Malam kembali
menampakkan wajahnya. Diiringi nyanyian jangkrik, cahaya rembulan dan kerlip
bintang. Tak lupa, warna malam yang pekat menyelimuti suasana malam yang kelam.
Ah ya, ditambah suara deru kereta yang siang-malam selalu hadir. Bergerak,
berbunyi, melewati kediaman ini setiap beberapa menit sekali. Menyebalkan
sekali rasanya mendengar tiap seruan galak si kereta, yang seakan-akan mengusir
siapa saja yang ada di dekat jalur lintasnya. Dan aku, aku benar-benar membenci
suara kasar seperti itu.
Seperti biasa,
malam ku seperti malam-malam lainnya. Hanya ditemani komputer lipat
sehari-harinya, dengan sebotol minuman, dan aku sudah cukup nyaman menyendiri
di kamar. Terkadang aku pun diitemani buku-bukuku. Terkadang pula aku lebih
memilih diam, merebahkan diri di atas kasur, dan mulai berimajinasi, mengingat
masa lalu, atau mengkhayal masa depan, dan bayangan-bayangan lainnya. Aku..
entah mengapa merasa semua ini.. semua ini, amat terasa menyesakkan. Aku hanya
berkutat pada diriku sendiri. Dan tak jarang ia datang. Ia yang datang dengan
bayangan menakutkan yang menyesakkan, dan yang datang dengan bayangan menyenangkan.
“Kau, ya kau!
Apa yang kau lakukan? Hanya seperti inikah caramu menghabiskan waktu? Sungguh
memalukan!” dia datang dan mulai memarahiku
“Apa? Kenapa?
Memangnya apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku memalukan?” aku menjawab kesal
“Tidakkah kau
sadari? Kau hanya akan menghabiskan waktumu dengan percuma! Kau mengambil
keputusan yang buruk! Siapa peduli atas mimpimu?! Seharusnya kau melakukan apa
yang dilakukan kawan-kawanmu itu!”
“Memangnya apa
yang salah dengan mimpiku? Mengapa kau bilang aku akan membuang waktunku? Dan
haruskah aku melalukan apa yang mereka lakukan?”
“Kau! Kau terlalu
bermimpi! Apa kau pikir mimpi-mimpimu itu akan terwujud? Bahkan aku tak yakin
kau akan berusaha mewujudkannya. Paling-paling kau hanya mampu bermimpi,
mengkhayal dan mewujudkannya dengan setengah-setengah. Dan itu, hanya akan
membuang waktumu!”
Aku terdiam,
belum sempat menjawab, ia melanjutkan,
“Dan, ya seperti
yang aku katakan, seharusnya kau melakukan apa yang kawan-kawanmu lakukan.
Seharusnya kau memikirkan sejak awal, seharusnya kau memutuskan dengan baik.
Seharusnya kau—“
“Apa lagi?!
Mengapa kau terus menyalahiku? Apakah keputusan yang ku ambil memang buruk dan
bahkan terburuk dari yang pernah ada? Sememalukan apa aku inii?!!”aku memotong,
kasar dan setetes air jatuh dari sudut mataku
“Kau tidak
memalukan. Ah iya, kau memang sedikit memalukan. Tapi selebihnya, kau amat
menyedihkan”
Selepas
mengatakan hal itu, a pun pergi tanpa pamit, menghilang.
Aku mulai
terisak dan makin banyak mengeluarkan air mata. Dan suara yang lain datang. Dengan lembutnya ia berkata
“Kau tidak perlu
bersedih dan menangis seperti itu. Ia memang begitu dan akan selalu begitu. Dan
aku rasa, ia akan datang lagi dan mengatakan seperti yang tadi ia katakan.
Jadi, sebaiknya kau bersiap-siap. Sabarlah..”
“Tapi.. apa aku
memang semenyedihkan itu? Apa aku ini memang memalukan? Apa yang salah dariku?
Ah ya, mungkin memang aku selalu salah” aku mengusap sisa air mataku di pipi,
dan memandang ke luar jendela yang gordennya setengah terbuka
“Kau tidak
menyedihkan. Kau tidak memalukan. Dan kau pun tidak salah apalagi selalu salah.
Kau--” ia menenangkan
“Lalu apa?”
“Dengarkan aku.
dengarkan baik-baik. Ah kau ini memang ahli menginterupsi.”
