Tuesday, February 10, 2015

Ia yang selalu datang

Malam kembali menampakkan wajahnya. Diiringi nyanyian jangkrik, cahaya rembulan dan kerlip bintang. Tak lupa, warna malam yang pekat menyelimuti suasana malam yang kelam. Ah ya, ditambah suara deru kereta yang siang-malam selalu hadir. Bergerak, berbunyi, melewati kediaman ini setiap beberapa menit sekali. Menyebalkan sekali rasanya mendengar tiap seruan galak si kereta, yang seakan-akan mengusir siapa saja yang ada di dekat jalur lintasnya. Dan aku, aku benar-benar membenci suara kasar seperti itu.

Seperti biasa, malam ku seperti malam-malam lainnya. Hanya ditemani komputer lipat sehari-harinya, dengan sebotol minuman, dan aku sudah cukup nyaman menyendiri di kamar. Terkadang aku pun diitemani buku-bukuku. Terkadang pula aku lebih memilih diam, merebahkan diri di atas kasur, dan mulai berimajinasi, mengingat masa lalu, atau mengkhayal masa depan, dan bayangan-bayangan lainnya. Aku.. entah mengapa merasa semua ini.. semua ini, amat terasa menyesakkan. Aku hanya berkutat pada diriku sendiri. Dan tak jarang ia datang. Ia yang datang dengan bayangan menakutkan yang menyesakkan, dan yang datang dengan bayangan menyenangkan.

“Kau, ya kau! Apa yang kau lakukan? Hanya seperti inikah caramu menghabiskan waktu? Sungguh memalukan!” dia datang dan mulai memarahiku

“Apa? Kenapa? Memangnya apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku memalukan?” aku menjawab kesal

“Tidakkah kau sadari? Kau hanya akan menghabiskan waktumu dengan percuma! Kau mengambil keputusan yang buruk! Siapa peduli atas mimpimu?! Seharusnya kau melakukan apa yang dilakukan kawan-kawanmu itu!”

“Memangnya apa yang salah dengan mimpiku? Mengapa kau bilang aku akan membuang waktunku? Dan haruskah aku melalukan apa yang mereka lakukan?”

“Kau! Kau terlalu bermimpi! Apa kau pikir mimpi-mimpimu itu akan terwujud? Bahkan aku tak yakin kau akan berusaha mewujudkannya. Paling-paling kau hanya mampu bermimpi, mengkhayal dan mewujudkannya dengan setengah-setengah. Dan itu, hanya akan membuang waktumu!”
Aku terdiam, belum sempat menjawab, ia melanjutkan,

“Dan, ya seperti yang aku katakan, seharusnya kau melakukan apa yang kawan-kawanmu lakukan. Seharusnya kau memikirkan sejak awal, seharusnya kau memutuskan dengan baik. Seharusnya kau—“

“Apa lagi?! Mengapa kau terus menyalahiku? Apakah keputusan yang ku ambil memang buruk dan bahkan terburuk dari yang pernah ada? Sememalukan apa aku inii?!!”aku memotong, kasar dan setetes air jatuh dari sudut mataku

“Kau tidak memalukan. Ah iya, kau memang sedikit memalukan. Tapi selebihnya, kau amat menyedihkan”

Selepas mengatakan hal itu, a pun pergi tanpa pamit, menghilang.

Aku mulai terisak dan makin banyak mengeluarkan air mata. Dan suara yang lain datang. Dengan lembutnya ia berkata

“Kau tidak perlu bersedih dan menangis seperti itu. Ia memang begitu dan akan selalu begitu. Dan aku rasa, ia akan datang lagi dan mengatakan seperti yang tadi ia katakan. Jadi, sebaiknya kau bersiap-siap. Sabarlah..”

“Tapi.. apa aku memang semenyedihkan itu? Apa aku ini memang memalukan? Apa yang salah dariku? Ah ya, mungkin memang aku selalu salah” aku mengusap sisa air mataku di pipi, dan memandang ke luar jendela yang gordennya setengah terbuka

“Kau tidak menyedihkan. Kau tidak memalukan. Dan kau pun tidak salah apalagi selalu salah. Kau--” ia menenangkan


“Lalu apa?”

