Wednesday, June 19, 2013

Rintihan Hati

Fabi ayyi ‘aalaa irobbi kumaa tukadzdzibaan.. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Ayat itu begitu syahdu, membuat siapa saja dengan penuh ketundukan pada Tuhannya akan menunduk dan menangis mendengarnya. Ya, nikmat Allah yang mana yang bisa kita dustakan? Semua nikmat ini, terasa begitu besar limpahannya, terasa selalu ada sebagai pemenuh kebutuhan hidup ini. Nikmat ini, semua ini, begitu tiada tara, begitu besar tak sanggup terbalaskan, kepada Dia, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Aku menangis membacanya, berkali-kali selalu ku lantunkan ayat ini karena memang ada berkali-kali dalam surat ini, surat yang membuktikan bahwa Dia Maha Pemberi segalanya, Ar-Rahmaan...

Inilah memang surat favorit ku diantara semua surat favoritku. Dengan segenap suaraku, entah merdu atau tidak, ku kerahkan kemampuan ilmu membaca Al Qur’an yang telah ku pelajari selama ini dan masih saat ini hingga nanti. Semoga dengan tajwid yang benar, ku lantunkan lagi ayat-ayatNya, ayat-ayat dengan segala keindahanNya, menggambarkan diriNya yang begitu indah.

Aku menangis lagi, tetesan demi tetesan lembut ini terus mengalir di pipiku, jatuh membasahi mukena biru langit yang ku pakai ini. Ku lihat jam, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Aku segera merapikan mukena yang ku pakai sholat ini, memasukkannya kedalam tas mukena berwarna senada dengan jinjingan kayu berwarna cokelat, kumasukkan mukena dan mushaf pribadiku ke dalam tas sekolah ku. Setelah semua siap, aku pun pamitan pada kedua orang tuaku yang amat ku sayangi.

“Wa’alaikumussalaam..” balas Ibuku melepas kepergianku

Sebuah angkot berwarna hijau menghampiriku, segera ku tunjuk khas orang-orang menghentikan angkutan ini. Segera ku memasukinya setelah memastikan bahwa tujuan angkot ini melewati sekolahku. Di dalam angkot, kembali ku buka buku yang ku pinjam kemarin di perpustakaan khusus buku islam bersama-saudari-saudariku. Sebuah buku bersampul merah muda dengan ketebalan cover nya sekitar 3 milimeter. Sebuah buku berjudul Fatimah Az-Zahra, buku berisikan kisah hidup seorang anak Nabi SAW yang begitu mirip dengan beliau. Entah itu dari kelembutan nya, diamnya, cara berjalannya, begitu khas dengan Rasulullah SAW. Suatu harta titipan Khadijah ra kepada Rasulullah dan menjadikan Fatimah sebagai dewi wanita di dunia ini.

Lembar demi lembar ku ku baca, terkadang aku berhenti untuk mencermati kalimat yang kurang ku pahami, ku lanjutkan lagi dan terkadang aku berhenti untuk bercermin pada diriku sendiri. “Aku, aku ingin seperti beliau, seperti Fatimah” gumamku dalam hati, “Dengan segala kelemah-lembutan nya layakknya Rasul, dengan segala ketabahannya menghadapi kerasnya hidup terutama orang-orang kafir yang memerangi ayahnya, dengan kesabarannya mengurus rumah, oh Fatimah, engkau adalah dewi dari semua wanita di dunia ini. Akhlakmu begitu menawan hati, parasmu elok, engkau begitu anggun dan lembut, sabar dan seorang yang ikhlas. Engkau adalah permata Rasul, orang yang begitu Beliau cintai. Begitu pantas dirimu mendapatkan seorang Ali yang yang juga berakhlak amat memikat Rasul. Subhaanallah, semoga kelak ku kan bisa seperti dirimu, wanita yang begitu dicintai langit. Dan semoga kelak kita kan bertemu, dalam naunganNya, di tempat terindahnya, aamiin...” lirihku merenung

Aku sadar, aku sangatlah jauh dari tipe wanita seperti Fatimah Az-Zahra. Rasanya aku ingin menangis bila merenungi ini. Aku dengan segala kehinaannya. Begitu jauh, jauh sejauh-jauhnya layaknya para shahabiyah. Aku yang masih begitu labil dan berkubang dalam kejahiliyahan. Aku sadar, tak seharusnya aku bersikap demikian, tak seharusnya akhlak ku buruk. Aku bertekad ingin berubah, berubah menjadi lebih baik lagi. Layaknya seorang muslimah sejati, dengan segala keanggunannya. Aku pun teringat kala ku tengah berbincang-bincang dengan saudari-saudari ku di base camp kami tercinta, musholla sekolah. Ya, kala itu kami membahas apa saja, hingga suatu ketika salah seorang diantara mereka berujar, “Emang sih, kalo di luar kamu tuh begitu, beda gitu. Pergaulannya” aku yang saat itu bersikap biasa saja, mengetahui hal ini memang agak menohok hati, namun aku tak merubah raut wajahku. Dengan malu ku sunggingkan senyumku. Awalnya aku biasa saja, sering kali aku mendengar kata-kata seperti itu, aku tetap biasa saja, hingga sore nya aku dan kawan-kawan ku itu pun pergi meminjam buku, dan ku dapatkan buku yang kini di genggaman ku. Aku tersadar, tak seharusnya aku seperti ini. tak seharusnya aku mendzolimi diriku sendiri, ya memang bukan orang lain, bukan kawan ku itu, namun akulah penyebab utama atas rasa sakit yang ku derita. Aku harus bisa memenuhi tugas Rasululluah, menyempurnakan akhlak, terutama akhlakku.