Ia menarik
napas, dan melanjutkan,
“Kau hanya, kau
hanya perlu tahu, bahwa saat ini kau memang sudah sewajarnya berada di posisi
seperti ini. Kau sudah sepantasnya mengalami apa yang saat ini kau alami.
Selalu ada mereka yang mengusik pikiranmu, menjatuhkanmu, memandangmu dengan
sebelah mata. Namun kau harus ingat, bahwa ada juga mereka yang selalu
menenangkanmu, mendorongmu, dan berusaha melakukan yang terbaik untukmu, bahkan
menghargai dirimu lebih dari kau menghargai diri sendiri”
“Apa maksudmu?”
“Ah kau!
Pikirkan baik-baik kalimatku tadi, dan carilah jawabannya sendiri. Aku pergi”
dan ia menghilang, seperti yang sebelumnya
“Hey! Kemana?
Kemana dia? Ah apa maksudnya?”
“kau hanya perlu tahu, bahwa saat ini kau
memang sudah sewajarnya berada di posisi seperti ini.” Kalimatnya tadi
terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Rasa-rasanya
malam semakin larut. Aku lirik jam dinding, dan ia menunjukkanku bahwa saat ini
sudah hampir tengah malam. Aku bergegas tidur setelah menutup gorden dan
mematikan lampu.
***
Perlahan aku
membuka mata. Aku yang tak mengenakan selimut hijauku, merasa udara terus mengusik
ketenteraman dalam tidur. Setelah mengumpulkan jiwa yang mungkin
melayang-layang saat aku tidur, aku menyadari udara dingin itu berasal dari
jendela kamar yang terkuak setengahnya. Ah ya, aku memang selalu meminta tolong
ibuku untuk membukakan jendela saat pagi tiba. Dan aku akan terbangun dengan
cara seperti itu.
Sayangnya, tak
banyak kegiatan menarik yang bisa aku lakukan sepanjang hari. Aku hanya
melakukan apa yang menjadi kewajibanku, rutinitas harian, dan tetap berada di
kamar di sisa hari. Aku jarang bepergian. Karena, untuk apa? Tak ada keperluan,
dan kalau harus bertemu dengan kawan-kawanku, mereka terlalu sibuk untuk
bertemu dengan seorang tanpa pekerjaan seperti aku ini. Dan aku lebih memilih
diam, berdiam diri di rumah, melakukan apa yang bisa aku lakukan, dan
mengurangi intensitas komunikasiku dengan mereka, kawan-kawanku. Meski itu menyakitkan
dan menyesakkan, namun aku tetap melakukannya.
Dan malamnya.. ia, yang suara lembut itu kembali
hadir.
“Hai, apa kabar?
Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?” ia menyapa dengan ramah
“Ya, seperti
yang kau lihat ini, aku melakukan apa yang menjadi rutinitasku, dan ini saatnya
aku menghabiskan sisa hari, dengan membaca, dan ternyata kau datang. Apa
kabarmu?”
“Ah, kabarku?
kau pasti bergurau! Kau kan tahu, kalau kau baik, aku pasti baik. Eh, tidak!
Justeru kalau aku baik maka kau akan baik”
“Ya ya, tapi
untuk apa kau datang? Kau tidak akan mengangguku seperti dia kaan?”
“Dia? Ah, tentu
tidak. Aku akan menemanimu, membuatmu nyaman” ia tersenyum, aku pun begitu dan
melanjutkan membaca.
Setelah aku
selesai membaca, aku tak merasakan kehadirannya lagi, aku agak murung dan
sedih. Jam dinding kamar menunjuk angka sepuluh. Aku belum mau tidur dan bosan
membaca, alhasil aku diam melamun.
“Kau,”
“Eh?” aku
tersentak
“Kau bosan kan?”
“Eh apa
maksudmu?”
“Sudah kuduga
kau pasti bosan. Ya, kau akan bosan dengan segala rutinitasmu itu. Rutinitas yang
hanya itu-itu saja. Seharusnya kau mencermati kalimatku. Seharusnya kau
melakukan apa yang kawan-kawanmu lakukan. Yang itu atau yang satunya lagi, atau
bahkan yang lain yang lebih baik. Ah, tapi aku rasa, kau terlalu malas, terlalu
bodoh, manja, bahkan takut untuk menghadapi itu kaan? Apalagi yang ketiga yang
kuucapkan”
“Aku tidak
mengerti maksudmu” aku bingung dengan kalimatnya
“Kau bukannya
tidak mengerti, melainkan kau tidak mau mencoba untuk mengerti. Bukankah kau
bosan? Bukankah kau sendiri pun merasa tersiksa akan semua ini? Kau ingin
melakukan salah satu bahkan sekaligus dari apa yang aku katakan kaan? namun
sayangnya kau tak cukup punya keberanian untuk itu. Sayangnya mentalmu amat
lemah. Kau benar-benar menyedihkan!”
