kau menangis?" mencoba mengendalikan, mencoba menyangsikan.
Dan baginya kini, pagi memang selalu yang teristimewa. Setidaknya dengan pagi, waktunya terkuras habis dengan baik. Tak ada sepotong detikpun untuk mengingat kembali ekspresi malam itu. Tak ada lagi celah di antara detik yang bisa ia gunakan untuk merindukan kenangan yang tak sempat dilakukan.
Pagilah obatnya. Obat bagi malam yang sering menjadi momok yang menyeramkan kala sendiri.
Pagi adalah obatnya.
Akhirnya ia merasakan akibat dari keputusannya. Keputusan untuk jatuh, namun akhirnya hancur. Landasan untuk tempatnya hinggap tak selembut kapas. Lahan itu bahkan lebih terbuka menerima hinggapan lain. Hingga menyisakan ia yang sendiri bersama remah-remah kehancuran.
Tapi pagi, selalu menjadi obatnya.
Alasan agar ia selalu bersyukur, bahwa ia masih diizinkan menghirup pagi.
Jawaban bahwa, tak selamanya malam yang kelam menghantui.
Lecutan bahwa, masih ada banyak ratusan mimpi yang belum dicoret, maka dengan pagi, ia harus melangkah hebat. Berlari cepat. Menghindari sandungan masa lalu.
Dan mengacuhkan hati yang remuk.
Pagi membuatnya sadar, bahwa di atas segalanya, Sang Pemilik Pagi yang sekaligus Pemilik Hatilah yang menciptakan obat itu sendiri. Membuatnya sadar, bahwa kembali padaNya, bahwa hanya dengan mengingatNyalah, pagi bahkan malam bisa menjadi obat..
- 23 Oktober 2015, ditulis di dalam bangunan kehidupan, dimana pagi selalu tersenyum, menjadi cambuk, "Ayo bangun! Masih ada yang lebih penting untuk kau galaukan! Untuk kau tangisi! Serahkan saja urusan yang itu. Bila memang waktunya, semesta pun kan mendukung!" entah itu benar atau tidak, tapi pagi pulalah dalang yang membuatku menuliskan ini, yang hanyalah sebuah fiksi -
Selamat Pagi! Ayo menulis lagi! :)
dan, selamat milad kakakku!
Pagi adalah kado termanis baginya. Setidaknya dengan bersama pagi, ia bisa melarikan kepahitan malam.
Masih kentara sekali ekspresi wajahnya kala melihat jepret dua manusia itu, yang terpampang pada sebuah media sosial. Tubuhnya bergetar, wajahnya pias, hatinya cukup remuk.
Detik pertama ia terkejut, bingung.
Detik ketiga ia tertawa, bingung.
Detik kelima wajah sendunya muncul.
Dan entah di detik keberapa, air matanya menetes.
Ia bingung, "Hei hati, ada apa? Hei mata, mengapa kau menangis?" mencoba mengendalikan, mencoba menyangsikan.
Dan baginya kini, pagi memang selalu yang teristimewa. Setidaknya dengan pagi, waktunya terkuras habis dengan baik. Tak ada sepotong detikpun untuk mengingat kembali ekspresi malam itu. Tak ada lagi celah di antara detik yang bisa ia gunakan untuk merindukan kenangan yang tak sempat dilakukan.
Pagilah obatnya. Obat bagi malam yang sering menjadi momok yang menyeramkan kala sendiri.
Pagi adalah obatnya.
Akhirnya ia merasakan akibat dari keputusannya. Keputusan untuk jatuh, namun akhirnya hancur. Landasan untuk tempatnya hinggap tak selembut kapas. Lahan itu bahkan lebih terbuka menerima hinggapan lain. Hingga menyisakan ia yang sendiri bersama remah-remah kehancuran.
Tapi pagi, selalu menjadi obatnya.
Alasan agar ia selalu bersyukur, bahwa ia masih diizinkan menghirup pagi.
Jawaban bahwa, tak selamanya malam yang kelam menghantui.
Lecutan bahwa, masih ada banyak ratusan mimpi yang belum dicoret, maka dengan pagi, ia harus melangkah hebat. Berlari cepat. Menghindari sandungan masa lalu.
Dan mengacuhkan hati yang remuk.
Pagi membuatnya sadar, bahwa di atas segalanya, Sang Pemilik Pagi yang sekaligus Pemilik Hatilah yang menciptakan obat itu sendiri. Membuatnya sadar, bahwa kembali padaNya, bahwa hanya dengan mengingatNyalah, pagi bahkan malam bisa menjadi obat..
- 23 Oktober 2015, ditulis di dalam bangunan kehidupan, dimana pagi selalu tersenyum, menjadi cambuk, "Ayo bangun! Masih ada yang lebih penting untuk kau galaukan! Untuk kau tangisi! Serahkan saja urusan yang itu. Bila memang waktunya, semesta pun kan mendukung!" entah itu benar atau tidak, tapi pagi pulalah dalang yang membuatku menuliskan ini, yang hanyalah sebuah fiksi -
Selamat Pagi! Ayo menulis lagi! :)
dan, selamat milad kakakku!
No comments:
Post a Comment