“Dengarkan aku. dengarkan baik-baik. Ah kau ini memang ahli menginterupsi.”
Ia menarik napas, dan melanjutkan,

“Kau hanya, kau hanya perlu tahu, bahwa saat ini kau memang sudah sewajarnya berada di posisi seperti ini. Kau sudah sepantasnya mengalami apa yang saat ini kau alami. Selalu ada mereka yang mengusik pikiranmu, menjatuhkanmu, memandangmu dengan sebelah mata. Namun kau harus ingat, bahwa ada juga mereka yang selalu menenangkanmu, mendorongmu, dan berusaha melakukan yang terbaik untukmu, bahkan menghargai dirimu lebih dari kau menghargai diri sendiri”

“Apa maksudmu?”

“Ah kau! Pikirkan baik-baik kalimatku tadi, dan carilah jawabannya sendiri. Aku pergi” dan ia menghilang, seperti yang sebelumnya

“Hey! Kemana? Kemana dia? Ah apa maksudnya?”

kau hanya perlu tahu, bahwa saat ini kau memang sudah sewajarnya berada di posisi seperti ini.” Kalimatnya tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku.

Rasa-rasanya malam semakin larut. Aku lirik jam dinding, dan ia menunjukkanku bahwa saat ini sudah hampir tengah malam. Aku bergegas tidur setelah menutup gorden dan mematikan lampu.

***

Perlahan aku membuka mata. Aku yang tak mengenakan selimut hijauku, merasa udara terus mengusik ketenteraman dalam tidur. Setelah mengumpulkan jiwa yang mungkin melayang-layang saat aku tidur, aku menyadari udara dingin itu berasal dari jendela kamar yang terkuak setengahnya. Ah ya, aku memang selalu meminta tolong ibuku untuk membukakan jendela saat pagi tiba. Dan aku akan terbangun dengan cara seperti itu.

Sayangnya, tak banyak kegiatan menarik yang bisa aku lakukan sepanjang hari. Aku hanya melakukan apa yang menjadi kewajibanku, rutinitas harian, dan tetap berada di kamar di sisa hari. Aku jarang bepergian. Karena, untuk apa? Tak ada keperluan, dan kalau harus bertemu dengan kawan-kawanku, mereka terlalu sibuk untuk bertemu dengan seorang tanpa pekerjaan seperti aku ini. Dan aku lebih memilih diam, berdiam diri di rumah, melakukan apa yang bisa aku lakukan, dan mengurangi intensitas komunikasiku dengan mereka, kawan-kawanku. Meski itu menyakitkan dan menyesakkan, namun aku tetap melakukannya.

Dan malamnya.. ia, yang suara lembut itu kembali hadir.

“Hai, apa kabar? Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?” ia menyapa dengan ramah

“Ya, seperti yang kau lihat ini, aku melakukan apa yang menjadi rutinitasku, dan ini saatnya aku menghabiskan sisa hari, dengan membaca, dan ternyata kau datang. Apa kabarmu?”

“Ah, kabarku? kau pasti bergurau! Kau kan tahu, kalau kau baik, aku pasti baik. Eh, tidak! Justeru kalau aku baik maka kau akan baik”

“Ya ya, tapi untuk apa kau datang? Kau tidak akan mengangguku seperti dia kaan?”

“Dia? Ah, tentu tidak. Aku akan menemanimu, membuatmu nyaman” ia tersenyum, aku pun begitu dan melanjutkan membaca.

Setelah aku selesai membaca, aku tak merasakan kehadirannya lagi, aku agak murung dan sedih. Jam dinding kamar menunjuk angka sepuluh. Aku belum mau tidur dan bosan membaca, alhasil aku diam melamun.

“Kau,”

“Eh?” aku tersentak

“Kau bosan kan?”

“Eh apa maksudmu?”

“Sudah kuduga kau pasti bosan. Ya, kau akan bosan dengan segala rutinitasmu itu. Rutinitas yang hanya itu-itu saja. Seharusnya kau mencermati kalimatku. Seharusnya kau melakukan apa yang kawan-kawanmu lakukan. Yang itu atau yang satunya lagi, atau bahkan yang lain yang lebih baik. Ah, tapi aku rasa, kau terlalu malas, terlalu bodoh, manja, bahkan takut untuk menghadapi itu kaan? Apalagi yang ketiga yang kuucapkan”

“Aku tidak mengerti maksudmu” aku bingung dengan kalimatnya

“Kau bukannya tidak mengerti, melainkan kau tidak mau mencoba untuk mengerti. Bukankah kau bosan? Bukankah kau sendiri pun merasa tersiksa akan semua ini? Kau ingin melakukan salah satu bahkan sekaligus dari apa yang aku katakan kaan? namun sayangnya kau tak cukup punya keberanian untuk itu. Sayangnya mentalmu amat lemah. Kau benar-benar menyedihkan!”