“Oh ya ampun,
kalau kau hadir hanya untuk mengusik dan menggangguku, maka sebaiknya kau lekas
pergi! Aku tidak suka kau!”
“Kau naif sekali
rupanya, semua orang ku pikir benar-benar tidak menyukai aku. aku adalah
kebenaran yang pahit. Tapi, bukankah yang aku katakan tadi adalah benar adanya?
Ya kan? Kau hanya tidak mau keluar dari zona nyamanmu itu. Kau merasa,
seakan-akan hanya akan ada kepahitan bila kau melakukannya. Bahkan
mimpi-mimpimu itu, aku rasa akan mendatangkan lebih banyak kepahitan lebih dari
yang kau kira”
Aku terdiam, merenung.
“Kau, apa kau
pikir bila kau terus bergelut dengan mimpi-mimpimu itu, maka kau akan
benar-benar mendapatkannya? Tolonglah lebih realitas, pikirkan keadaan yang
lain, pikirkan tidak hanya dirimu! Mereka, ya mereka, dua orang yang kau cintai
itu, apa kau tidak berpikir atas mereka? Mereka berharap kau lebih kan? Mereka
berharap kau akan melakukan apa yang seharusnya kau lakukan kan? Meski mereka
tak bergantung padamu, tapi seharusnya kau lebih mengerti dan membalas mereka”
“Kau, kau ini
sebenarnya, argh, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku merasa apa yang aku
lakukan sudah sebaik-baik pikiranku, aku, aku tidak benar-benar merasa
merugikan mereka” kataku sambil mengarah pada foto di meja kamarku, foto dua
orang paruh baya yang senyumnya memotivasiku.
Ia menarik napas
panjang.
“Meski ku rasa
untuk saat ini, ini terasa sudah terlambat, tapi aku harus mengatakannya lagi”
Ia menarik napas
lagi, pendek saja.
“Seharusnya
sejak awal kau lebih memikirkan persoalan ini, seharusnya kau lebih
berpandangan jauh ke depan, kau, seharusnya memutuskan dengan sebaik-baiknya
agar tak sepeti ini. Dan, saat kau sudah memikirkan dan memutuskan yang
terbaik, seharusnya kau mengusahakan yang terbaik pula. Kau ingat kaan, sekeras
apapun kau mencoba terlihat baik-baik saja, tapi nyatanya kau tetap putus asa,
sakit, kecewa, dan terpuruk?!”
“Kau mungkin
merasa kau sudah melakukan yang terbaik dan
merasa tidak benar-benar membuat mereka kecewa, tapi kau tak tahu yang
sesungguhnya mereka rasa kaan? cobalah kau pandangi wajah mereka, selami
pandangan mereka. Meski mereka tak mengatakannya langsung, itu bukan berarti
mereka tak berharap atas kau. Dan apa yang harus kau lakukan? Katakan, dan
lakukanlah! Kalau kau menginginkan apa yang kau inginkan, katakan pada mereka,
namun aku rasa, akan lebih baik bila kau melakukan seperti yang kawan-kawanmu
lakukan, berusaha yang terbaik atas pencarian hal itu. Itu akan lebih
menyenangkan bukaan?”
“Tapi,..ya, aku
merasa aku tak sanggup untuk itu. Untuk mengatakan apa yang aku ingin, pun
untuk mencoba melakukan apa yang kawan-kawanku lakukan. Sejujurnya, sejujurnya
aku teramat ingin seperti kawan yang lain. Aku ingin seperti mereka. Bisa
bergelut dengan ilmu di bidang yang mereka sukai. Setiap hari pergi dengan
membawa tas penuh buku. Bertemu kawan baru, pengalaman baru. Amat menyenangkan
rasanya. Ingin sekali aku seperti mereka.aku juga ingin seperti kawan yang kau
bilang tadi. Berusaha keras mencari, berlelah-lelah, mendapat uang.ya, ingin
sekali aku seperti itu.”
