Saat hati harus kalah atau mungkin mengalah pada
logika,
Apakah itu dikatakan bukan komitmen?
Saat hati berkata, “tetap tinggal!” namun logika
terus berontak, “pindah!”
Apakah itu dikatakan bukan komitmen?
Saat teori dikhatam dengan baik,
Namun amat sulit untuk dipraktikan,
Apakah itu sebuah kewajaran atau omong kosong
belaka?
Ketika sulit menjelaskan,
Ketika yang terucap hanya untuk menyakiti,
Ketika diam pun terasa tak berarti.
Aku tahu aku memang salah,
Aku tahu aku memang berdosa,
Aku tahu aku teramat tak bersyukur,
Aku tahu mereka berharap,
Aku tahu semua itu.
Aku tahu aku harus menjelaskan,
Namun kalau ucapan yang terlontar hanya akan
terasa menyakitkan,
Lalu untuk apa aku berucap?
Namun diamku pun ternyata salah,
Mereka mulai berspekulasi,
Menduga ini dan itu,
Menganggap aku tak berguna, tak tahu diri,
Menganggap aku seperti pesakitan belaka.
Dan ketika semua itu terjadi,
Aku hanya bisa menangis dalam diamku.
Dan itu teramat menyakitkan dibanding tangisan
keras bersuara.
Aku,
Aku semakin merasa takut.
Aku pun merasa malu.
Tak sadarkah mereka apa yang kurasa?
Aku terlalu takut untuk menjelaskan,
Pun menjadi malu saat hanya bisa bungkam.
Apa yang mereka pikirkan tentang aku?
Sebegitu bodohnyakah aku dipandangan mereka?
Sepolosnyakah aku? Setidak bergunanyakah?
Aku tahu tak semestinya aku begini,
Aku tahu aku harus pandai menjelaskan,
Sekelu apapun lidah,
Aku harus mampu berucap,
Dengan penjelasan yang teramat baik.
Karena memang mereka tak tahu aku,
Karena memang mereka tak tahu apa yang aku
lakukan,
Karena memang aku tak pernah bercerita,
Jadilah mereka merangkai jalan kisah sendiri
tentangku.
Sebenarnya memang ini terlalu berlebihan untuk
terus dibicarakan,
Ini sebuah kasus yang tak terlalu dalam.
Meski begitu, aku tetap saja berlarut dalam kasus
ini,
Dan mereka, seakan-akan asyik sekali terus
menambah minyak ke dalam api yang membara.
Aku tak tahu kalau begini terus akan seperti apa
jadinya kelak,
Aku merasa seperti kekanakan.
Aku bahkan tak tahu semua mimpi yang telah terajut
apa memang bisa menjadi sepotong kain,
Aku tak tahu itu.
Tapi atas semua ini,
Atas semua yang kualami,
Aku ingin terus merajut mimpi itu,
Menjadi lembaran-lembaran kain yang berguna.
Aku selalu ingin menjadi lebih berguna.
Delapan belas tahun aku hidup dan aku merasa belum
benar-benar berguna.
Oh ibu, oh ayah, oh kakak,
Aku memanglah hanya seorang gadis remaja tak tahu
diri,
Tak banyak berbuat, pun tak banyak membantu.
Hari-hariku mungkin hanya berisi omong kosong
belaka,
Aku tak benar-benar melakukan semua ini dengan
baik,
Aku belum benar-benar bisa mewujudkan harapan itu
dengan baik.
Aku hanyalah seorang remaja yang tengah asyik pada
duniaku sendiri,
Entah melirik dunia yang sebenarnya, entah tidak.
Aku mungkin hanyalah seorang pembual yang terus menganggap semua baik-baik saja dan
asyik berfantasi.
Oh ibu, oh ayah, oh kakak..
Mungkin aku hanyalah seorang oknum dalam cerita
ini.
Aku hanyalah seorang yang membawa-bawa nama tanpa
merasa perlu untuk menjaga.
Oh ibu, oh ayah, oh kakak..
Aku memang seorang yang selalu merasa sok paham.
Nyatanya aku hanyalah seorang pemula dalam
kehidupan ini.
Entahlah aku akan jadi apa kelak.
Entahlah apa aku akan menjadi sesukses yang
kubayangkan.
Entahlah aku bisa membalas semua kekacauan ini
atau tidak.
Entahlah apa aku bisa sesuai mimpiku,
Memberikan hadiah terindah untuk keluargaku,
Terutama ayah dan ibuku,
Hadiah yang tidak terukir di dunia,
Hadiah yang bukan sembarang hadiah,
Melainkan hadiah yang terbuat dari cahaya,
Yang dengan ridho-Nya diukirkan dan dipasangkan pada
diri kalian.
Oh, entah apa aku bisa.
Oh ibu, oh ayah, oh kakak,
Maafkan aku yang selalu menyusahkan tanpa tahu
cara membalas,
Maafkan aku yang belum bisa berbuat banyak demi
keluarga ini,
Maafkan aku yang menghapuskan hak untuk bercerita dan
menjelaskan pada kalian,
Maafkan aku, maafkan aku.
Untuk saat ini aku memanglah hanya seonggok daging
berbalut kulit yang bernama,
Namun, do’akanlah selalu agar kelak tak hanya
sebatas itu.
Dukunglah aku, sayangilah, lindungilah,
Oh sungguh aku selalu berusaha bersyukur atas
semua ini,
Sungguh aku selalu berusaha menghargai kalian dan
setiap cerita.
Oh sungguh, tak sedetikpun aku ingin menjadi anak
nakal.
Oh sungguh, tunggulah hadiah dariku, tunggulah!
Tunggulah aku menjadi anak yang semanis harapan, tunggulah!
No comments:
Post a Comment