“Oh ya ampun, kalau kau hadir hanya untuk mengusik dan menggangguku, maka sebaiknya kau lekas pergi! Aku tidak suka kau!”

“Kau naif sekali rupanya, semua orang ku pikir benar-benar tidak menyukai aku. aku adalah kebenaran yang pahit. Tapi, bukankah yang aku katakan tadi adalah benar adanya? Ya kan? Kau hanya tidak mau keluar dari zona nyamanmu itu. Kau merasa, seakan-akan hanya akan ada kepahitan bila kau melakukannya. Bahkan mimpi-mimpimu itu, aku rasa akan mendatangkan lebih banyak kepahitan lebih dari yang kau kira”

Aku terdiam, merenung.

“Kau, apa kau pikir bila kau terus bergelut dengan mimpi-mimpimu itu, maka kau akan benar-benar mendapatkannya? Tolonglah lebih realitas, pikirkan keadaan yang lain, pikirkan tidak hanya dirimu! Mereka, ya mereka, dua orang yang kau cintai itu, apa kau tidak berpikir atas mereka? Mereka berharap kau lebih kan? Mereka berharap kau akan melakukan apa yang seharusnya kau lakukan kan? Meski mereka tak bergantung padamu, tapi seharusnya kau lebih mengerti dan membalas mereka”

“Kau, kau ini sebenarnya, argh, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku merasa apa yang aku lakukan sudah sebaik-baik pikiranku, aku, aku tidak benar-benar merasa merugikan mereka” kataku sambil mengarah pada foto di meja kamarku, foto dua orang paruh baya yang senyumnya memotivasiku.

Ia menarik napas panjang.

“Meski ku rasa untuk saat ini, ini terasa sudah terlambat, tapi aku harus mengatakannya lagi”
Ia menarik napas lagi, pendek saja.

“Seharusnya sejak awal kau lebih memikirkan persoalan ini, seharusnya kau lebih berpandangan jauh ke depan, kau, seharusnya memutuskan dengan sebaik-baiknya agar tak sepeti ini. Dan, saat kau sudah memikirkan dan memutuskan yang terbaik, seharusnya kau mengusahakan yang terbaik pula. Kau ingat kaan, sekeras apapun kau mencoba terlihat baik-baik saja, tapi nyatanya kau tetap putus asa, sakit, kecewa, dan terpuruk?!”

“Kau mungkin merasa kau sudah melakukan yang terbaik dan  merasa tidak benar-benar membuat mereka kecewa, tapi kau tak tahu yang sesungguhnya mereka rasa kaan? cobalah kau pandangi wajah mereka, selami pandangan mereka. Meski mereka tak mengatakannya langsung, itu bukan berarti mereka tak berharap atas kau. Dan apa yang harus kau lakukan? Katakan, dan lakukanlah! Kalau kau menginginkan apa yang kau inginkan, katakan pada mereka, namun aku rasa, akan lebih baik bila kau melakukan seperti yang kawan-kawanmu lakukan, berusaha yang terbaik atas pencarian hal itu. Itu akan lebih menyenangkan bukaan?”

“Tapi,..ya, aku merasa aku tak sanggup untuk itu. Untuk mengatakan apa yang aku ingin, pun untuk mencoba melakukan apa yang kawan-kawanku lakukan. Sejujurnya, sejujurnya aku teramat ingin seperti kawan yang lain. Aku ingin seperti mereka. Bisa bergelut dengan ilmu di bidang yang mereka sukai. Setiap hari pergi dengan membawa tas penuh buku. Bertemu kawan baru, pengalaman baru. Amat menyenangkan rasanya. Ingin sekali aku seperti mereka.aku juga ingin seperti kawan yang kau bilang tadi. Berusaha keras mencari, berlelah-lelah, mendapat uang.ya, ingin sekali aku seperti itu.”
Aku mulai terisak.