Aku tau, aku mungkin terlalu berbaur dengan lawan jenis, entah itu teman kelas atau di organisasi lain, dan aku sadar tak seharusnya aku seperti itu. Aku malu, maluu sekali. Aku juga malu, seringkali aku bersifat riya, sombong, bahkan tabarruj. Pikiranku pun pendek. Aku malu, maluu sekali. Apalagi, sebagai seorang kakak kelas, seharusnya aku mampu menjadi salah satu teladan yang baik. Dan aku pun malu, seringkali pula ku menyakiti teman-temanku, entah itu sepengetahuan ku atau pun tidak. Aku begitu malu rasanya, seringkali ku merasa paling unggul dibanding yang lain. Dan seringkali pula aku jarang bersyukur kepadaNya, aku malu, aku pun teringat lagi ayat itu, fabiayyi ‘aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan...

Yaa Rabb, betapa hambaMu ini begitu hina, begitu kecil dihadapanMu. Jika Engkau berkenan, maafkanlah, ampunilah segala kesalahan, dosa si hina ini ya Rabb.. aku malu, aku begitu rendah. Aku belum bisa menjadi seorang mujahidah layaknya Fatimah..

Yaa Rabb, betapa kasarnya sikapku selama ini. kepada kedua orang tuaku, kakakkku, kawan-kawanku. Betapa selama ini aku begitu tak berguna. Aku yang selalu menyusahkan dan menyulitkan orang, yang mungkin juga sering menyakiti hati orang—orang. Aku malu, aku takuut.. aku yang selama ini begitu biasa saja, begitu acuh terhadap nikmat dan perintahMu. Maaf yaa Rabb.. maaf.. aku yang selalu menunda terhadap apa yang harus aku lakukan...

Aku ingin berubah yaa Rabb.. aku ingin menjadi hambaMu yang senantiasa istiqomah dijalanMu, selalu berseru atas namaMu.. tak ingin lagi kuterus berkubang dalam kubangan maksiat, meski itu hanya sebesat biji dzarrah, tak ingin yaa Rabb tak ingiin.. Perkenankanlah, hambaMu ini selalu dalam bimbinganMu.. Aku ingin membahagiakan orangtuaku meski memang itu sulit, aku ingin senantiasa berlemah-lembut terhadap mereka, merawat mereka di hari-hari penantian mereka bertemu denganMu, namun perkenankanlah pula mereka untuk sehat selalu, panjang umurnya, selalu dalam lindunganMu. Insya Allah kelak ku kan ikhlas bila Engkau menjemput mereka, namun inginku lagi jemputlah mereka dalam keadaan baik yaa Rabb.. Dalam keadaan khusnul khotimah, dan buatkanlah mereka istana dari cahaya dan tempatkanlah mereka di tempat terindahMu kelak di sisiMu. Namun kini, ijinkanlah mereka untuk bersama denganku dulu, tak kan ku biarkan seekor nyamuk pun hinggap di kulit mereka. Mudahkanlah mereka selalu yaa Rabb.. Semoga aku mampu menjadi anak yang berbakti kepada Ibu-Bapakku, dan semoga kelak ku mampu menghadiahkan mereka dengan jubah dan mahkota dari cahaya itu, cahaya seorang anak shalih penghapal Al Qur’an. Bismillah yaa Rabb, ridhoilah niatku ini, dan bimbinglah aku untuk menjalankan niatku ini.. Aamiin..

Dan, ijinkanlah pula untukku senantiasa bersama saudari-saudari seperjuanganku, sepemahaman, saudari-saudari yang penuh inspirasi. Mereka yang membukakan mata hatiku bahwa, sebaik-baik persaudaraan memang karena atas dasar cinta kepadaMu yaa Mujiib.. Aah, sekali lagi semoga rasa cinta dalam ikatan ukhuwah ini kan terus melaju, dan biar nanti ku serahkan padaMu yaa Muhaymin, agar senantiasa Engkau pelihara dan akan Kau kembalikan lagi kepada kami, nanti, ditempat terindahMu, disisiMu, Syurga. Aamiin...
“Neng, neng”
“eh, iya bang, kenapa?”
“Turun di SMK kan?”
“eh iya bang”
“udah sampe ini”
Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, oh iya suda sampai, tak terasa aku melamun selama perjalanan. Ku tutup buku bersampul merah muda itu, segera ku merogoh uang kertas senilai dua ribu rupiah dan beranjak turun dari angkutan umum. Bismillahi tawakaltu alallah Laa Haulaa wa laa quwwata illa billahil alil adziim...



#Aku dedikasikan tulisan ini semata-mata teruntuk 4 bidadari yang saat ini masih hinggap di musholla kami tercinta, Asy Syifaa’.. Hanya sekedar fiktif belaka dengan menginspirasi sedikit dari sang penulis

No comments:

Post a Comment