Aku mulai
terisak.
“Aku, aku, tapi
entah mengapa aku tak mendapatkan dan melakukan itu. Aku tahu, sejak awal
mungkin aku tak mengusahakan yang terbaik. Aku bingung atas posisiku. Aku tidak
belajar dengan baik, juga tidak mencari informasi dengan baik. Dan kini, aku
hanya bisa terdiam dalam keirianku. Iri atas kawan-kawan yang menceritaka
hal-hal baru bagi mereka. Ilmu, pengalaman, kawan, rasa lelah. Aku iri, aku
benar-benar iri, bahkan aku iri atas segala kesulitan yang mereka alami di
bidang mereka masing-masing. Sedangkan aku? aku hanya bisa diam mendengarkan,
emncoba tersenyum namun pahit rasanya. Aku tak punya cerita untuk aku
ceritakan. Dan kalaupun ada, aku tak tahu apa mereka mau mendengarkan.”
Aku tahu,
mungkin aku memang teramat menyusahkan. Aku memalukan dan menyedihkan. Kini aku
punya mimpi yang ingin aku raih. Entah apa mimpi itu benar-benar terwujud atau
tidak. Entah apa mimpi itu akan didukung. Entah mimpi itu pun apa aku akan
sanggup menggapai dan menanggung rasa di akhirnya nanti. Aku tidak tahu. Aku
benar-benar tidak tahu. Tapi salahkah aku saat aku bermimpi seperti itu?
Salahkah aku saat aku membuang semuanya? Salahkah aku? meski bahkan amat
menyakitkan setiap kali aku mencoba menghibur diri”
Aku terus
terisak, dan perlahan ia menghilang.
“Hei! Kemana
kau? Setelah apa yang kau katakan, kemana kau?” aku berteriak mencarinya
“Tenang.. ada aku
di sini, bukankah kau tak menyukainya?” ia (yang lain) datang
“Kau.. kemana
saja kau? Kenapa kau tidak selalu ada? Aku hampir mati karena dia. Aku, aku
bahkan amat takut setiap kali ia datang. Ia terkadang menjadi pikiran yang
buruk, tapi meski begitu, aku merasa ia ada benarnya”
“Maafkan aku
yang tak selalu bisa di sisimu. Sebenarnya aku selalu ada, namun sayangnya
dirimulah yang membuat ia lebih dulu ada. Sebenarnya, kau sendiri yang menghadirkan
ia, dan bahkan mengasingkanku” ia berkata dengan senyuman manisnya
“Maksudmu?
Bagaimana mungkin aku yang membencinya, tapi aku pula yang menghadirkannya?”
“Ya, dengarkan
aku baik-baik. Kau, aku, dan dia adalah satu. Saat kau bosan, saat kau sedih,
saat kau hanya bisa diam dan melamun, sebenarnya itu karena kau telah menciptakannya.
Dan saat kau ceria, bahagia, optimis, maka saat itulah aku yang telah tercipta.
Kau mengerti maksudku?”
Aku menggeleng,
masih belum paham. Dan ia kembali tersenyum.
“Bukan saat kau
sedih, maka ia akan hadir. Bukan saat kau senang maka aku akan hadir. Justeru
sebaliknya. Kau tak boleh terus-terusan menghadirkannya, maka saat itu aku yang
akan lenyap.dan saat itu terjadi, kau akan merasa sedih, bosan, kecewa,
terpuruk dan sebagainya. Meski apa yang dikatakannya terkadang benar, namun
saat kau benar-benar menghadirkannya, ia justeru akan membuatmu terpuruk.”
“Perlu kau tahu.
Terkadang, ia memang harus hadir, tapi sebagai kebenaran meski pahit, bukan
sebagai pikiran yang buruk. Dan aku, saat kau terus menerus menghadirkanku, itu
sebenarnya baik untuk perkembanganmu, hanya saja, aku mungkin akan selalu
dihadang olehnya, namun saat kau berusaha keras menghadirkanku, aku akan selalu
ada, bahkan mengusirnya” ia kembali tersenyum
“Aku, aku
sedikit mengerti. Tapi, diantara kalian, siapa yang harus aku lebih percaya?”