“Aku, aku, tapi entah mengapa aku tak mendapatkan dan melakukan itu. Aku tahu, sejak awal mungkin aku tak mengusahakan yang terbaik. Aku bingung atas posisiku. Aku tidak belajar dengan baik, juga tidak mencari informasi dengan baik. Dan kini, aku hanya bisa terdiam dalam keirianku. Iri atas kawan-kawan yang menceritaka hal-hal baru bagi mereka. Ilmu, pengalaman, kawan, rasa lelah. Aku iri, aku benar-benar iri, bahkan aku iri atas segala kesulitan yang mereka alami di bidang mereka masing-masing. Sedangkan aku? aku hanya bisa diam mendengarkan, emncoba tersenyum namun pahit rasanya. Aku tak punya cerita untuk aku ceritakan. Dan kalaupun ada, aku tak tahu apa mereka mau mendengarkan.”

Aku tahu, mungkin aku memang teramat menyusahkan. Aku memalukan dan menyedihkan. Kini aku punya mimpi yang ingin aku raih. Entah apa mimpi itu benar-benar terwujud atau tidak. Entah apa mimpi itu akan didukung. Entah mimpi itu pun apa aku akan sanggup menggapai dan menanggung rasa di akhirnya nanti. Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi salahkah aku saat aku bermimpi seperti itu? Salahkah aku saat aku membuang semuanya? Salahkah aku? meski bahkan amat menyakitkan setiap kali aku mencoba menghibur diri”

Aku terus terisak, dan perlahan ia menghilang.

“Hei! Kemana kau? Setelah apa yang kau katakan, kemana kau?” aku berteriak mencarinya

“Tenang.. ada aku di sini, bukankah kau tak menyukainya?” ia (yang lain) datang

“Kau.. kemana saja kau? Kenapa kau tidak selalu ada? Aku hampir mati karena dia. Aku, aku bahkan amat takut setiap kali ia datang. Ia terkadang menjadi pikiran yang buruk, tapi meski begitu, aku merasa ia ada benarnya”

“Maafkan aku yang tak selalu bisa di sisimu. Sebenarnya aku selalu ada, namun sayangnya dirimulah yang membuat ia lebih dulu ada. Sebenarnya, kau sendiri yang menghadirkan ia, dan bahkan mengasingkanku” ia berkata dengan senyuman manisnya

“Maksudmu? Bagaimana mungkin aku yang membencinya, tapi aku pula yang menghadirkannya?”

“Ya, dengarkan aku baik-baik. Kau, aku, dan dia adalah satu. Saat kau bosan, saat kau sedih, saat kau hanya bisa diam dan melamun, sebenarnya itu karena kau telah menciptakannya. Dan saat kau ceria, bahagia, optimis, maka saat itulah aku yang telah tercipta. Kau mengerti maksudku?”
Aku menggeleng, masih belum paham. Dan ia kembali tersenyum.

“Bukan saat kau sedih, maka ia akan hadir. Bukan saat kau senang maka aku akan hadir. Justeru sebaliknya. Kau tak boleh terus-terusan menghadirkannya, maka saat itu aku yang akan lenyap.dan saat itu terjadi, kau akan merasa sedih, bosan, kecewa, terpuruk dan sebagainya. Meski apa yang dikatakannya terkadang benar, namun saat kau benar-benar menghadirkannya, ia justeru akan membuatmu terpuruk.”

“Perlu kau tahu. Terkadang, ia memang harus hadir, tapi sebagai kebenaran meski pahit, bukan sebagai pikiran yang buruk. Dan aku, saat kau terus menerus menghadirkanku, itu sebenarnya baik untuk perkembanganmu, hanya saja, aku mungkin akan selalu dihadang olehnya, namun saat kau berusaha keras menghadirkanku, aku akan selalu ada, bahkan mengusirnya” ia kembali tersenyum

“Aku, aku sedikit mengerti. Tapi, diantara kalian, siapa yang harus aku lebih percaya?”

“Mungkin aku. Tapi aku sudah bilang, terkadang ia memang harus hadir, tapi sebagai kebenaran meski pahit, dan itu tentu atas campur tangan diriku juga. Tapi saat perlahan ia justeru membuatmu terpuruk, kau harus lekas-lekas mengusirnya dengan menghadirkanku. Terkadang, mungkin aku hanya memberikanmu angin-angin surga. Hanya sekedar memotivasi. Mungkin aku terlalu banyak bicara soal semangat, cita-cita, usaha yang keras, dan sebagainya. Terkadang saat aku hadir, ia akan mengusikku dan mulai mengatakan padamu tentang realitas, mencoba menjadikanmu pesimis dengan menunjukkan kelemahanmu, keadaanmu, dan sebagainya. Aku rasa memang ada baiknya ia melakukan itu, tapi tentu dengan catatan ada batasnya, dan semata-mata untuk menjadikanmu semakin sadar siapa dirimu, dan menjadikan semakin semangat untuk memerbaiki diri, bukan sebaliknya, terpuruk penuh kecewa. Dan, ah ya, aku juga seharusnya ada batasnya, karena jika aku hanya sekedar memberikan pencerahan untukmu namun tanpa tindakan yang nyata, maka tetap saja itu omong kosong. Maka, akan sangat baik bagimu untuk menggabungkan aku dengannya. Menjadi seorang yang optimis, tetap melihat realita, penuh mimpi dan mengusahakan yang terbaik. Bukan hanya jatuh terpuruk, atau sekedar mengkhayal. Sama sekali bukan seperti itu” jelasnya panjang lebar

“Ya, aku mengerti, terima kasih telah menenangkanku. Lalu, kini aku harus apa?”

“Kau tahu apa yang seharusnya kau lakukan.seperti yang ia katakan tadi. Kau punya beberapa pilihan.pilihan yang satu itu tentu kau tak dapat menggapainya saat ini, tapi selalu ada hari esok bukaan? Selalu ada tahun esok yang sedari kini kau persiapkan bukan?”

Aku mengangguk

 “Ya, kalau memang itu menjadi fokus utamamu, lakukanlah yang terbaik. Tak apa-apabila nanti kau menemui si gagal, tapi atas prosesmu itu, atas usahamu yang keras dan baik itu, kau selalu percaya akan ada ganti yang lebih baik bukaan?”

Aku kembali mengangguk disertai senyuman

“Dan untuk saat ini, kalau memang kau reeah, sebaiknya kau meminta pendapat yang lain—“

“Aku sudah, tapi ya seperti itu jawab mereka”

Ia kembli tersenyum, “seperti kemarin-kemarin, kau selalu saja memotong, untung saja saat ini aku lebih sabar” aku tertawa mendengarnya

“Maaf, maaf, aku minta maaf, lanjutkan’

“Ya, tapi kau kan belum meminta pendapat dan persetujuan mereka” ia melirik foto di mejaku

“Bicaralah pada mereka. Mintalah persetujuan, tapi mungkin kau memang harus tetap mencari, mecari apa yang mereka mau. Lakukan yang terbaik meski tidak lama, dan teruslah fokus atas mimpi-mimpimu, meski terlihat masih lama, tapi sebenarnya waktumu tinggal sedikit. Lakukanlah yang terbaik, untuk dirimu, untuk orang-orang di sekitarmu.”

Aku termenung atas ucapannya

“Emm. Tapi—“ baru saja aku akan bertanya lagi, tapi ia menghilang, hanya suaranya yang tertinggal

“Aku menghilang tapi bukan berarti aku pergi, aku berjanji akan selalu ada saat kau terus menghadirkanku. Teruslah jadikan aku sahabatmu, maka perlahan kau akan menemukan yang terbaik atas permasalahanmu, aku, aku adalah pikiran yang baik, aku adalah hatimu”
Aku tersenyum, “ya, aku janji akan selalu menghadirkanmu, bersama-sama kita melawan sekutunya, melawan si pikiran yang buruk itu, melawan si logika yang kelewatan, kita akan melawannya bersama-sama. Meski aku tetap harus percaya apa yang ia katakan bila itu benar, dan aku tetap harus menghadirkanmu agar tidak terpuruk atas kalimatnya. Terima kasih, terima kasih telah membantuku mengusir pencuri di rumahku sendiri”

Aku kembali tersenyum, mematikan lampu, dan tidur. Esok pasti lebih baik.


*** 

Bogor, 11 Nopember 2014

No comments:

Post a Comment