“Mungkin aku. Tapi aku sudah bilang, terkadang ia memang harus hadir, tapi sebagai
kebenaran meski pahit, dan itu tentu atas campur tangan diriku juga. Tapi saat
perlahan ia justeru membuatmu terpuruk, kau harus lekas-lekas mengusirnya
dengan menghadirkanku. Terkadang, mungkin aku hanya memberikanmu angin-angin
surga. Hanya sekedar memotivasi. Mungkin aku terlalu banyak bicara soal
semangat, cita-cita, usaha yang keras, dan sebagainya. Terkadang saat aku
hadir, ia akan mengusikku dan mulai mengatakan padamu tentang realitas, mencoba
menjadikanmu pesimis dengan menunjukkan kelemahanmu, keadaanmu, dan sebagainya.
Aku rasa memang ada baiknya ia melakukan itu, tapi tentu dengan catatan ada
batasnya, dan semata-mata untuk menjadikanmu semakin sadar siapa dirimu, dan
menjadikan semakin semangat untuk memerbaiki diri, bukan sebaliknya, terpuruk
penuh kecewa. Dan, ah ya, aku juga seharusnya ada batasnya, karena jika aku hanya
sekedar memberikan pencerahan untukmu namun tanpa tindakan yang nyata, maka
tetap saja itu omong kosong. Maka, akan sangat baik bagimu untuk menggabungkan
aku dengannya. Menjadi seorang yang optimis, tetap melihat realita, penuh mimpi
dan mengusahakan yang terbaik. Bukan hanya jatuh terpuruk, atau sekedar
mengkhayal. Sama sekali bukan seperti itu” jelasnya panjang lebar
“Ya, aku
mengerti, terima kasih telah menenangkanku. Lalu, kini aku harus apa?”
“Kau tahu apa
yang seharusnya kau lakukan.seperti yang ia katakan tadi. Kau punya beberapa
pilihan.pilihan yang satu itu tentu kau tak dapat menggapainya saat ini, tapi
selalu ada hari esok bukaan? Selalu ada tahun esok yang sedari kini kau
persiapkan bukan?”
Aku mengangguk
“Ya, kalau memang itu menjadi fokus utamamu,
lakukanlah yang terbaik. Tak apa-apabila nanti kau menemui si gagal, tapi atas
prosesmu itu, atas usahamu yang keras dan baik itu, kau selalu percaya akan ada
ganti yang lebih baik bukaan?”
Aku kembali
mengangguk disertai senyuman
“Dan untuk saat
ini, kalau memang kau reeah, sebaiknya kau meminta pendapat yang lain—“
“Aku sudah, tapi
ya seperti itu jawab mereka”
Ia kembli
tersenyum, “seperti kemarin-kemarin, kau selalu saja memotong, untung saja saat
ini aku lebih sabar” aku tertawa mendengarnya
“Maaf, maaf, aku
minta maaf, lanjutkan’
“Ya, tapi kau
kan belum meminta pendapat dan persetujuan mereka” ia melirik foto di mejaku
“Bicaralah pada
mereka. Mintalah persetujuan, tapi mungkin kau memang harus tetap mencari,
mecari apa yang mereka mau. Lakukan yang terbaik meski tidak lama, dan teruslah
fokus atas mimpi-mimpimu, meski terlihat masih lama, tapi sebenarnya waktumu
tinggal sedikit. Lakukanlah yang terbaik, untuk dirimu, untuk orang-orang di
sekitarmu.”
Aku termenung
atas ucapannya
“Emm. Tapi—“ baru
saja aku akan bertanya lagi, tapi ia menghilang, hanya suaranya yang tertinggal
“Aku menghilang tapi bukan berarti aku
pergi, aku berjanji akan selalu ada saat kau terus menghadirkanku. Teruslah jadikan
aku sahabatmu, maka perlahan kau akan menemukan yang terbaik atas
permasalahanmu, aku, aku adalah pikiran yang baik, aku adalah hatimu”
Aku tersenyum, “ya, aku janji akan selalu menghadirkanmu,
bersama-sama kita melawan sekutunya, melawan si pikiran yang buruk itu, melawan
si logika yang kelewatan, kita akan melawannya bersama-sama. Meski aku tetap
harus percaya apa yang ia katakan bila itu benar, dan aku tetap harus
menghadirkanmu agar tidak terpuruk atas kalimatnya. Terima kasih, terima kasih
telah membantuku mengusir pencuri di rumahku sendiri”
Aku kembali
tersenyum, mematikan lampu, dan tidur. Esok pasti lebih baik.
***
Bogor, 11
Nopember 2014
No comments:
Post a Comment